Meneladani Sikap Spiritual Panembahan Senopati

Dengan selalu terus-menerus membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela yang mengotorinya. Selanjutnya mengembangkan sifat-sifat terpuji yang diridhai Allah Swt.


Berbicara sikap kita hari ini khususnya yang berkaitan dengan sikap keberagamaan semakin hari semakin memprihatinkan. Bukan karena tidak sholat atau tidak menyembah Tuhan lagi, tapi perihal perilaku kita terkait akhlak dan unggah-ungguh.

Padahal sebagai orang yang taat beragama apalagi tekun menjaga kewajiban teologis semestinya mencerminkan akhlak yang baik, sebagaimana tertera dalam sebuah ayat, “Bacalah kitab (al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan ketahuilah mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (al-Ankabut/29:45). Keterangan dari ayat di atas menandaskan keterkaitan erat antara laku syariat dan kemapanan akhlak.

Namun, dalam prakteknya sangat jauh dari sikap sopan santun, terutama terhadap yang lebih tua. Entah karena ibadah yang dilakukan hanya sebagai ‘peluntur’ kewajiban atau sekenanya saja. Sehingga apa yang dikerjakan tidak memberikan dampak pada perilakunya.

Apalagi jika kita ingat kembali tugas yang diberikan Allah pertama kali kepada Nabi Muhammad Saw, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia”. (HR. Ahmad).

Bahkan sikap beliau pun telah disaksikan oleh Allah Swt sendiri, sebagaimana firman-Nya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (al-Qalam: 4).

Dari apa yang Nabi Saw sabdakan dan firman Tuhan di atas, berbicara akhlak atau unggah-ungguh tentu memiliki arti yang begitu penting dan luhur. Bahkan jika dilihat secara jauh ke depan berbicara akhlak sebagaimana Nabi Saw katakan sesungguhnya merupakan gambaran yang akan terjadi di masa mendatang. Hari ini banyak kita lihat baik di media maya maupun nyata, banyak orang yang mengaku beragama paling taat tapi melupakan sesuatu yang sederhana, yakni penataan akhlak atau unggah-ungguh.

Apa yang dipraktekkan dan dikatakan Nabi Saw terkait akhlak inilah yang kemudian telah meresap dan mengakar kuat di dalam masyarakat Jawa mengenai tata krama atau unggah-ungguh. Kata unggah mempunyai makna munggah (naik/mendaki). Hal ini sudah menjadi kebiasaan orang Jawa dalam menghormati orang lain didasarkan oleh tingkat kedudukan, derajat yang tinggi. Sedangkan ungguh mempunyai makna bertempat sesuai dengan sifatnya. Sehingga pada prakteknya orang Jawa selalu berhati-hati dalam bertindak dan bersikap kepada siapa pun.

Hal ini jugalah yang dilakukan oleh Panembahan Senopati pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Mataram Islam (1587-1601).

Jauh sebelum dirinya dinobatkan sebagai raja, Panembahan Senopati telah memperlihat sikap-sikap yang menunjukkan perilaku sopan terkait unggah-ungguh dan ketaatannya kepada agama seperti, olah batin (tafakur).

Sebagaimana diketahui bersama, Panembahan Senopati yang memiliki nama asli Danang Sutawijya atau yang juga bergelar Raden Ngabehi Loring Pasar (yang dipertuan di sebelah Utara pasar). Merupakan putra dari Ki Ageng Pemanahan yang ketika itu bersama-sama membuka Alas Mentaok atau yang sekarang disebut Kotagedhe, Yogyakarta. Menjadi wilayah perdikan (perdukuhan) dan yang di kemudian hari berkembang menjadi ibu kota Kerajaan Mataram Islam.

Sejak masih Danang Sutawijaya hingga menjadi Panembahan Senopati ing Alogo Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa, prilakunya serta unggah-ungguhnya telah mencerminkan sesuatu yang sangat legendaris, maka tidak heran jika tokoh ini menjadi panutan yang luar biasa. Hal ini pertama-tama bisa dilihat dari sikapnya yang konsisten dalam melakukan keteladanan di dalam menjalani hidup di tengah-tengah mayarakat.

Hal ini pun tergambarkan di dalam Serat Wedhatama karya agung Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IV (Raden Mas Sudira, 1811) dari Puro Mangkunegaran.

Adapun tujuan dari penulisannya Serat Wedhatama ini, yakni sebagai wahana pendidikan moral, karena di dalamnya mengandung ajaran tentang pendidikan akhlak dan budi pekerti yang luhur. Sebagimana kata Wedhatama itu sendiri, yang berasal dari kata Wedha dan tama.Wedha artinya pengetahuan dan ajaran, sedang tama artinya baik, tinggi nilainya, atau luhur. Dalam serat ini pun diajarkan untuk selalu meneladani leluhur. Alasannya agar kita sebagai masyarakat khususnya zaman sekarang tidak terjebak kepada kepemimpinan yang hanya pandai menebar pesona dan retorika saja, tapi pemimpin yang harus memberikan keteladanan akhlak dan moral yang baik dan mampu membawa masyarakatnya untuk bersikap hati-hati.

Contoh keteladanan yang diangkat dalam Serat Wedhatama terkait Panembahan Senopati, adalah sebagaimana bunyi bait ke-15 di dalam serat tersebut, “Nulada laku utama, tumrape wong Tanah Jawi. Wong agung ing Ngeksiganda Panembahan Senopati. Kepati amarsudi, sudane hawa lan nepsu” (Contohlah tindak utama, bagi kalangan orang Jawa (Indonesia) orang besar Ngeksiganda (Mataram) yaitu Panembahan Senopati. Yang tekun mengurangi hawa nafsu). Dan diteruskan bunyi Bait ke-21, “Ambawani tanah Jawa kang pandha jumeneng aji. Satriya dibya sumbaga tan lyan trahing Senopati. Pan iku pantes ugi tinelad labetanipun. Ing sakuwasanira. Enak lan jaman mangkin sayektine tan bisa ngepleki kuna” (Menguasai tanah Jawa (Indonesia) yang menjadi raja. Satria sakti terkenal tak lain keturunan Senopati. Hal ini pantas dicontoh jasa perbuatannya ala kadarnya. Disesuaikan dengan masa kini. Tentu saja tidak mungkin persis seperti zaman dahulu).

Memang pada saat ini, baik secara politik, sosial, dan pemerintahan sudah sangat berbeda jauh pada zaman dahulu. Namun, keteladanan yang diajarkan Panembahan Senopati terkait tentang pendidikan akhlak masih sangat relevan. Bahkan sangat dan sangat relevan, mengingat di tengah-tengah kondisi modern saat ini, yang sewaktu-waktu dan setiap saat mampu mengoyak-ngoyak sendi moralitas kehidupan kita.

Bait dalam Serat Wedhatama di atas menerangkan perintah untuk mencontoh Panembahan Senopati dalam kegigihannya menahan atau mengekang hawa nafsu.

Menahan hawa nafsu ini senada dengan makna sholat di atas sebagai penahan perbuatan keji (hawa nafsu) dan hasil dari sifat nafsu itu, yakni munkar. Jadi bisa dikatakan bahwa sholat bukanlah sesuatu yang didasari oleh gerak lahiriah semata. Tapi senantiasa menjaganya dengan selalu mengekang hawa nafsu. Karena kalau hanya dilakukan sebagai gerak lahir semata tanpa diiringi sikap untuk menahan hawa nafsu, maka ini tergolong pada sikap, sebagaimana tercantum dalam surah al-Ma’un,  lalai dalam sholat. Karena sholat yang dilakukan tidak mampu memberikan efek apa-apa di dalam kehidupan.

Adapun cara yang dilakukan Panembahan Senopati di dalam menahan atau mengekang hawa nafsu adalah sebagaimana bait ke-31 di Serat Wedhatama, yakni “Mangkono janma utama Tuman tumanem ing sepi Ing saben rikala mangsa Masah amemsuh budi Laire anetepi Ing reh kasatriyanipun Susila anor raga Wignya met tyasing sesami Yeku aran wong barek berag agama” (Begitulah manusia sejati gemar membiasakan diri berada dalam sepi pada saat-saat tertentu. Mempertajam dan membersihkan jiwa. Caranya dengan berpegang pada kedudukannya sebagai satria. Bertindak baik, rendah hati, pandai bergaul, pandai memikat hati orang lain. Itulah yang disebut orang yang menghayati/menjalankan agama).

Kebiasaan Panembahan Senopati untuk selalu bertafakur dalam sepi membuatnya mampu menghilangkan penyakit hati pada diri sendiri atau (ingsun). Selain selalu berlatih dengan menanamkan atau membiasakan diri dalam melakukan tindakan sifat-sifat terpuji, baik pada diri sendiri atau kepada orang lain. Adapun caranya dengan bertindak rendah hati atau yang orang Jawa kenal dengan nama andhap asor. 

Pitutur andhapasor sendiri merupakan moralitas orang Jawa mengenai budi pekerti tentang menghargai dan menghormati orang lain. Bahkan hal ini senada dengan perkataan Immanuel Kant, yang mengatakan “perlakukanlah seseorang dengan cara yang mulia, jika kamu ingin menerima hal yang sama. Dan jangan mudah memanfaatkan orang lain”.

Kemudian bertindak untuk selalu berdzikir, dan bertafakur (merenung). Sikap bertafakur ini sering dilakukan oleh Panembahan Senopati seperti halnya ketika dia melakukan tafakur dan tadabur yang dikenal dengan sedekap saluku tunggal untuk mencapai kehampaan diri (fana) dan menemukan hakikat hidup yang sebenar-benarnya tentang diri pribadi dan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt (Hablumminallah), di pantai Parangtritis, Yogyakarta. Selain itu, juga tidak lalai dengan peran sosial (Hablumminannas).

Apabila semuanya dilakukan, maka hati pun akan menjadi bersih yang selanjutnya mempunyai pengaruh positif, terhindar dari sifat munkar, yakni perbuatan yang diingkari oleh akal seperti marah, memukul, membunuh, dan bersifat congkak di hadapan orang lain.

Jadi selalu membersihkan jiwa pada hakikatnya merupakan sebuah proses untuk selalu menghindari dosa dan sifat-sifat tercela yang mengotori, dan selanjutnya mengembangkan sifat-sifat terpuji yang diridhai Allah Swt. Dari sini nantinya baru kita mampu menjadi khalifatullah fil ardhi yang menyebarkan Islam rahmatan lil alamin.

Sebagaimana gelar yang dipakai oleh Panembahan Senopati ing Alogo Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa, yang bermakna manifestasi wakil Allah di muka bumi untuk memakmurkan dunia (buwana) dengan berpegang pada hukum-hukum-Nya dan dilandasi oleh potensi-potensi perbuatan baik yang positif, bersih, dan berkualitas.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals