Kesombongan di Balik Ketawadukan

Rasanya berbeda di era yang penuh dengan persaingan di kalangan masyarakat awam. Seringkali ketawadukan hanya sebagai persembunyian di balik kesombongan mereka.


Seringkali kita mendengarkan filosofi tanaman padi. Tanaman padi yang tumbuh dari sebuah benih kecil dan tidak memiliki apapun, ia tumbuh menjadi besar dan berisi seiring berjalannya waktu. Semakin lama, ia akan tumbuh besar dan berisi. Akan tetapi setelah ia besar dan berisi ia semakin menunduk diri tidak meninggikan dagu.

Alquran telah menjelaskan akan kewajiban kita untuk memperhatikan ayat kauniyah Tuhan berupa ciptaan-Nya. Menilik sebuah fenomena alam yang kecil bisa menjadi sebuah pelajaran besar bagi manusia. Sebuah padi telah mengajarkan manusia akan arti kehidupan yang besar. Seseorang yang terus mengisi diri dengan kebaikan tidak lantas untuk dijadikan bahan kesombongan.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan semakin melejit di berbagai bidang. Perubahan terus berjalan seiring mengalirnya waktu baik yang berkonotasi kebaikan maupun berkonotasi keburukan. Manusia dituntut untuk menjadi makhluk serba bisa dengan ilmu pengetahuan yang berkembang.

Fenomena-fenomena tentang perubahan sering kita abaikan dalam skala kecil. Ketawadukan seseorang yang awalnya menjadi sebuah cara untuk merendahkan hati, banyak mengalami perubahan makna dan fungsi bagi sebagian orang. Ia mengalami sebuah disrupsi, sehingga bertolak belakang dari makna dan fungsi sebenarnya.

Para ulama telah memberikan contoh bagaimana akhlak tawaduk yang sebenarnya. Tawaduk memiliki makna merendah hati akan semua hal yang dimiliki agar tidak timbul sebuah rasa kesombongan. Semakin tambahnya ilmu ataupun yang dimiliki oleh para ulama, maka semakin rendahlah hati mereka. Bahkan bisa dikatakan bahwa ketawadukan mereka adalah cerminan dari filosofi padi di atas.

Namun rasanya berbeda di era yang penuh dengan persaingan di kalangan masyarakat awam. Seringkali ketawadukan hanya sebagai tempat persembunyian di balik kesombongan mereka. Pada hakikat dalam hatinya tumbuh rasa sombong, namun seakan-akan ia berwajah tawaduk. Mereka akan mengatakan bahwa ia tidak bisa apa-apa, namun dalam hatinya bertambah besar rasa kesombongan itu.

Agama Islam yang hadir sebagai agama rohmatan lil alamin sangat menyanjungkan sifat tawaduk. Syekh Ibnu Athoillah As-Sakandary menjelaskan bagaimana hakikat seorang manusia bertawaduk dalam karya fenomenalnya Kitab Al-Hikam:

مَنْ أَثْبَتَ لِنَفْسِـهِ تَوَاضُعًا فَهُوَ الْمُتَكَـبِّرُ حَقًّا، إِذْ لَيْسَ التَّوَاضُعُ إِلاَّ عَنْ رِفْعَةٍ فَمَتَى أَثْبَتَ لِنَفْسِكَ رِفْعَةً فَأَنْتَ الْمُتَكَـبِّرُحَقًّا

Siapa merasa dirinya tawadhu‘, maka dia benar-benar telah takabbur (sombong), sebab tiadalah ia merasa tawadhu‘ kalau bukan karena sifat tinggi darinya. Oleh karena itu, kapan saja engkau merasa dirimu tinggi, maka sungguh engkau telah takabbur”

Beliau Syekh Ibnu Athoillah As-Sakandary memberikan pengertian dalam kitabnya bahwa tawaduk timbul dari dalam hati yang ikhlas dan bersih. Sifat tawaduk jika telah diintervensi oleh niat dan tujuan lain, sudah tidak lagi memiliki jati diri. Kesombongan yang bersembunyi di balik ketawadukan akan tetap menjadi kesombongan.

Dalam kitab Al-Hikam juga dijelaskan bagaimana perbuatan bisa menghasilkan buahnya, yang berbunyi “Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab setiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam maka tidak sempurna hasil buahnya”. Analogi tersebut sangat menunjukkan bahwa sifat tawaduk memliki peran penting terhadap semua perbuatan agar menghasilkan buahnya.

Pada hakikatnya setiap orang memiliki potensi untuk bersombong diri, karena hal ini termasuk naluri individual. Akan tetapi naluri tersebut dapat dicegah oleh sosial yang berlandaskan nilai-nilai agama. Di sinilah fungsi tawaduk terhadap naluri kesombongan manusia tersebut. Maka dari itu, tawaduk yang dijadikan sebagai tempat persembunyian bukan termasuk tawaduk yang hakiki. Suatu hal dinilai bukan hanya luarnya saja, melainkan bagaimana kualitas di dalamnya diukur.

Pergeseran nilai terhadap tawaduk oleh sebagian orang menjadi hal yang tidak lazim dan dampaknya menyerupai kesombongan yang dilakukan secara terang-terangan. Tidak layak menjadikan ketawadukan sebagai alat untuk bersembunyi demi kesombongan yang dilakukan dengan sadar maupun tidak. Lalu, pantaskah tawaduk diintervensi oleh kesombongan?

Wallahu A’lam.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
11
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhamad Arju Shidqol Yaqin

Muhamad Arju Shidqol Yaqin adalah alumnus MAS Tahfidz Yanbu'ul Qur'an Menawan Kabupaten Kudus. Kini menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Geliat kepenulisan sudah sejak duduk di bangku MA sebagai Pimpinan Redaksi. Hingga kini terus mengembangkan skil tersebut di bangku kuliah dan menjabat kembali sebagai Pimpinan Redaksi. Saat ini menetap di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Lebih lanjut hubungi Email: [email protected] / 089657179726

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Telaah

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals