Khazanah Budaya dari Desa Tanjung Mas Kabupaten Aceh Singkil

Dari sekian banyak khazanah budaya yang termasuk dalam kategori ODCB dan OPK, yang menarik perhatian saya ialah keberadaan makam keluarga Syeh Abdul Rauf as-Singkili


peta-partisipatif-tanjung-mas
Sumber gambar: akun Instagram @mdw_tanjung_mas

Tanggal 17 September 2021 lalu, saya kembali mengunjungi Kabupaten Aceh Singkil. Pada perjalanan kali ini, saya ditugasi oleh kantor untuk melakukan pendampingan dan verifikasi data Warisan Budaya Tak-Benda (WBTB) yang rencananya akan diusulkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Singkil tahun 2022.

Awalnya ini hanya sekadar bincang-bincang biasa, tetapi kemudian saya diajak oleh Bang Amrul Badri dan Bang Wanhar Lingga, Pegiat Budaya yang aktif memajukan kebudayaan di daerahnya untuk mengunjungi salah satu desa yang berada di Kecamatan Simpang Kanan. Desa Tanjung Mas namanya. Saya pikir, ya sudahlah. Toh, acara inti sudah selesai dan saya masih punya waktu untuk melihat sisi lain dari daerah ini.

Dengan sigap Bang Amrul mengambil motor yang terparkir tidak jauh dari lokasi kegiatan. Ia mempersilakan saya naik ke boncengan, lalu menyalakan mesin motornya. Sejurus kemudian, kami sudah berada di jalan lintas Rimo-Subulussalam. Selama di perjalanan saya merasa penasaran, karena rute yang kami tempuh belum pernah saya lalui sebelumnya. Di belakang kami, terlihat Bang Wanhar Lingga dan beberapa rekan mengikuti dengan sepeda motor. Ada Bang Jimmy Syahputra dari Kantor Bupati Aceh Singkil, dan Bang Maksum Malau dari Pepulungan Malau Singkil-Subulussalam (PMSS). Sepanjang jalan kami bercerita, namun Bang Amrul tetap tenang sembari menjaga keseimbangan di jalanan yang berkelok, naik turun, licin dan sempit.

Baca Juga: Melihat Suasana Sosial Masyarakat Aceh Timur di Langsa

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, kami pun tiba di Desa Tanjung Mas. Saya tahu karena sekilas membaca tulisan yang terpampang di sebuah plang. Bang Amrul terus melaju, dan rombongan kami tetap mengikuti dengan jarak yang cukup dekat. Saya perhatikan di sepanjang jalan, rumah-rumah milik masyarakat didominasi oleh rumah panggung. Ada yang besar, ada yang kecil. Tingginya pun berbeda-beda. Terlihat beberapa pasang mata memperhatikan kami dari kejauhan, dan tidak lama kemudian Bang Amrul pun menghentikan sepeda motornya di sebuah jembatan kecil. Beberapa sepeda motor sudah terparkir rapi, dan tidak jauh dari situ ada beberapa orang yang sepertinya sudah menunggu kedatangan kami.

Bang, kita sudah sampai,” kata Bang Amrul sebagai kode untuk meminta saya turun dari sepeda motor. Saya turun dari sepeda motor lalu menyalami mereka satu per satu, sementara Bang Amrul memarkirkan sepeda motornya. Bang Amrul pun menyapa dengan bahasa Singkil, lalu memperkenalkan saya kepada mereka. Ternyata mereka adalah warga desa Tanjung Mas, yang salah satu di antaranya adalah Pak Geuchik (Kepala Desa) yang bernama Bapak Sabirin Malau. Meskipun berwajah sangar, namun beliau orang yang sangat ramah dan bersahaja. Beliau mengajak rombongan kami untuk berkeliling desa, dan kami pun berbicara banyak sembari mengunjungi beberapa titik lokasi potensial yang ada di sana.

Desa Pemajuan Kebudayaan Kemendikbudristek

Setelah beberapa perbincangan dengan Pak Geuchik dan warga setempat, baru saya menyadari bahwa Desa Tanjung Mas ternyata merupakan salah satu desa yang menjadi bagian dari Program Pemajuan Kebudayaan Desa dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Program ini merupakan salah satu gawean Ditjenbud untuk menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan.

Baca Juga: Pariyem: Sosok Representasi Alam Pikiran Kebudayaan Jawa

Program ini mendorong desa untuk berkembang sesuai dengan ruh kebudayaannya dan mengasaskan pembangunan desa pada prinsip pemberdayaan masyarakat yang sifatnya partisipatif. Artinya, masyarakat dilibatkan dalam setiap proses pembangunan di desanya, mulai dari perencanaan, pengambilan keputusan, hingga pelaksanaan.

Tidak semua desa bisa ikut serta dalam program ini, karena terlebih dahulu ada proses survei dan penilaian yang ketat dari Pegiat Budaya di setiap daerah. Syarat utamanya, desa harus memiliki komitmen untuk mengikuti setiap proses yang dijalani selama enam bulan secara intens, mulai dari; temu kenali potensi, pengembangan, dan pemanfaatan. Pegiat Budaya menyampaikan kekurangan dan kelebihan dari program ini, dan menanyakan kesanggupan desa. Jika desa menyatakan belum sanggup, maka tidak diikutsertakan dari awal.

Proses survei dan penilaian awal ini menjadi proses yang sangat penting dan perlu ditekankan berulang kali pada semua pihak, bahwa program ini bukan merupakan bantuan pemerintah melainkan stimulus agar membiasakan desa menyisihkan sebagian anggaran untuk pemajuan kebudayaan setelah program ini berakhir. Karena jika sampai ada pihak yang salah tanggap dan menyangka ini adalah bantuan, maka program ini tidak hanya akan mengalami kegagalan tetapi juga menorehkan luka yang mendalam di hati masyarakat. Alhasil, tidak hanya Kemendikbudristek saja yang kehilangan kepercayaan publik, nama Pegiat Budaya pun bisa ikut tercoreng.

Proses temu-kenali dilakukan dengan metode Participatory Rural Appraisal, yakni salah satu metode Community Development yang dilakukan untuk mengungkap potensi desa, mengidentifikasi persoalan, dan menyadarkan masyarakat desa untuk mencari solusi dari persoalan yang mereka hadapi. Setelah potensi desa terungkap, proses selanjutnya adalah merumuskan strategi untuk mengembangkan setiap potensi yang ada bersama-sama dengan masyarakat desa.

Desa yang terpilih untuk mengikuti program pemajuan kebudayaan akan didampingi oleh Daya Desa, yakni local talent yang dikontrak selama enam bulan oleh Kemendikbudristek untuk membantu desa dalam mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Daya Desa yang ditempatkan di Desa Tanjung Mas kebetulan adalah Bang Wanhar Lingga, yang sedari awal mengajak saya untuk berkunjung ke desa ini sebelum kembali ke Banda Aceh. Bang Wanhar Lingga ditugaskan sebagai Daya Desa atas rekomendasi dari Bang Amrul Badri, karena selain aktif ia juga mempunyai kemampuan leadership yang baik.

Pada saat kunjungan saya kemarin, masyarakat desa sedang sibuk mempersiapkan Rencana Aksi sebagai bentuk tahap akhir dari program Pemajuan Kebudayaan di Desa Tanjung Mas. Kabarnya mereka ingin membuat pameran kebudayaan terpadu mulai dari pameran kesenian, pameran kerajinan tradisional, pameran makanan tradisional, serta pagelaran tari tanggal 12, 13, dan 14 November nanti. Saking semangatnya, Pak Geuchik juga berencana akan menyumbang satu ekor kerbau untuk disembelih pada kendukhi belen (kenduri besar), sebagai puncak dari kegiatan pameran yang mereka selenggarakan.

Usut punya usut, kegiatan ini ternyata tidak sepenuhnya difasilitasi oleh Ditjenbud. Sebagian anggarannya bahkan merupakan hasil swadaya masyarakat. Melihat kenyataan ini, saya semakin optimis bahwa Desa Tanjung Mas akan menjadi desa yang tumbuh dan berkembang mengikuti kebudayaan aslinya.

Desa Bertabur OPK dan ODCB

Sejauh yang saya amati, secara fisik desa ini memang masih menunjukkan geliat kebudayaan sebagaimana lazimnya desa-desa Suku Singkil lain, seperti letak desa yang berada di pinggir sungai; rumah masyarakat yang berbentuk panggung dan terbuat dari kayu; Agama Islam yang berbasiskan tarekat; serta banyak terlihat bungki (sejenis perahu kecil) yang tertambat di jamban atau dermaga kecil terbuat dari kayu.

Tetapi di balik kesamaan tersebut, Desa Tanjung Mas ternyata memiliki ciri khas yang berbeda dengan desa-desa Suku Singkil lain, khususnya dalam hal dialek, kesenian, serta praktik kultural lainnya.

Baca Juga: Tradisi Nyaparan (Abdauan) di Desa Penyabangan Kabupaten Buleleng, Bali: Tinjauan Living Hadis

Perbedaan ini muncul karena secara historis Singkil dan Subulussalam dulunya merupakan wilayah dari 16 kerajaan yang berdaulat. Pada masa itu, masyarakat tunduk di bawah aturan yang berbeda, sehingga menyebabkan munculnya perbedaan dan persamaan dalam praktik kultural pada Suku Singkil seperti yang kita lihat sekarang. Jadi wajar saja jika saat ini Desa Tanjung Mas masih memiliki khazanah budaya tersendiri yang tidak dimiliki oleh desa lain di sepanjang sungai Cinendang dan latar belakang sejarah ini pula yang mendorong antusiasme masyarakat yang tinggi untuk memajukan kebudayaan di desanya.

Kemudian selain dari sikap antusias untuk ikut serta dalam Program Pemajuan Kebudayaan Desa, salah satu faktor yang membuat desa ini menarik adalah karena Desa Tanjung Mas memiliki banyak Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) dan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) yang potensial untuk dikembangkan dan dimanfaatkan. Sebagian besar OPK dan ODCB yang ditemukan berkaitan dengan agama Islam, seperti mesjid yang diduga paling tua di Kabupaten Aceh Singkil, makam bangsawan dan ulama kharismatik, serta adat istiadat, tradisi, dan kesenian yang bernapaskan Islam.

Kekayaan budaya ini muncul karena secara historis, Kerajaan Tanjung Mas merupakan kerajaan terbesar yang ada di wilayah Simpang Kanan. Hal ini terungkap ketika Daya Desa bersama masyarakat melaksanakan proses temu-kenali yang dilakukan pada 26 Juni 2021 kemarin.

Dari sekian banyak khazanah budaya yang termasuk dalam kategori ODCB dan OPK, salah satu yang menarik perhatian saya adalah keberadaan makam keluarga Syeh Abdul Rauf As-Singkili, yakni makam ayah kandungnya yang bernama Syeh Ali Al-Fansuri, kemudian makam saudara kandungnya yang bernama Syeh Aminuddin bin Ali Al-Fansuri, serta makam ibu kandungnya yang tidak disebutkan namanya.

Ketiga makam ini awalnya memiliki lokasi yang berdekatan, tetapi makam Syeh Aminuddin kemudian dipindah ke seberang sungai karena lokasi sebelumnya terkena abrasi. Menurut pengakuan beberapa warga, kerangka yang mereka temukan saat proses relokasi terlihat masih dalam keadaan lengkap dan utuh. Mereka meyakini bahwa hal itu merupakan salah satu karomah yang dimiliki oleh Syeh Aminuddin bin Ali Al-Fansuri, dan menjadikannya sebagai salah satu tempat yang tidak boleh dilewatkan saat mereka berziarah.

Menurut Bapak Yudi Andika dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh, makam-makam ini belum diregistrasi secara nasional tetapi sudah memiliki Juru Pelihara yang digaji dari anggaran Disbudpar Provinsi Aceh atas usulan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Singkil.

Keberadaan tiga makam ini tidak banyak diketahui oleh orang di luar Kabupaten Aceh Singkil, karena memang masyarakat desa belum berpikir untuk mengeksposnya ke media massa. Kendati demikian masyarakat tetap melayani peziarah yang datang dari beberapa daerah, karena mereka menganggap peziarah yang hadir mendatangkan barokah bagi desa mereka. Keberadaan ketiga makam ini membuktikan bahwa dulu Syeh Abdurrauf As-Singkili menghabiskan masa kecilnya di Desa Tanjung Mas, dan fakta ini menjadi sangat penting bagi para peziarah yang ingin mengikuti napak tilas kehidupan guru dari guru-guru mereka.

Lebih lanjut, secara fisik bentuk makam keluarga Syeh Abdul Rauf As-Singkili ini berbentuk bulat dan memanjang mirip seperti lingga. Bentuk seperti ini umumnya juga ditemukan pada makam ulama-ulama besar lain yang ada di seluruh wilayah Aceh. Tidak ada inskripsi yang menyebutkan nama jasad yang terkubur di dalamnya. Hal ini dimaknai sebagai suatu sikap tawadhu atau rendah hati dari seorang ulama, yang dimaksudkan agar setelah ia meninggal tidak ada yang menyembah kuburnya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Arab pada masa sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW (Jahiliyah).

Orang-orang yang menekuni tarekat sufistik pada tingkatan tertentu biasanya memiliki metode sendiri untuk mengetahui siapa tokoh besar yang terkubur di bawah nisan tak bernama, seperti halnya makam Syeh Abdul Rauf As-Singkili yang ditemukan di Desa Kilangan Kecamatan Singkil. Tetapi di Desa Tanjung Mas, pengetahuan masyarakat tentang keberadaan makam ulama besar di desanya bukan hanya tersimpan dalam bentuk memori kolektif, melainkan karena salah seorang keturunan Syeh Ali Al-Fansuri masih ada yang tinggal di sana.

Keturunan ulama besar ini bahkan masih menyimpan salah satu naskah yang ditulis sendiri oleh Syeh Abdul Rauf As-Singkili sebagai pusaka. Naskah yang telah lapuk dimakan usia itu berisikan tentang tarekat Sattariyah dan sejarahnya. Saya sendiri dikirimi copy naskah tersebut oleh Bang Wanhar Lingga dalam bentuk file pdf, namun sayangnya membaca naskah beraksara Jawi bukanlah bidang yang saya tekuni. Jika memang naskah ini bisa diakses oleh para filolog, tentu hasilnya bisa menjadi temuan baru tentang sejarah Islam dan keislaman di Aceh, khususnya di Kabupaten Aceh Singkil.

Editor: Ainu Rizqi
 _ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals