Quality Time sebagai Alternatif Pola Pendidikan Anak di Era Keterbukaan Informasi

Pengenalan pentingnya melakukan seleksi terhadap berbagai aspek yang diterima dari lingkungan sosial secara perlahan akan membentuk karakter anak.


Quality Time
Sumber Foto: Pexels.com

Mendidik anak adalah hal yang penting diperhatikan oleh setiap orang tua, salah satunya dengan cara memperhatikan tiap fase perkembangannya. Orang tua sebagai bagian dari keluarga inti, memiliki tanggungjawab lebih ketimbang guru, keluarga besar dan lingkungan sekitar. Mengingat orang tua merupakan cikal-bakal lahirnya sang anak. Hal tersebut membuat orang tua memiliki tanggung jawab untuk memberikan wawasan intelektual, di samping itu ada yang lebih penting yaitu mendidik serta membentuk karakter anak.

Akhir-akhir ini, peran orang tua–terutama di lingkungan masyarakat urban dan sub-urban–dalam mendidik anak tidak bisa maksimal dikarenakan ada tuntutan kebutuhan sehingga kedua orang tua harus bersama-sama mencari nafkah alih-alih banyak juga lembaga pendidikan, kursus, jasa pendamping anak yang semuanya menawarkan beragam fasilitas. Namun akan tetap berbeda jika dibandingkan dengan dididik langsung oleh orang tuanya sendiri.

Baca juga: Mendidik Anak dengan Teladan dan Cinta

Meskipun begitu, terkadang tetap saja ada keluarga yang mengalami kemalangan secara finansial sehingga ‘membiarkan’ anaknya tumbuh kembang tanpa pengawasan.

Ditambah lagi informasi yang semakin terbuka dan mudah diakses oleh siapa saja dan di mana saja. Menjadikan pola pendidikan lama yang cenderung kaku, akan hanya menimbulkan kesenjangan antara orang tua dan anak dalam proses pendidikan di rumah. Hal itu juga berimbas pada munculnya sekat komunikasi antara orang tua dan anak yang berimbas pada munculnya sikap acuh dari anak dan ketidaktahuan orang tua terhadap perkembangan dan pertumbuhan buah hatinya.

Sikap untuk acuh ini didukung dengan beragam media yang memberikan fasilitas, seperti game dan internet. Kedua platform tersebut menyediakan beragam fasilitas yang membuat anak nyaman dan menimbulkan kegagapan bersosial, memunculkan sikap individualis, tertutup dan lain sebagainya. Walaupun tentu di balik itu semua terdapat beragam kemanfaatan yang bisa diambil jika game dan internet dimanfaatkan secara tepat.

Melihat kondisi tersebut, idealnya setiap orang tua perlu meluangkan waktunya untuk berinteraksi serta menjalin komunikasi yang intim dengan anak. Ini perlu dilakukan agar tumbuh kembang anak dapat tetap diketahui oleh orang tua. Minimal jika hubungan telah terjalin secara intim, maka anak tidak lagi segan bertanya dan menceritakan pengalaman kesehariannya.

Baca juga: Peran Seorang Ayah dan Seorang Ibu dalam Keluarga

Upaya mencapai komunikasi yang intim sebenarnya tidak perlu dengan komunikasi secara intens, bagi orang tua yang sibuk, cukup meluangkan quality time seminggu sekali. Memang membutuhkan sebuah kesabaran dan komitmen, karena orang tua harus memahamkan dengan ramah dan penuh empati kepada anak, tetapi dengan memberi pemahaman tersebut, maka secara perlahan anak akan terbiasa dan akan dapat memahami hal tersebut.

Di samping komunikasi mulai dibangun, perlu juga dipertimbangkan bentuk quality time yang akan dijalankan.

Quality time adalah salah satu sarana yang dapat digunakan untuk memunculkan sikap asertif anak. Sikap asertif adalah kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan kepada orang lain dengan tetap menjaga perasaan orang lain tersebut. (Baca lebih lanjut Hubungan Antara lntensitas Quality Time Ibu dan Anak dengan Asertivitas Remaja di Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Jurnal Psikologi Udaya)

Bentuk quality time dapat berupa aktivitas keseharian sederhana seperti memasak bersama, makan bersama, menonton film sampai liburan bersama. Selama masa intim tersebut orang tua harus memaksimalkan waktunya dengan memberikan contoh perilaku yang positif. Kesempatan ini juga dapat menjadi peluang untuk orang tua membuka obrolan menanyakan aktivitas anak selama seminggu ke belakang.

Dalam obrolan yang terjalin tersebut tentu anak memiliki kegelisahan bahkan kritik terhadap orang tua. Menyikapi hal ini orang tua harus bersikap bijak dan mau mengakui setiap kesalahannya dan dapat menjawab kritik tersebut dengan baik.

Sesi ini sekaligus juga dapat menjadi kesempatan untuk mengarahkan sekaligus mengoreksi sikap anak yang negatif. Jika memang dalam cerita anak selama menjalani harinya ke belakang ada hal-hal yang perlu diluruskan. Tentu hal ini dikakukan dengan komunikasi yang bersifat dialog. Artinya orang tua memberikan pandangnya dan setelah itu dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk berargumentasi.

Dialog tersebut perlu disisipi ajakan terhadap anak untuk berpikir dan merenungkan tentang permasalahan yang sedang diperbincangkan. Pola ini memberikan manfaat berupa pemahaman kepada anak tentang suatu permasalahan sekaligus mengajarkan anak untuk mulai berpikir tentang tindakannya.

Setelah selesai pada tahap keintiman antara orang tua dan anak, orang tua perlu memperkenalkan lingkungan sosial di sekitar mereka. Terlebih kemajuan teknologi yang sedemikian masif membuat anak agaknya lebih leluasa untuk menerima berbagai informasi yang berseliweran di dunia maya. Ini juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi orang tua untuk mengarahkan anak agar mengakses konten-konten yang positif.

Baca juga: Aplikasi Parenting Style ala Al-Qu’an: Upaya Mempersiapkan Generasi Beretika di Media Sosial

Memang sulit untuk diimplementasikan, tetapi dengan mengikuti panduan yang telah diatur oleh penyedia jasa layanan daring seperti rutin mengontrol riwayat pencaharian, batas minimal akses, pengaktifan pengaturan penyaringan konten dewasa, dan pengaturan lain yang membantu mereduksi konten negatif.

Ini tentu riskan, tetapi orang tua dapat mengontrol melalui quality time yang ada untuk berdialog seputar apa yang didapat dari lingkungan baik fisik maupun maya. Kesempatan ini juga menjadi momentum untuk memahamkan anak bahwa tidak semua aspek–mencakup informasi, perilaku, kultur–dari lingkungan sosial–baik fisik serta maya–perlu untuk diadopsi. Ada beberapa aspek yang justru harus disaring dan dibuang.

Pengenalan pentingnya melakukan seleksi terhadap berbagai aspek yang diterima dari lingkungan sosial secara perlahan akan membentuk karakter anak. Hal ini juga akan mengantarkan anak untuk mencapai tahap kedewasaan serta kemandirian. Pada tahap ini, anak akan siap untuk menghadapi realitas kehidupan sekaligus dapat menentukan jalan yang akan diambil.

Tentu untuk mencapai tahap ini, bukan hal yang mudah. Namun perlu diingat anak adalah investasi jangka panjang yang nantinya akan meneruskan perjuangan orang tua. Anak juga merupakan pengharapan orang tua di usia senja untuk dapat membantu dan menemaninya. Terlebih anak adalah investasi bangsa yang nantinya akan menjadi tonggak kemajuan, sehingga wajar jika pendidikan terhadap anak perlu diperhatikan. Untuk itu, pola pendidikan yang komunikatif seperti dijelaskan di atas, menjadi perlu untuk diterapkan.

Wallahua’lam bishawab

Editor: Andika S
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Mufarrih El Mubarok
Tim Redaksi Artikula.id | Kordinator Departemen Jaringan Sekolah dan Pondok Pesantren Pimpinan Anak Cabang IPNU Panceng Gresik.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals