Menulusuri Karakter Para Khalifah di Masa Kejayaan Islam

Kegandrungan para khalifah terhadap ilmu pengetahuan adalah karakter utama ketika Islam ada di puncak kejayaannya.


Sumber gambar: AJJN.net

Hari ini, Islam sebagai agama yang dibawa Nabi Saw. tampak terpuruk. Tertinggal begitu jauh dari dunia Barat. Namun anehnya, beberapa kalangan justru lebih mengkambing hitamkan sistem ketimbang persoalan-persoalan lain yang jauh lebis logis. Seolah-olah karena sistem tersebut Islam kini menjadi terpuruk dan tertinggal. Nabi Saw. sendiri selama 22 tahun menjelma menjadi Amir bagi para pengikutnya, kaum Muslim, yang oleh Micahel H. Hart, penulis buku The 100: A Rangking Of The Most Influential Person In World kemudian  sebagai orang paling berpengaruh di dunia.

Seperti dikatakan Fred M. Donner, pada saat Nabi Saw. wafat, tepatnya pada tahun 632 H, kaum Muslim di Madinah menyepakati Abu Bakar sebagai pemimpin politik mereka dan atau menjadi khalifah pengganti Nabi Saw. Selain itu, sejarah juga mencatat bahwa Abu Bakar digantikan oleh Umar bin Khattab (memerintah tahun 13-23 H/634-644 M) kemudian Ustman bin Affan (23-35 H- 644-656 M), dan Ali bin Abi Thalib.

Terbunuhnya Ali di tangan Khawarij dan naiknya Mu‘awiyah menjadi khalifah merupakan akhir era yang disebut Khulfaur Rasyidin dan menandai babak baru kepemimpinan kaum Muslim. Masa pemerintahan Daulah Umayyah sendiri berlangsung selama 91 tahun (41-132 H/661-750 M), dan diperintah oleh empat belas khalifah. Keempat belas khalifah tersebut adalah Muawiyah I, Yazid I, Muawiyah II, Marwan I, Abdul Malik bin Marwan, Al Walid I, Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz, Yazid II, Hisyam bin Abdul Malik, Al-Walid II, Yazid III, Ibrahim bin Walid, dan Marwan II.

Seiring runtuhnya kendali Umayyah di seluruh dunia Islam, pada awal tahun 750 M dalam perang Zab di Mesopotamia tengah, kekuatan Abbasiyah berhasil memukul mundur penuh pasukan Umayyah. Sejak saat itu, tak ada lagi penghalang antara Abbasiyah dan Ibu kota Umayyah, Damaskus, sekaligus menandai berkibarnya bendera Dinasti Abbasiyah sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan kaum Muslim.

Di masa Dinasti Abbasiyah, tepatnya pada abad kesembilan sampai ketiga belas  dunia Islam ditandai dengan era perkembangan ilmiah, religius, filsafat, dan kebudayaan dalam skala kedalaman yang tak tertandingi sejarah, baik sebelum maupun sesudah era tersebut. Cendikiawan terkenal, Muslim dan non-Muslim, dari seluruh dunia berkumpul di Baghdad sebagai bagian proyek Al-Makmun, Baitul Hikmah.

Para khalifah dinasti Abbasiyah sendiri tercatat dalam sejarah berjumlah 37 khalifah, bermula dari Abul Abbas Assafah (1320136 H/750-754 M) sampai pada Al-Mu‘tashim (640-656 H-1243-1258 M).15  Pasca runtuhnya Dinasti Abbasiyah tongkat estafet kepemimpinan kaum Muslim kemudian jatuh di tangan Daulah Buwaihi, Daulah Saljuk, Daulah Fatimiyah, Daulah Mamluk, dan Ottoman, dan Daulah Umayyah di tanah Andalus.

Meski demikian, hanya beberapa khalifah saja yang kemudian dicatat sebagai tokoh yang berpengaruh besar dalam sejarah dan kebudayaan Islam. Tiga khalifah tersebut di antaranya adalah Al-Mansur, Harun Al-Rasyid, dan Al-Makmun.

Nama Al-Mansur dikenal tidak saja karena ekspansi wilayah, melainkan ia juga dikenal sebagai arsitek, pembangun dan pengembang Daulah. Di masa kepemimpinanya ia mulai dengan memulai pembangunan besar-besaran. Ia membangun kanal-kanal dan saluran irigasi sehingga Lembah Irak menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang subur dan makmur.

Selain itu, proyek besar yang dikerjakan Al-Mansur adalah pembangunan kota Baghdad. Pembangunan kota tersebut memakan waktu kurang lebih empat tahun, yakni sejak tahun 144H/762 M sampai 148 H/166 M. Ia membangun istana di tengah-tengahnya dan masjid Agung di samping Istana. Konon dinding temboknya diperkuat dengan kira-kira sebanyak 160 menara.

Sama seperti Al-Mansur, nama Harun Al-Rasyid juga mempunyai reputasi dan nama besar yang banyak mengukir prestasi dan kontribusi bagi rakyat dan negaranya dengan masa pemerintahan yang cukup lama yakni 23 tahun. Gerakan penerjemahan dari lietarur Persia, India, Yunani Klasik, dan Siryani, ke dalam bahasa Arab yang telah dimulai pada masa Al-Mansur, diteruskan oleh khalifah dengan mendirikan lembaga yang disebut Baitul Hikmah. Lembaga yang pada akhirnya nanti akan banyak melahirkan ilmuan besar seperti Al-Razi dan Al-Haitami.

Masa keemasan Islam terus berlanjut ketika Abdullah bin Harun Al-Rasyid atau yang lebih dikenal dengan Al-Makmun diangkat sebagai khalifah ketujuh Daulah Abbasiyah. William L. Langer, sejarawan kelas dunia mengatakan bahwa masa pemerintahan Al-Makmun boleh jadi merupakan masa paling gemilang sepanjang serjarah khilafah.

Kesenian dan sains dibantu pengembangannya dengan dana yang melimpah. Dua observatorium dibangun, satu di Damaskus, satu lagi dekat Baghdad. Baitul Hikmah dilengkapi dengan perpustakaan yang kaya koleksi buku-buku. Karya-karya sastra, ilmiah, dan filsafat diterjemahkan dari bahasa Yunani Siryani, Persia, dan Sanskerta.

Selain tiga nama khalifah tersebut yang notabene tidak lain memusatkan kekuasannya di tanah Baghdad dan Damaskus, salah seorang Umayyah muda yang berhasil lolos ketika Dinasti Abbasiyah berhasil menggulingkan kekuasaannnya, Abdul Ar-Rahman berhasil membangun peradaban Islam di tanah Andalusi.

Selalu selangkah di depan tentara Abbasiyah, Abdul Ar-Rahman berhasil meenginjakkan kakinya di Andalusia pada tahun 755 M. Di sana ia menobatkan diri sebagai penguasa negara Umayyah, dengan Kordoba sebagai ibu kota, yang secara politis terpisah dari Abbasiyah di Baghdad. Emirat Umayyah berhasil didirikannya dan menjadi kawah percampuran budaya selama berabadabad setelah kekuasaannya.

Muslim Arab, Berber, dan Hispatik bergabung menciptakan budaya Andalusia unik yang menyajikan latar belakang dan tradisi beragam di bawah bendera Islam. Bahkan, orang Kristen yang tinggal di Andausia mengadopsi budaya Islam dan mengembangkan bahasa, seni, dan adat Arab.

Puncak Daulah Umayyah di Spanyol sendiri terjadi selama masa pemerintahan Abdul Rahman III yang berkuasa dari 912  hingga 961 M, nama yang kiranya tidak bisa dikesampingkan begitu saja selain Al-Mansur, Al-Rasyid, dan Al-Makmun. Dalam hampir setengah abad kekuasaannya, ia menyatakan diri sebagai khalifah dunia Islam.

Konon Abdul Rahman III mencintai seni dan ilmu pengetahuan dalam kadar yang sama dengan Al-Makmun. Lebih dari 600 perpustakaan berada di ibu kota Kordoba dengan koleksi perpustakaan terbesarnya pada saat itu berisi lebih dari 400 ribu buku dalam berbagai bahasa.

Ada sangat banyak toko di kota, menghasilakn barang-barang yang berharga di seluruh Eropa. Kulit, sutra, kertas, wol, dan kristal, semuanya diproduksi di Kordoba dan diperdagangkan ke seluruh Eropa dan dunia Islam. Jika ingin menjadi terpelajar, seorang Eropa akan berpergian ke Andalusia. Bahkan, pemimpin Gerjeja Katolik abad ke sepuluh, Paus Sylvester II pun belajar di Andalusia semasa muda dan terpikat dengan prestasi ilmiah peradaban Islam.

Buku terjemahan karya-karya di perpustakan Kordoba dalam bahasa Latin, pada abad berikutnya, saat universtas pertama dibuka di Italia, Prancis, dan Inggris juga turut menghiasi perpustakanperpustakaan mereka. Sejarah Islam sejak masa Nabi Saw. sampai pada detik ini telah banyak melahirkan khalifah yang berperan penting dalam keberlangsungan terjaganya agama yang dibawa Muhammad Saw. Selain nama-nama di atas, tercatat juga misalnya nama Mehmet II yang pada 29 Mei 1453 berhasil menaklukan kota legendaris Konstantinopel.

Kegandrungan para khalifah terhadap ilmu pengetahuan adalah karakter utama ketika Islam ada di puncak kejayaannya. Para khalifah tidak ragu untuk membangun dan memberi sarana-sarana yang mendukung bertumbuhnya ilmu pengetahuan. Penerjemahan karya-karya dari bahasa Yunani dilakukan. Dengan kata lain, para khalifah tidak anti pati terhadap karya-karya tersebut meski tidak lahir dari dunia Islam.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
1
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
1
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Fuji Nur Iman

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Konsentrasi Studi Alquran dan Hadis

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals