Melihat Awal Kebangkitan Mataram (Masa Panembahan Senopati)

Dalam buku ini, sosok Panembahan Senopati bukan hanya dilihat sebagai sosok politis. Akan tetapi lebih dari itu, yakni tokoh spiritual.


Dapat dikatakan bahwa Hermanus Johannes de Graaf (1899-1984) atau yang populer dikenal dengan nama Dr. H. J. De Graaf merupakan satu dari banyak nama sejarawan termuka, khususnya dalam bidang sejarah Jawa. Melalui beberapa karyanya seperti, De Eerste Moslimse Vorstendommen, (Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram), yang merupakan buku kedua seri terjemahan Javanologi. De Graaf yang merupakan sarjana lulusan Leiden University ini, mampu memberikan sumbangsih yang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya mengenai sejarah Jawa.

Salah satu karya terjemahan yang kembali dihadirkan oleh penerbit Mata Bangsa di tahun 2020 ini berjudul, De Regering van Panembahan Senopati Ingalaga (Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati). Meskipun buku ini merupakan cetakan ke IV (2020, edisi revisi) dari cetakan I (1985), cetakan II (1987), cetakan III (2001). Namun, nilai kesejarahan dan hasil kerja keras dari seorang De Graaf buku setebal 246 halaman ini dengan cermat mengulas salah satu sosok dalam episode sejarah abad ke-16 yang merupakan permulaan periode kebangkitan kerajaan Islam di Jawa, sebuah episode sejarah yang jarang terjamak, bahkan hingga sekarang kurang dijamah para sejarawan.

Baca juga: Meneladani Sikap Spiritual Panembahan Senopati

Adapun tutur sejarah yang beredar mengenai sosok Panembahan Senopati rata-rata didominasi oleh tutur sejarah dalam kerangka novel. Berbeda dengan karya De Graaf, buku ini mendasarkan uraiannya bertitik tolak pada kronik-kronik pribumi seperti, Babad Tanah Djawi dan Serat Kandha, dan sumber-sumber Belanda serta Portugis sebagai bahan pembanding. Meski dalam penulisan sejarah ini De Graaf mendapatkan pertentangan dari C.C Berg yang meyakini bahwa Panembahan Senopati hanyalah sosok fiktif rekaan Sultan Agung untuk membangun legitimasi tentang leluhurnya.

Namun, De Graaf dengan argumennya menyatakan bahwa Panembahan Senopati merupakan sosok nyata pendiri kerajaan Mataram yang sebenarnya. Perdebatan ini mungkin normal terjadi mengingat selama ini baik dalam narasi buku-buku pelajaran di sekolah dan nama besar Sultan Agung yang telah menjadi pahlawan nasional serta sejarah hidupnya telah difilmkan. Sosok Panembahan Senopati yang merupakan kakek dari Sultan Agung pun seakan hilang dari permukaan sejarah kerajaan Mataram.

Oleh karena itu, di dalam pendahuluan buku ini, De Graaf memulai dengan memperlihatkan narasi silsilah mengenai leluhur Panembahan Senopati yang dimulai sejak Prabu Brawijaya V Majapahit. Sesuatu yang menarik dari buku ini, mengingat penjelasan mengenai silsilah ini dimaksudkan sebagai bagian dari kronologis lahirnya sosok yang benar-benar nyata.

Pelajaran yang amat berharga saat ini, dimana belum lama ini kita dikejutkan oleh segelintir orang yang mengaku-ngaku sebagai raja mencoba meraup keuntungan. Sehingga dengan dihadirkannya silsilah di awal buku ini menjadi patokan yang serius tentang seseorang, apalagi seseorang itu berperan besar dalam sejarah.

Baca juga: Melihat Tradisi Keislaman di Kerajaan Mataram Islam

Selain itu, hal yang menarik lainnya dari buku ini adalah penyampaiannya yang secara konkrit saling terhubung satu sama lain sehingga membentuk satu peristiwa yang bulat dan tuntas, sehingga ketika berbicara mengenai peristiwa sejarah tidak timpang dan mengambang. Melihat keadaan suatu sejarah apalagi yang berkaitan dengan politik dan pemerintahan pada masa lalu, maka kita selalu tertarik akan kaitannya dengan sosok tertentu yang berperan besar dalam dinamika perpolitikan itu.

Maka buku ini pun sedikit banyak mengulas perjalanan tokoh-tokoh sebelum Panembahan Senopati seperti Ki Ageng Selo Grobogan Purwodadi, Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) pemimpin kerajaan Pajang, Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan (bapak Panembahan Senopati), Sunan Kalijaga, dan Sunan Kudus.

Ulasan mengenai sosok-sosok ini bukan tanpa alasan. Melainkan merupakan satu kesatuan sejarah yang melingkupi lahir dan berdirinya kerajaan Mataram pada masa Panembahan Senopati. Seperti jamak diketahui dan yang di tulis dalam buku ini juga Panembahan Senopati yang bernama asli Danang Sutawijaya dan jauh sebelum dirinya menjadi pendiri kerajaan Mataram pada masa itu adalah seorang anak dari Ki Ageng Pemanahan yang ikut serta berjuang melawan pemberontakan Arya Penangsang yang ingin menguasi kerajaan Pajang.

Kisah pertempuran antara Panembahan Senopati yang saat itu bernama Danang Sutawijaya dengan Arya Penangsang yang didasari atas sayembara yang berhadiah Alas Mentaok dan sekarang dikenal dengan nama Kotagede, di dalam buku ini diceritakan dengan sangat begitu detail pada bagian Bab VI. Sebuah cerita menarik yang sampai saat ini banyak menimbulkan penafsiran tertentu di kalangan masyarakat. Bahkan konon dari cerita ini muncul tradisi di masyarakat tentang simbol keris berajut bunga melati yang terselip dipinggang pengantin pria Jawa, bermula dari cerita Kyai Setan Kober milik Arya Penangsang ketika bertempur melawan Panembahan Senopati.

Baca juga: Makna Filosofis Pertemuan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul

Lebih lanjut, yang menarik dari buku ini dan mungkin jarang diketahui setelah menceritakan secara detail awal berdirinya kerajaan Mataram adalah sosok Panembahan Senopati yang tidak hanya dilihat secara politis sebagai penguasa Mataram akan tetapi sebagai sosok spiritual. Hal itu terlihat pada Bab X dari buku ini, yang menceritakan bagaimana sosok Panembahan Senopati yang rajin bertapa untuk memusatkan pikiran dalam mendekatkan diri kepada Tuhan serta sosoknya yang berlajar kepada Sunan Kalijaga terkait awal pendirian kraton Mataram di Kotagede sangat apik diceritakan dalam buku ini.

Tentunya, masih banyak lagi pelajaran serta nilai sejarah dari buku ini. Sebuah buku yang lahir dari tangan seorang yang di kalangan sejarawan disebut sebagai “father of the study of Javanese history”. Semoga hadirnya buku ini menjadi awal baik dari lahirnya diskusi yang menarik tentang sejarah peradaban negeri tercinta, bernama Indonesia. []

Judul Buku      : Awal Kebangkitan Mataram (Masa Pemerintahan Senopati)
Penulis            : Dr. H. J. De Graaf
Volume           : 246 hlm
Penerbit         : Penerbit MataBangsa Yogyakarta
Cetakan          : Cetakan ke IV edisi revisi (2020)

_ _ _ _ _ _ _ _ _

Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Apakah Anda menyukainya atau sebaliknya? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom bawah ya! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Resensi

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals