Aruna kembali bersinar menerpa wajahku. Tetapi anehnya, Aruna tampak lebih terik dari biasanya. Apakah aku bangun kesiangan? Padahal hari ini adalah giliranku untuk piket kelas. Aruna…, Apakah engkau telah ingkar dengan janji abadi kita? Engkau terlambat bangunkan aku di saat yang tidak tepat. Setidaknya Ibu Sasmita bisa memaafkan keterlambatanku.
“Aruna, saatnya kita liburan. Bukan saatnya bangun kesiangan.”
Dengan mata yang setengah sadar menatap wajah yang tampak aku kenal.
“Aruna! Cepat mandi dan bereskan buku-bukumu ini. Ayah sudah memasakkan sarapan untuk kita. Semoga Ayahmu kali ini tidak menggosongkan sarapan kita lagi, hahaha”
Tawa manis malaikat yang mengejutkan dada ini. Sesak dan begitu sesak rasanya di dada ini. Air mata mulai membasahi mataku, namun bukan lagi karena pilu. Haru iya, tetapi haru bahagia.
Seketika aku berteriak…
“Ibu! Aku kangen, Ibu!”
“Kamu ini habis baca novel drama lagi ya? Gak ada habis-habisnya setiap selesai baca pasti paginya gini. Haduuhh… Cepat bereskan kamar dan segera ke bawah. Persiapkan baju ganti yang mau dibawa! Kita mau ke Jogja hari ini.”
“Oke! Baik,bu!” jawabku sambil tersenyum lebar.
***
Aruna, Aruna, Aruna. Sekarang aku tahu mengapa aku begitu menantikan pagi hari tiba. Ini yang kurindukan. Suasana hangat ibuku yang galak membangunkanku. Turun dari tangga dan disambut oleh asap hitam dari dapur. Hahahaha…. Iya, itu Ayahku yang sedang belajar memasak. Ibu selalu membiarkan ayahku untuk menyiapkan sarapan sembari dia belajar memasak. Mungkin Ayah bisa menjadi koki tentara di kapal lautnya. Hahaha… kehangatan Aruna memanglah rindu yang dinantikan, tetapi rindu hangatnya keluarga adalah yang kuinginkan. Terima kasih Aruna. Cahaya Matahari…
Baca juga: Kuntilanak dan Mata Air Oenasi
***
“Aruna!!! Aruna!!!” orang-orang meneriakan namaku dari luar rumah. Aku tahu mereka menangis pilu memanggil namaku. Meski dari atas sini, wajah mereka tak nampak jelas, karena Aruna mulai terbenam. Tetapi getaran hati tangisan mereka telah menembus hingga ke langit tempat aku kini berpijak.
Iya… Saat-saat terakhirku adalah berdoa dan menggenggam gelas tehku. Sekarang aku tahu betul mengapa aku menggenggam gelasku begitu erat. Rumahku dijarah oleh sekumpulan orang kelaparan. Mereka merampok rumahku saat aku sedang berdoa di meja makanku. Dan satu di antara mereka menusukku dari belakang.
Tidak ada yang tahu jika aku mati terbunuh di rumahku. Wajar jika tidak ada yang tahu, karena aku tinggal di desa yang jarak antar rumah saling berjauhan. Teman sebangkuku ataupun Alwan, laki-laki yang aku punya rasa terpendam dengannya, juga menganggap aku ketiduran saat akan berangkat sekolah. Hingga saat sore tiba, seorang mantan teman ayahku dari TNI Angkatan Laut mengunjungi rumahku. Dia mendapatiku berlumuran darah di dada. Dan berlumuran tangis di mata.
Memang saat ini aku dan kedua orang tuaku akan bertamasya. Tetapi bukan ke Yogyakarta seperti yang dikatakan ibuku. Maksud ibuku itu adalah Ayogya (atau Ayodhya) yang berarti kedamaian. []
Baca juga cerpen-cerpen lainnya di sini!
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Apakah Anda menyukainya atau sebaliknya? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom bawah ya!
Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!



One Comment