Sesampainya di rumah, aku langsung menyalakan televisi. Entah harus bagaimana caranya mengusir kabut pilu dari rumah ini. Serasa aku ingin sekali cepat-cepat pagi menyapaku kembali. Bukan hanya karena ingin Aruna menyapaku kembali, tetapi juga karena jarak antar rumah di desaku ini begitu jauh. Setidaknya hidup di desa dapat melihat kilauan mutiara mustika langit yang tidak dapat dinikmati penduduk kota.
Sesaat aku sedang menyeduh teh di depan tv, tiba-tiba ada suara memanggilku di lantai atas.
“Aruna! Bersihkan kamarmu ini! Berantakan sekali!”
Dengan cepat aku langsung berlari ingin menyahut asal suara itu. Seketika aku membuka pintu…
“Iya, bu. Akan ku ber…”
Senyumanku seketika luntur. Bukan karena buku novel favoritku hilang ditelan serakan buku-buku novelku yang lain. Tetapi karena rasa halu dipadu rindu terhadap ibuku yang telah meninggal karena pandemik virus tahun lalu.
Baca juga: Barista Para Nabi
Sepertinya tidak ada opsi menahan tangis di pikiranku saat ini. Suara yang kurindu setahun lalu dan belaian tangan terakhir ayahku adalah sebab mengapa Aruna harus terbenam di kala malam tiba. Malam adalah jadwal keseharianku untuk bertemu dengan hujan rindu.
Kakiku tiba-tiba melemas. Dan seketika beton kaki ini serasa runtuh didera tangis rindu yang mengalir di mataku. Aku menangis begitu terisak ditemani gelapnya kamar tidurku. Tidak sempat aku menyalakan lampu kamar ini, hanya karena tergesa-gesa untuk bertemu dengan bayang ibuku.
Aku mencoba berdiri dari duduk bersimpuhku. Menatap keluar jendela yang langsung disambut pemandangan sawah di malam hari. Satu-satunya cahaya yang menemaniku hanya bintang-bintang dan cahaya chandra yang begitu menenangkan. Aku mencoba meraih gorden jendelaku. Lalu kututup agar tak ada yang dapat melihatku menangis seperti ini, meski itu hanya bulan dan burung-burung malam yang hinggap di balkon rumahku.
Dengan badan yang lemas aku mencoba kembali ke ruang keluarga. Tidak, ruang itu tidak ada. Tetapi hanya sekedar nama saja. Tidak ada suara canda tawa keluarga di ruang ini. Hanya suara tawa canda para tokoh komedi di tv.
Aku duduk di meja makan yang terlalu luas untuk kecilnya badan ini. Seorang anak SMP yang diberi nama oleh ayahnya dengan harapan anaknya dapat sebermanfaat cahaya matahari untuk orang banyak meski tampak dari bumi, matahari begitu kecil. Dengan menatap teh yang belum selesai ku seduh, aku berdoa kepada Tuhan.
“Tuhan, tak apa aku harus didera rindu yang begitu dalam kepada orang tuaku. Engkau hadirkan suara, wajah, bahkan keduanya di hadapanku. Tak apa, aku rela meski harus melawan tangis. Setidaknya bukan tangis yang perlu aku salahkan jika aku esok tidak dapat berangkat sekolah lebih awal.”
“Tuhan, jika memang engkau mencintai orang tuaku. Pertemukanlah aku pada mereka lewat mimpiku malam ini. Aku rela menukarkan pertemuanku itu dengan cahaya indah bulan di desaku. Aku rela kehilangan Aruna setiap pagiku. Aku rela kehilangan suara burung-burung yang membangunkanku esok.”
“Tuhan, mungkin ini doa terakhirku. Ibuku seorang dokter. Ia pergi ke berbagai kota hanya untuk bertamasya melawan wabah virus di negaraku. Ia syahid membela mahluk terbaik di sisi-Mu. Meski manusia lupa kepada rahmat-Mu.”
Baca juga: Sang Tukang
“Tuhan, sepekan lalu dunia kehilangan tentara terbaik. Ia adalah pahlawan yang rela gugur demi mengamankan negeri kami. Ia mati di tangan penjarah yang kelaparan karena sudah lebih dari setahun dampak wabah ini tak kunjung henti. Tetapi bukan karena penjarah itu ia mati. Tetapi mungkin Engkau terlalu rindu dengan dia, Ayahku.”
“Tuhan, pertemukan aku dengan mereka. Meski jiwa ini telah basah tercebur kolam dosa. Tetapi setidaknya jiwa ini akan kering berkat rahmat-Mu. Aku …”
Kemudian aku tertidur karena terlalu banyak tersedu sambil menggenggam gelas tehku.
***



One Comment