Ciri Ahli Ilmu yang Sejati

Ahli ilmu yang sejati tidak hanya menyampaikan Al-Haq semau hati, akan tetapi ia juga mempertimbangkan apakah Al-Haq yang ia sampaikan sekarang dapat berdampak baik?


Sumber foto: Alif.id

Kita mungkin sering kali menjumpai orang-orang yang merasa telah berilmu sampai-sampai merasa apa yang ia sampaikan adalah yang paling haq (paling benar) karena yang ia sampaikan bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Namun janganlah terlalu gegabah menyampaikan sesuatu meskipun yang ia sampaikan berupa dalil Al-Qur’an dan hadis sahih. Bukan di situ letak permasalahannya, akan tetapi letak permasalahannya adalah sudah tepatkah apa yang ia sampaikan? Apakah sesuai sasaran?

Pertanyaan tadi setidaknya bisa menjadi hal yang perlu dipikirkan ulang apabila hendak menyampaikan suatu yang dianggap haq.

Coba kita telaah ulang, bagaimana teladan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyampaikan yang haq dari lisannya. Karena Rasulullah adalah seorang ahli ilmu sejati.

Rasulullah ketika menyampaikan segala sesuatu atau menjawab pertanyaan yang sedang dibingungkan oleh para sahabat, maka Rasulullah menjawab dengan tepat dan sesuai sasaran.

Baca Juga: Perlukah Menyampaikan Berbagai “Versi Kebenaran” Kepada Umat?

Ahli ilmu yang sejati itu tidak hanya menyampaikan haq semau hati, akan tetapi ia juga mempertimbangkan apakah Al-Haq yang ia sampaikan sekarang dapat berdampak baik atau buruk bagi yang mendengar.

Mari kita lihat contoh teladan Rasulullah dalam hadis berikut ini:

عَنْ قَتَادَةَ قَالَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمُعاذٌ رَدِيفُهُ عَلَى الرَّحْلِ قَالَ يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ قَالَ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ قَالَ يَا مُعَاذُ قَالَ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ ثَلَاثًا قَالَ مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُخْبِرُ بِهِ النَّاسَ فَيَسْتَبْشِرُوا قَالَ إِذًا يَتَّكِلُوا وَأَخْبَرَ بِهَا مُعَاذٌ عِنْدَ مَوْتِهِ تَأَثُّمًا

Dari Qatadah berkata, telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunggang kendaraan sementara Mu’adz membonceng di belakangnya. Beliau lalu bersabda: “Wahai Mu’adz bin Jabal!” Mu’adz menjawab, “Wahai Rasulullah, aku penuhi panggilanmu.” Beliau memanggil kembali: “Wahai Mu’adz!” Mu’adz menjawab, “Wahai Rasulullah, aku penuhi panggilanmu.” Hal itu hingga terulang tiga kali, beliau lantas bersabda: “Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah, tulus dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan baginya neraka.” Mu’adz lalu bertanya, “Apakah boleh aku memberitahukan hal itu kepada orang, sehingga mereka bergembira dengannya?” Beliau menjawab: “Nanti mereka jadi malas (untuk beramal).” Mu’adz lalu menyampaikan hadits itu ketika dirinya akan meninggal karena takut dari dosa.” (HR. al-Bukhari)

Lihat dialog Nabi dengan Muadz. Nabi memberitahukan kepada Muadz bahwa barangsiapa mengucapkan kalimat syahadat, maka Allah akan mengharamkan neraka baginya (masuk surga). Mendengar itu lalu Muadz meminta izin untuk menyampaikan kebenaran tersebut dan sekaligus ingin menyampaikan kabar gembira tersebut kepada para sahabat.  Lalu lihat jawaban mengejutkan Nabi, Nabi menjawab “Jangan! Nanti mereka malas dalam beramal”.

Terlihat bahwa seorang ahli ilmu sejati tidak serta merta menyampaikan kebenaran dengan semau hati. Akan tetapi ia mengukur terlebih dahulu, apa dampak dari hal yang ia sampaikan. Hadis di atas menjadi contoh bahwa kebenaran harus disampaikan dengan melihat situasi dan kondisi yang tepat, meskipun yang ia sampaikan berupa kebenaran dan bahkan kabar gembira sekalipun.

Baca Juga: Dislokasi Kebenaran

Itu sebagai contoh pertama. Mari kita lihat lagi kasus lain dalam hadis berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ سَلَمَةَ مِنْ آلِ ابْنِ الْأَزْرَقِ أَنَّ الْمُغِيرَةَ بْنَ أَبِي بُرْدَةَ وَهُوَ مِنْ بَنِي عَبْدِ الدَّارِ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنْ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Shafwan bin Sulaim dari Sa’id bin Salamah dari keluarga Ibnu Al Azraq bahwa Al Mughirah bin Abi Burdah dan ia dari Bani Abd Ad Dar, mengabarkan kepadanya bahwa dia telah mendengar Abu Hurairah berkata; Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata; “Wahai Rasulullah, kami naik kapal dan hanya membawa sedikit air, jika kami berwudhu dengannya maka kami akan kehausan, apakah boleh kami berwudhu dengan air laut?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ia (laut) adalah suci airnya dan halal bangkainya.” (HR. Abu Dawud)

Mari kita ulang lagi cerita dalam hadis di atas, bahwa ada salah seorang sahabat yang merupakan seorang pelaut bertanya kepada Nabi untuk mencari tahu solusi fikih. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, kami ini kalau berlayar di laut hanya bisa membawa air yang layak untuk diminum itu sedikit, kalau kami gunakan air minum tersebut untuk berwudhu maka kami akan kehausan (tidak bisa minum), kira-kira apa solusinya untuk kami wahai Rasulullah? Kemudian Nabi menjawab, “Air laut itu suci dan halal bangkainya.”

Coba kita analisis kalimat dari jawaban Nabi “Air laut itu suci dan halal bangkainya”, mengapa Nabi menjawab sampai menyebutkan kesucian air laut serta status bangkai? Padahal sahabat tidak menanyakan hukum kesucian air laut, dan sama sekali tidak menanyakan masalah bangkai.

Ternyata dari situ Nabi telah memahami kondisi sang penanya tadi bahwa kebutuhan si penanya (si pelaut) itu tidak hanya pada air wudhu atau air minum saja, akan tetapi ia juga membutuhkan makanan. Maka apabila si penanya suatu waktu mengalami kondisi kehabisan makanan, maka bangkai di laut itu dapat menjadi solusi jika tidak menjumpai satu makanan pun.

Dari situ juga terlihat sosok ahli ilmu yang sejati, yakni Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila seseorang bertanya kepada Nabi, maka Nabi akan mengukur orang tersebut agar apa yang ia sampaikan memang bisa memberikan dampak positif kepada sasaran.

Mirisnya, sering kali kita menjumpai orang-orang di zaman sekarang yang merasa berilmu sangat menggebu-gebu dalam menyampaikan Al-Haq yang ia yakini. Tidak bisa mengukur dan menimbang secara jernih al-haq yang ia sampaikan. Bukannya mendapatkan hasil yang positif, justru sebaliknya malah dampak negatif yang dihasilkan. Maka dari itu, bijaksanalah dalam menyampaikan segala sesuatu.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Hadi Wiryawan

Master

Tim Redaksi Artikula.id | Orcid ID : https://orcid.org/0000-0002-7620-6246

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals