Keharusan Menjaga Keseimbangan Alam dan Manusia dalam Beragama

"..agama dan lingkungan adalah faktor yang menguntungkan bagi kehidupan jika manusia bisa bercengkerama bersama alam dengan harmoni.."


Pada 1912 Jepang memberikan hadiah 3 ribu pohon sakura (cherry blossom) kepada Amerika. Pohon yang berbunga dari Maret hingga Mei ini menghiasi taman Brooklyn Botanic Garden yang sekaligus menjadi paru-paru kota.

Di sisi lainnya pada waktu berbeda, tahun 1955 Soekarno berangkat haji dan merasakan panasnya padang Arafah. Setelah kepulangan Putera Fajar itu ke Tanah Air, ia mengirimkan pohon jenis mimba beserta pakar tanaman ke Saudi. Setelah pohon berkembang biak, pada tahun1980 Raja Fahd mencanangkan nama pohon Soekarno (Syajaratus Sukarna) dari jenis mimba.

Peristiwa di atas menandai adanya upaya saling mengisi. Kekosongan di sisi lain dan kekayaan alam di titik yang berbeda telah membuka kesempatan untuk membuka ruang dialog. Berangkat dari alam, manusia memiliki kesempatan untuk menjalin hubungan emosional dengan sesama.

Langit dan bumi telah tertata dengan peletakan keseimbangan antar keduanya. Alam telah didesain dengan warna warninya secara seimbang. Maka keseimbangan tidak boleh diganggu gugat. Kekayaan universalitas tersebut harus dijaga dan dipelihara (Ar-Rahman: 7-9).

Tiap tumbuhan diciptakan secara seimbang. Pohon pun juga memiliki guna dan manfaat yang berbeda agar kesemuanya bisa memberikan manfaat dan masing masing dapat menunjukkan bahwa ia diciptakan tanpa sia-sia dan tak berguna. Tiap tanaman memiliki pasangan untuk saling menutupi kekurangan dengan kelebihan satu dengan yang lain (Ar-Rahman: 52)

Berangkat dari tanaman, manusia memiliki sarana teladan untuk hidup berdampingan di tengah perbedaan yang ada. Manusia berkesempatan untuk membuka dirinya menjadi makhluk universal dan ia berpeluang menyebarkan agama damai.

Di Indonesia, lingkungan menjadi sorotan serius terkait perkembangan industri yang begitu pesat. Program pemerintah untuk mengembangkan pendidikan SDM yang memiliki kompetensi internasional terus diupayakan. Muncul standarisasi vokasi lingkungan berupa pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan perilaku (atitude). Meski demikian upaya ini belum menunjukkan hasil optimal jika pemahaman di tingkat masyarakat desa terutama yang ada di sekitar industri belum tersentuh secara merata.

Angin segar muncul saat sosok Sadiman, seorang tua yang membangun hutan Wonogiri dengan dana dan tenaganya sendiri. Atas ketulusannya dalam mewujudkan rasa cinta terhadap lingkungan tersebut, ia mendapatkan kalpataru pada 2016.

Sosok inspriratif lain lahir di Guluk Guluk Sumenep Madura. Abdul Basith yang dikenal sebagai pemuka agama mengkoordinasi pembangunan kembali hutan yang gundul. Pemerhati lingkungan seperti Emil Salim (menteri lingkungan era Soeharto) yang secara tidak sengaja melintasi wilayah tersebut memutuskan untuk singgah dan menengok secara langsung.

Ia kaget saat teringat bahwa pada era kepemimpinannya wilayah tersebut kering dan tandus. Ia kagum dan bertanya-tanya kenapa sekarang telah ada sungai yang mengalir sebagai pasokan air bersih masyarakat. Ia terus berjalan menyusuri jalanan hutan dan bertemu dengan salah seorang penduduk. Ia bertanya tentang sejarah hutan ini.

Penduduk tersebut mengantarkan Emil Salim ke sebuah rumah di area pesantren. An Nuqayyah adalah nama pesantren tersebut. Di sana ia bertemu sosok yang bertanggung jawab atas hutan tersebut. Dia bernama Abdul basith.

Emil Salim bertanya: “Mengapa anda melakukan semua ini, membangun hutan.”

Abdul Basith : “Saya membangun hutan untuk menyempurnakan sholat.”

Ia melanjutkan: “karena sholat yang sempurna adalah karena wudhu yang sempurna. Wudhu yang sempurna tercipta berkat adanya air yang mencukupi. Air yang mencukupi ada karena terjaga dan terawatnya sumber mata air. Kemudian mata air ada dengan lestarinya hutan dan lingkungan dalam membentuk aliran aliran bawah tanah.”

Emil Salim yang berdiri di podium tanggal 18 Agustus 2015 itu berkata kepada audiens dari berbagai pakar lingkungan mulai hidrologi, geofisik, dan sosial ekonomi budaya bahwa kita semua telah gagal dan hanya bisa menghambur-hamburkan uang. Masih kalah dengan masyarakat yang dengan tulus membangun hutan dengan dana seadanya.

Emil menambahkan kepada para audiens: “terdapat pendekatan yang selama ini kita tinggalkan, padahal pendekatan ini sangat efektif yaitu agama sebagai faktor penggerak sepiritual masyarakat.

Kisah Sadiman dan Kiai Abdul Basit di atas menunjukkan bahwa agama dan lingkungan adalah faktor yang menguntungkan bagi kehidupan jika manusia bisa bercengkerama bersama alam dengan harmoni.

_catatan Muhammad Barir dalam seminar DAS, UNS 18 Agustus 2015.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
5
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
8
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Muhammad Barir
Muhammad Barir, S.Th.I., M.Ag. adalah redaktur Artikula.id. Ia telah menulis beberapa karya, diantaranya adalah buku Tradisi Al Quran di Pesisir.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Artipedia

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals