Membaptis Tubuh yang Bernamakan “Pendidikan”

Apakah kita bisa menggambarkan proses pendidikan dalam kehidupan kita masing-masing, dan kemudian dapat kembali menyimpulkan dengan ringkas apa itu pendidikan?


ilustrasi: pictorem.com

“Ini demi pendidikan”. Kurang lebih begitulah kesimpulan dari sekian banyak pendidik atau kalangan orang dewasa pada umumnya. Untuk mencerdaskan anak bangsa dibutuhkan pendidikan, untuk tidak lagi terjajah nasibnya dibutuhkan pendidikan, untuk mudah mendapatkan kerja dibutuhkan pendidikan, dan seterusnya. Bila dikupas segala segmen kehidupan diri manusia takkan lepas dari andilnya pendidikan. Lantas, apa itu pendidikan? Bagaimana bisa pendidikan menjadi barang yang teramat sakral dan krusial bagi  kehidupan manusia?

Sangat banyak pemaparan dari kalangan ahli dan pemikir terkait definisi pendidikan dan embel-embelnya. Pak Zurriatul Khairi, salah seorang dosen saya yang mengampu mata kuliah Psikologi Evaluasi Pendidikan mengemukakan bahwa tujuan dari pendidikan adalah pertumbuhan dan perkembangan.

Baca juga: Milenialisme dan Gerak Pendidikan Kita

Pertumbuhan dan perkembangan dikarenakan dua hal, yaitu kematangan (maturation) dan belajar (learning). ‘Kematangan’ diartikan sebagai kesiapan berupa fisik maupun psikis, sedangkan ‘belajar’ diartikan sebagai proses yang mengasah kemampuan dalam diri (tidak hanya perubahan dari tidak tahu menjadi tahu). Begitulah kurang lebih saya mengutip sekaligus menyimpulkannya.

Akan tetapi, berbicara konteks yang bertemakan pendidikan, dua hal tersebut nampaknya memiliki hubungan satu dengan yang lainnya. Bahwa kematangan terjadi melalui fase yang melibatkan proses belajar. Bagaimana jika berlaku sebaliknya?

Sebab nyatanya, tidak sedikit instansi pendidikan yang mematokkan ‘kematangan’ di awal sebelum proses ‘belajar’, seperti halnya salah satu sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) yang memiliki kebijakan bahwa anak harus mampu dalam baca, hitung, dan tulis sebelum memasukkan anak ke sekolah TK tersebut. Kemampuan-kemampuan tersebut merupakan beberapa indikasi kematangan kognitif anak untuk dapat mengenyam sebuah pendidikan tertentu.

Dalam kasus lainnya, penyelenggaraan pendidikan selalu mencanangkan target tertentu pada diri peserta didik sebagai indikator ‘kematangan’. Karena dikaji dengan keilmuan psikologi, konteks dari ‘kematangan’ ini tidak luput dari tiga dimensi psikologis peserta didik, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik (ada juga yang menerjemahkan psikomotorik sebagai konasi). Artinya, proses belajar dibutuhkan untuk mencapai sebuah kematangan. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) misalnya, bersedia untuk melatih dan mengajarkan peserta didik siap terjun langsung dalam dunia pekerjaan sesuai jurusannya.

Baca artikel lainnya: Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM): Hantu dalam Dunia Pendidikan di Indonesia

Maka dari fenomena-fenomena di atas dapat ditegaskan bahwa dua hal antara ‘kematangan’ dan ‘belajar’ tidak dapat dipisahkan dalam tubuh pendidikan.

Hanya saja, pola penyelenggaraan pendidikan seperti apa yang dominan berlaku dalam kehidupan kita dewasa ini? Apakah kita bisa menggambarkan proses pendidikan dalam kehidupan kita masing-masing, dan kemudian dapat kembali menyimpulkan dengan ringkas apa itu pendidikan?

Nampaknya, pendidikan yang dirasakan hingga saat ini menjelma sebagai “pemaksaan belajar” -meminjam kalimat Pak Zurriatul Khairi. Mungkin saja ini terkesan kebetulan sesuai dengan kehidupan pendidikan kita selama ini. Mungkin saja tidak. “Pemaksaan belajar” yang dimaksud mengarah pada teknis yang secara substantif kontinu diterapkan di berbagai ruang pendidikan. Seolah-olah peserta didik terlihat terpaksa untuk ‘menjadi’.

Baca juga: Gebrakan Nadiem: Peran Guru di Era Baru Pendidikan Nasional

Sehingga sosok dari seorang pendidik hanya sekadar pembantu proses tumbuh kembang peserta didik dalam lingkungan akademik maupun non-akademik, bukan sebagai pencetak karakter atau dalam arti lain, penentu dari tumbuh kembang seorang anak.

Saya pun berusaha berpikir bagaimana sebaiknya peran ideal-transformatif dari pendidikan itu sendiri, guna sampai pada pembiasaan (dalam artian terdidik dan terlatih) melalui ‘pemaksaan’?  Sebab istilah’ pemaksaan belajar’ malah cenderung berkonotasi negatif.

Saya mencoba menawarkan opsi yang agak kompatibel untuk peran pendidikan, yaitu ‘pemberdayaan kematangan’. Ini menjadi opsi saja. Bagi saya, adalah hal yang bijak bila membiarkan peserta didik berkembang sesuai dengan potensi yang ada dalam dirinya. Kemudian potensi tersebut dipertajam dengan proses mengasah yang disebut dengan ‘belajar’.

Baca juga: Pendidikan di Persimpangan Makna: Antara IQ dan EQ

Lantas apakah ‘paksaan’ adalah hal yang negatif? Belum tentu.

Kalau dipikir-pikir lagi, baik itu “pemaksaan” ataupun “pemberdayaan” terhadap dua aspek (kematangan dan belajar) bisa saja saling bersilangan atau satu jalur untuk ke semua aspek; ‘Pemaksaan kematangan’ dan ‘belajar’, ‘pemberdayaan kematangan’ dan ‘belajar’, ‘pemaksaan kematangan’ dan ‘pemberdayaan belajar’, dan ‘pemberdayaan ‘kematangan’ dan pemaksaan belajar’.

Bila dicermati baik-baik dari awal, mungkin dapat mengilhami seperti bagaimana gambarannya. Akhirnya, peran pendidikan menjadi cukup kompleks untuk kehidupan anak manusia (mungkin tidak mesti anak manusia, anak monyet pun bisa belajar dan matang di STIB, Sekolah Tinggi Ilmu Beruk di desa Apar, Pariaman, Sumbar).

Baca juga: Menyongsong Indonesia Emas 2045 Dengan Pendidikan

Secara terapannya, mungkin telah terdikotomi menjadi dua strategi pengajaran (dalam rangka pendidikan) yakni TCL (Teacher Center Learning) dan SCL (Student Center Learning). Maka dari pada itu, kita kembalikan masing-masing bagaimana yang terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan diri. Mematangkan serta mengasah apa yang dimiliki dalam diri (apa yang dilihat, apa yang didengar, dan apa yang dirasakan) yang kelak akan jadi modal dan bekal untuk menghargai peran murni dari sebuah proses yang bernamakan pendidikan.

Semoga diri kita diberi kekuatan untuk menjauhi dari ketidaktepatan peran dari pendidikan yang justru membuat kita hanya tampak memiliki mata namun tidak melihat, hanya tampak memiliki telinga namun tidak mendengar, dan hanya tampak memiliki hati namun tidak paham. Wallahu Musta’an.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
2
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
7
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ibnu Biat

Master

sekiranya ketiadaan dapat diterima sebagai eksistensi, memperkenalkan diriku hanya sebatas pengingat bahwa aku bukan siapa-siapa melainkan Dia yang menjadikanku siapa.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals