Bias Paham, Bias Jodoh Pula

Jodoh bukan semata-mata tentang kisah asmara saja. Kalau hanya dipahami sebagai kecocokan untuk menjadi suami atau istri, ya mandek di situ-situ terus.


Sumber ilustrasi: pixabay.com

Koma 10 : Bias Paham, Bias Jodoh Pula

Maka di antara Kaum Jarkoni itu, Judy lah yang masih saja mumetan. Selain perkara kuliah daring yang dia merasa ndak dapat apa-apa, sampai perihal (mantan) jodoh yang membekas padanya sebuah luka. Duh, sabar saja, Jud. Sabar itu indah, kok. Indahnya kapan? Ya sabar saja.

Ditemani speaker nirkabel yang dibawanya kemana-mana, Judy memutar playlist lagu 80an yang bernuansa asmara di teras markas. Bukan asmara yang bahagia, tentunya. Wong Judy sedang mumet gegara sepercik spoiler  tentang jodohnya besok belum kunjung nampak. Padahal juga masih kuliah, mbok ya fokus kuliah dulu sana.

Bosen, Jud. Nyetel lagu gituan terus dan mumetmu masih aja belum ada perubahan. Maumu gimana, toh?” celetuk Cak Slamet dengan membawakan kopi ke teras. Memang paham betul Cak Slamet ini, orang mumet harus dikasih dan diajak ngopi. Supaya mantep keseimbangan jiwa raganya.

“Gimana yo, Cak. Konsep jodoh yang masuk akal itu gimana? Di mana-mana banyak orang pacaran dan berujung putus. Jangankan pacaran, orang sudah nikah saja masih bisa cerai. Bukannya jodoh itu ya konektivitasnya dengan rusuk. Masak iya, sudah ketemu rusuknya kok bisa cerai? Piye toh?” Nasib Cak Slamet, memang. Siapa yang bikin konsep, siapa pula yang dimarahi.

“Memangnya kamu tahu gituan dari mana, Jud? Kok malah nesunya ke aku. Mbok di cross check duluan, baru nesu ke aku. Duh.”

“Sebagai anak muda kekinian yang aktif di media sosial, ya kebanyakan kubaca hal-hal gituan dari medsos, Cak. Sering juga dari temen-temen di tongkrongan. Jodoh itu cerminan dari diri kita, misalnya. Emang iya, ada yang betul-betul klop dengan kita sebagaimana bayangan kita di cermin?”

“Kamu ini mbok turun ke lapangan langsung, cari cewek sana yang bisa jadi jodohmu. Biar ndak kejebak di konsep terus tapi ndak ada praktiknya. Mbel.”

Jodoh bukan semata-mata tentang kisah asmara saja. Kalau hanya dipahami sebagai kecocokan untuk menjadi suami atau istri, ya mandek di situ-situ terus. Baju yang sering dan suka kita gunakan, gawai yang sering membersamai kita, hingga merek air mineral yang suka kita minum, apa coba kalau itu semua bukan jodoh kita?

Jodoh itu ya kecocokan itu sendiri. Aku berjodoh dengan baju yang sekarang kugunakan, misalnya. Tapi apa iya, baju itu bisa selamanya kukenakan sampai mati? Warnanya ndak bisa pudar kah? Kainnya ndak bisa melar kah? Dan segala potensi lain yang kelak bisa bikin aku dan bajuku tak lagi berjodoh.

“Itu cuma kumisalkan, lho, Jud. Jangan mentang-mentang kumisalkan wanita yang kau tunggu-tunggu itu sama dengan baju, terus kamu perlakukan dia sebagaimana polahmu memperlakukan baju. Wong bajumu aja semingguan dipake baru dicuci lagi. Kemproh.”

Nah, tetapi jodoh dalam konteks asmara kan ya subyek-obyeknya manusia. Manusia ini makhluk hidup, bukan sama betul dengan baju yang tak bernyawa. dulu Kan sudah pernah kita sinauni, manusia ini dibekali akal, hati, dan nafsu. Tergantung setiap dari kita mau bagaimana mengoptimalkan ketiganya agar tak ada ketimpangannya.

Tak terkecuali perihal durasi hidup bersama dengan jodoh. Ada yang sampai mati pun tiada yang memutuskan untuk cerai. Ada yang bertahun-tahun bersama, lantas memutuskan cerai. Ada pula yang baru beberapa minggu menikah, sudah cerai—seperti yang sering kita jumpai di portal berita dan akun-akun gosip. Maka apa bisa kita sebut orang yang pisah di tengah jalan itu tidak berjodoh? Belum tentu.

Kembali ke konteks jodoh secara general, bahwa jodoh itu ya urusan kecocokan. Mau sampai mati, mau sampai bertahun-tahun, atau mau sampai berminggu-minggu, itu tetap saja jodoh. Kalau toh antara kedua pihak sama-sama merasa klop pada mulanya, lantas apa salahnya? Kita merasa berjodoh dengan sesuatu kan wani legowo terhadap kekurangan dan kelebihannya. Neriman.

“Siapa pula yang bisa menjamin kamu bisa hidup bareng sama dia selamanya, Jud? Kamu berani menjamin? Memang kamu ini siapa, kok berani-beraninya menjamin?”

“Terus apa pula maksudnya jodoh itu cerminan diri kita, Cak? Jaminan apa yang kita berikan, kok kita berani menyebut jodoh itu cerminan diri kita?” Powerful betul si Judy kalau urusan beginian.

“Selama ini, apa yang kamu pahami tentang jodoh itu cerminanmu? Setelah kujelaskan babagan jodoh, paling ndak kamu sudah tahu jodoh itu apa. Tinggal cerminnya, bagaimana cerminan yang kamu maksud?

“Kalau saja aku orang baik, maka jodohku orang baik juga, Cak. Pun andai aku orang buruk, maka jodohku nanti orang buruk juga. Kan konsepnya mirip-mirip sama cermin, Cak. Kita bercermin, yang nampak ya itulah diri kita.”

“Bukannya cermin itu membalikkan bayanganmu ya, Jud? Kalau kamu berdiri menghadap cermin, apa iya tangan kanan dan kirimu tidak merasa terbalik? Tangan kananmu akan nampak sebagai tangan kiri di bayangan cerminmu.”

Inilah poin yang mungkin sering luput dari pandangan orang. Memang betul kalau bayangan yang dihasilkan cermin itu ya diri kita sendiri. Tapi cermin juga punya sifat membalikkan bayangan, yang kanan menjadi kiri, dan sebaliknya. Toh jenis cerminnya sendiri ndak disebutkan; datar, cekung, atau mungkin cembung? Generalisir teroooos

“Nah, dengan adanya konsep cerminan diri itu, ada pula konsep jodoh sebagai pelengkap diri, Jud. Sakjane ya sama saja dengan kita tahu jodoh sebagai cerminan itu bagaimana, ya kita harusnya tahu bersikap bagaimana.”

Dengan bayangan yang maya, dengan inversi bayangan yang terjadi di cermin, dan dengan biasnya pemahaman baik-buruk, maka di sinilah pengoptimalan diri diperlukan. Pembiasan yang entah dari mana sumbernya, harus dipelajari secara runut sebab-sebabnya. Ya harusnya kita tahu itu buat apa. Bahasa dari Allah seperti Khair, Ma’ruf, Biir, Shalih, Thayyib, dan Hasan saja masih kita samakan artinya dengan “Baik”.

“Baik” dalam bahasa kita sendiri kan sangat universal, begitu juga “Buruk”. Tidak sespesifik dan sekaya bahasa Allah, bahasa Arab. Misal saja, kita lebih baik dan mampu dalam berkesenian, dan jodoh kita lebih baik dan mampu dalam akademis. Maka bukankah sebuah kemesraan bila kita saling melengkapi satu sama lain?

Ah, tapi kemesraan itu sendiri juga preferensi tiap orang. Ada pula yang menilai kemesraan itu di kala si pria dan wanita sama-sama menyukai dunia musik, misalnya. Ya tidak ada salahnya juga, kan. Pada ujungnya, jodoh sebagai pelengkap diri adalah jodoh sebagai cerminan diri pula. Toh dengan sebesar-besarnya dan setinggi-tingginya kriteria jodoh yang kita inginkan, mau apa kalau dipertemukan dengan jatuh cinta pada pandangan pertama? Hayo.

“Eh, Cak. Tapi misal aku dan jodohku sama-sama menyukai dunia musik pun, kan masih general juga. Bisa jadi aku lebih handal bermain gitar, dan dia handalnya di vokal. Hayo, gimana, Cak?”

Karepmu. Mlz.”

_________

Seri “Koma” merupakan kisah kasih perkopian Cak Slamet bersama rekan-rekannya, yang ngrasani isu sosial, politik, budaya dan sebagainya, dengan bahasa yang akrab digunakan ‘Kaum Ngopi‘.

Editor: Ahmad Mufarrih

Baca juga seri “Koma” lainnya:

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Duljabbar

Master

Alumni Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang | Kini sedang mblakrak di Yogyakarta

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Cerpen

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals