IMM dalam Perspektif Lain

Pemerintah Presiden Soekarno merestui IMM berdiri secara resmi dengan menuliskan prasasti (1965): “Saya Beri Restu kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)”.


iimm-dalam-perspektif-lain
Sumber gambar: immbskm.org

Membahas tentang IMM tidaklah ada habisnya, perjalanan IMM tidak pupus oleh gejolak waktu. IMM sampai hari ini pun membumikan gerakan, selalu ber-fastabiqul khairot mengabdi untuk persyarikatan, negara, dan universal. Penulis belajar dari tanaman padi yang secara filosofis bahwa padi apabila semakin berisi semakin merunduk, yaitu rendah hati, jangan seperti padi yang tidak berisi, ya, pembaca yang budiman pasti bisa memahaminya.

Perjalanan IMM tercatat dalam tinta emas perjalanan negeri ini, dengan segala tantangan dan kiprahnya. Mengulas tentang IMM bukan untuk berkutat pada nostalgia sejarah saja, tetapi sebagai refleksi untuk menjadi lebih baik. IMM bersaksi di tengah badai negeri, berjalan mengarungi zaman sejak 1965 sampai seperti era +62 seperti sekarang ini yang menyuguhkan segala dinamika kehidupan yang beda dari masa-masa sebelumnya.

Jogjakarta, 14 Maret 1964 IMM didirikan dalam waktu yang tidak terbatas dengan tujuan mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia untuk mewujudkan tujuan Muhmmadiyah. Stigma maupun asumsi, bahkan perspektif IMM dalam kaca mata lain sangatlah beragam, mulai dari sejarah kelahirannya, hingga sistem yang ada di dalamnya. Sah-sah saja berasumsi, maupun berperspektif tetapi perlu adanya pemikiran akal sehat dalam memandang sesuatu dari sisi manapun agar tumbuh dan berkembang intelektual progresif, bukan malah menimbulkan kontradiksi maupun kontra-realitas.

Pondasi Gerakan IMM

Lahirnya trilogi IMM yakni, Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Kemasyarakatan, yang merupakan intisari yang tertuang dalam Deklarasi Kota Barat (DEKOBAR) hasil dari Musyawarah Nasional (MUKTAMAR) IMM di Kota Barat-Solo, tanggal 5 Mei 1965. Deklarasi Kota Barat juga dikenal sebagai “Enam Penegasan 1965” sangatlah penting karena pondasi gerakan IMM yang merupakan arah gerakan yang memiliki ciri khas sekaligus deskripsi identitas IMM dalam menjalankan roda organisasi.

Berikut ini merupakan isi Deklarasi Kota Barat (DEKOBAR) 1965 yang dikutip dari Buku Manifesto Gerakan Intelektual Profetik IMM (2017) yakni:

1) IMM adalah gerakan mahasiswa Islam; 2) Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM; 3) Fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah (stabilitator dan dinamisator); 4) Ilmu adalah amaliyah IMM dan amal adalah ilmiyah IMM; 5) IMM adalah organisasi yang sah mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan dan falsafah negara yang berlaku; 6) Amal IMM dilahirkan dan diabadikan untuk kepentingan agama, nusa, dan bangsa.

Baca Juga: Refleksi 1 Abad Muhammadiyah: Ikhtiar Membangun Masyarakat Islam Berkemajuan

Trilogi IMM adalah intisar dari DEKOBAR yang merupakan kandungan yang lahir dari Al-Quran surat Ali Imran 104 dan al-Ma’un ayat 1-7. Trilogi IMM menghasilkan turunan berupa Tri Citra IMM atau Tri Kompetensi Dasar yakni: Intelektualitas (kemahasiswaan), Religiusitas (aqidah agama Islam/keagamaan), dan Humanitas (kemasyarakatan). Tri Kompetensi IMM tersebut diabadikan dalam AD/ART IMM Pasal 5 dan merupakan cikal bakal lahirnya bidang-bidang IMM yang terintergritas untuk mewujudkan tujuan IMM.

Deklarasi Kota Barat 1965 tersebut ditandatangani oleh KHA. Badawi yang dihelatkan di Gedung Dinoto Yogyakarta sebagai cikal bakal pondasi gerakan IMM. Kemudian, melihat arah gerak IMM dalam 6 penegasan tersebut, pemerintah Presiden Soekarno merestui IMM berdiri secara resmi dengan menuliskan prasasti (1965): “Saya Beri Restu kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)”.

Kelahiran IMM membawa angin segar bagi dunia aktivis mahasiswa. Pasalnya, IMM bukan hanya bergerak pada unsur intelektualitas (kemahasiswaan), humanitas (kemasyarakatan), tetapi, juga pada unsur religiusitas (akidah agama Islam/keagamaan). Stigma yang sering menjadi pertanyaan bahwa kelahiran IMM yang janggal, karena bertepatan pada gejolak PKI dan ingin dibubarkan HMI pada waktu itu.

Stigma mengganggap IMM bagian dari pemerintah yang otoriter karena pemerintah Soekarno memberikan restu (1965). Tetapi, asumsi itu sudah ditepis tuntas pada waktu itu, dan sudah dibayar lunas oleh AF. Fathoni dalam buku “Kelahiran yang dipersoalkan” (1990).

Kelahiran IMM itu keharusan sejarah, ada hubungan yang erat dengan kiprah dan gerak Muhammadiyah berekspansi seperti berkembangnya AUM dalam negeri maupun luar negeri. Terkhusus 164 PTMA yang bertebaran di penjuru negeri, yang menjadi rumah bagi IMM. IMM sudah mengakar di berbagai negara. Seperti dapat kita temui, kini terdapat PCI IMM China, PCI IMM Thailand, PCI IMM Brunai Darrusalam, PCI IMM Malaysia, Istanbul, Turki, Korea, India, dan lainnya.

Warna merah yang tersemat dalam atribut IMM sejatinya memiliki histroris dan filosofis mendalam, bukan hanya sekadar warna yang tertangkup di dalamnya melainkan sebagai simbol perjuangan yang mengakar dalam catatan peradaban IMM. Selain itu, warna IMM memiliki makna sebagai simbol penolakan dan penegasan terhadap gerakan separatisme alias kelompok yang melenceng dari cita-cita kemerdekaan Indonesia kala itu. Seperti halnya, yang diungkapkan oleh Rosyad Sholeh warna merah merupakan simbol perlawanan, antitesis terhadap gerakan PKI maupun CGMI.

IMM sebagai Organisasi Kader

IMM bukan organisasi anggota melainkan organisasi kader yang sangat mengutamakan kualitas dibanding kuantitas dengan harap mampu menyongsong dinamika organisasi. Kader adalah jantungnya organisasi karena sebagai komponen-komponen penting dalam menjalankan otoritas organisasi secara berkesinambungan.

Kader dan instruktur memiliki hubungan yang berkaitan dan berfase karena kader memiliki potensi sebagai instruktur karena refleksi dari istikamah pada diri kader itu sendiri. Tentu kali ini penulis akan berfokus membahas mengenai kader sesuai dengan substansi tulisan kali ini.

Posisi kader sangat sentral karena beban tanggung jawabnya tertangkup dalam tempat yang menjadi gerak dan peran dari kader itu sendiri. Kader diibaratkan sebagai pasukan inti yang siap bertugas menjalankan visi secara konsisten. Maka, apabila kita mengatakan diri kita kader akan tetapi hanya berkontribusi biasa-biasa saja tentu hal tersebut tidak konsisten menyandang gelar kader.

Kader dan instruktur dipercaya sebagai pribadi yang bertakwa, tahan banting, istikamah, pantang menyerah, dan profesional, serta siap bersaing di mana pun berada. Bukan besar di dalam seperti katak dalam tempurung, tetapi mampu menciptakan arus yang membawa perubahan dan memberikan kontribusi yang spektakuler.

IMM Sebagai Laboratorium Intelektual dan Moral

Kader IMM sebagai laboratorium intelektual dimaksudkan bahwa dengan adanya sistem yang dibangun dalam IMM mampu menjadi wadah  menumbuhkan kader-kader yang kritis, taktis, terampil, visioner, dan berprogresif hingga nanti tumbuh dan berkembang beraktualisasi dalam lahan yakni: persyarikatan, umat, dan bangsa.

Tidak heran kalau IMM sebagai laboratorium intelektual karena dalam terdapat tri-kompetensi dasar IMM atau tri-citra IMM yakni, intelektualitas, religiusitas, dan humanitas. Kandungan intelektualitas itulah yang memungkinkan terbentuknya karakter pemikir, penggerak, dan pelangsung dalam mewujudkan kader dan lingkungan yang religius, dan humanis untuk dan demi terwujudnya tujuan IMM.

Dalam dinamika organisasi IMM dalam kesehariannya memungkinkan terselenggaranya forum-forum majelis ilmu seperti diksusi, bedah buku, analisis video, serta isu-isu kekinian karena kader IMM sebagai cendekiawan berpribadi. IMM memiliki tanggung jawab terhadap tajdid intelektual agar tidak timbul konsekuensi “matinya kepakaran” seperti yang diungkapkan Tom Nichols.

Akademisi Rocky Gerung (2019), menjelaskan bahwa gerakan mahasiswa itu gerakan intelektual, gerakan pikiran, dan itu sudah dibuktikan IMM. DNA Mahasiswa itu kritik, tak ada satu kekuatan pun yang bisa menghentikan pikiran kritis Mahasiswa. Apabila di tengah kritis politik, karena tugas Mahasiswa mengkritik eskapisme.

Baca Juga: Reintegrasi Mahasiswa Menolak Kebijakan Elite Negara: Langkah Konkrit atau Isapan Jari Belaka?

Selanjutnya, kader IMM sebagai laboratorim moral karena didalam tri-citra IMM tertangkup kompetensi religiusitas yang terealisasikan sejalan dengan intelektualitas, dan humanitas yang bukan hanya secara konseptual melainkan diupayakan terimplementasikan dalam lahan kerja dakwah IMM.

Sejauh ini IMM mampu menghasilkan kader-kader yang religius yang siap untuk membekali diri dan siap pula  berkecimpung dalam masyarakat sebagai kader umat dengan senantiasa membumikan ajaran nilai-nilai Al-Islam Ke-Muhammadiyahan.

Kemudian, output dari sistem IMM sebagai laboratorium intelektual dan moral mampu menjadikan kader tersebut mentransformasikan untuk kepentingan umat, dan menjadi umat terbaik yang senantisa selalu memperkokoh iman menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang mungkar. Sebagaimana tertuang dalam Q.S. Ali-Imran ayat 110, yang artinya sebagai berikut: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan berian kepada Tuhan”.

IMM lahir bukan hanya sebagai organisasi pemikir maupun hanya sebagai organisasi gerakan tanpa pikiran. IMM lahir untuk menjadi organisasi yang selalu mengedepankan pemikiran dan merealisasikan dalam gerakan, serta menjadi organisasi yang terus berpacu mewujudkan insan akhlak mulia dengan secara radikal menumbuhkan pemimpin-pemimpin masa depan demi memperjuangkan Islam sebenar-benarnya.

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals