Merekonstruksi Kembali Makna Fitnah

Ternyata kata ‘Fitnah’ memiliki beragam arti. Hal itu tentunya disesuaikan dengan konteks ayat Al-Qur’an.


Sumber gambar: kompasiana

Kata ‘Fitnah’ merupakan kata yang biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Kalimat seperti “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan,” atau “Jangan suka memfitnah seseorang,” tidak asing lagi dalam telinga kita. Lantas apakah penafsiran tersebut sudah benar dan tepat? Apakah kalimat tersebut sudah sesuai dengan porsi dan kedudukannya?

Jika kita lihat dalam KBBI, fitnah berarti perkataan bohong atau tanpa kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang. Memandang dengan masifnya perkembangan teknologi terutama media sosial saat ini, orang dengan begitu mudahnya menyebarkan fitnah melalui media seperti Facebook, Instagram, Twitter dan lain-lain. Dengan hanya mengandalkan gadgetnya, orang bisa langsung menyebarkan fitnah dengan hitungan detik saja.

Lalu bagaimana penafsiran ulama dalam Al-Qur’an tentang makna fitnah ini? Apakah semua kata fitnah memiliki pengertian dan maksud yang sama? Tentu jawabannya tidak. Kata fitnah memiliki banyak pengertian yang berbeda-beda sesuai dengan konteks ayat. Tidak semua kata fitnah bisa diartikan dengan perbuatan bohong. Dalam hal ini penulis akan mencoba menjelaskannya secara terperinci tentang makna kata tersebut.

Penulis akan mencoba menjelaskannya dengan mengunakan ilmu Wujuh dan Nazhair. Wujuh dan nazhair adalah salah satu cabang dari Ulumul Qur’an. Wujuh menurut imam Zarkasyi dalam kitabnya al-Itqan adalah satu kata yang memiliki banyak pengertian dan tujuan seperti kata فتنة yang memiliki arti syirik, kafir, azab dan lain-lain. sedangkan nazhair adalah kata yang berbeda-beda tapi memiliki arti yang sama seperti lafadz انسان  dan بشر yang mempunyai arti manusia.

Baca Juga: Membumikan Ulumul Qur’an

Adapun penjelasannya secara terperinci adalah sebagai berikut:

Pertama, fitnah bermakna syirik. Makna tersebut bisa kita dapati dalam surat al-Baqarah [2]: 193, “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” Dalam surat ini bisa kita ketahui bahwa kata fitnah memiliki arti syirik, bukan hanya bermakna perkataan bohong. Korelasinya adalah perintah untuk berperang melawan kaum kafir adalah untuk menghilangkan kesyirikan, mengajak kepada menyembah Tuhan yang Esa yakni Allah SWT. Tidaklah tepat kalau diartikan dengan perintah berperang dengan kaum kafir dengan tujuan supaya mereka tidak berkata dusta. Makna yang sama juga terdapat dalam surat al-Baqarah [2]: 217, “Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.”

Kedua, fitnah bermakna kekafiran. Hal tersebut dijumpai dalam surat an-Nur [24]: 63, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” Hal yang senada terdapat dalam surat al-Hadid [57]: 14, “Tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri.”

Ketiga, fitnah bermakna azab di dunia. Terdapat dalam surat al-‘Ankabut [29]: 10, Maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Yakni ayat ini turun karena peristiwa ‘Iyas bin Abi Rabi’ah, saudara Abu Jahal yang menjadikan azab manusia di dunia seperti azab Allah. Dalam surat lain dengan bermakna azab yaitu surat an-Nahl [16]: 110, “Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan.”

Keempat, bermakna bala’ atau cobaan. Terdapat dalam surat al-Ankabut [29]: 1-3, “Alif laam miim.[1]Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji[2]? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka.” jika dibahasakan secara sederhana, maknanya kurang lebih orang beriman tidak akan aman dari fitnah (cobaan) untuk menguji keimanan mereka. hal ini didukung oleh ayat yang lain yang terdapat dalam surat al-Baqarah [2]: 155, “Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Kelima, bermakna membakar dengan api. Seperti dalam surat al-Buruj [85]: 10, “Sesungguhnya orang orang-orang yang mendatangkan cobaan (bencana, membunuh, menyiksa) kepada orang mukmin laki-laki dan perempuan.” Dalam hal ini, fitnah yang dilakukan orang kafir bukan melalui perkataan, tetapi dengan fitnah fisik seperti membunuh, membakar, dan lain-lain seperti yang kita ketahui dalam tarikh. Peristiwa yang dialami oleh Bilal bin Rabah adalah salah satu contoh fitnah yang ia terima. Hal yang serupa dalam surat ad-Dzariyat [51]: 13, “(Hari pembalasan itu ialah) pada hari (ketika) mereka diazab di dalam api neraka.” Orang yang tidak beriman juga difitnah di dalam api neraka, yakni dengan cara dibakar.

Baca Juga: Memahami Kisah-Kisah dalam al-Qur’an Menurut Abid Al-Jabiri

Keenam, bermakna pembunuhan. Dapat kita lihat dalam surat an-Nisa [4]: 101, “Jika kamu takut difitnah (diserang) orang kafir,” hal ini berkaitan dengan kebolehan pelaksanaan salat dengan cara qashar (diringkas), jika kita takut apabila difitnah (dibunuh) oleh orang kafir. Menariknya di sini ternyata makna yang biasa dipakai orang-orang Indonesia yaitu “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan” tidak sesuai dengan yang ada dalam Al-Qur’an. Ayat yang biasa disalah artikan tersebut aslinya bermakna kekufuran. (Lihat makna fitnah yang pertama).

Ketujuh, bermakna membelokkan. Lihat dalam surat al-Ma’idah [5]: 49. “Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” Dari ayat ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Allah SWT mewanti-wanti Nabi Muhammad SAW supaya tidak terkena fitnah kaum kafir. Dalam hal ini fitnah bermakna membelokkan atau menyesatkan.

Kedelapan, bermakna kesesatan. Dapat kita temukan dalam surat al-Maidah [5]: 41, “Barang siapa yang dikehendaki Allah untuk dibiarkan sesat, sedikitpun engkau tidak akan mampu menolak sesuatu pun dari Allah (untuk menolongnya).” Maksudnya, jikalaulah Allah sudah memfitnah (membiarkan sesat) kepada seseorang, maka tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkannya. Tentunya kita masih ingat dengan kisah paman Nabi yakni Abu Thalib yang begitu dekatnya dengan Nabi, tetapi Allah tidak memberinya hidayah bahkan Nabi pun tidak dapat menolongnya.

Kesembilan, bermakna  permohonan maaf. Terdapat dalam surat al-An’am [6]: 23, “Kemudian tidaklah ada jawaban bohong mereka, kecuali mengatakan, ‘Demi Allah, ya Tuhan kami, tidaklah kami mempersekutukan Allah’.” Ayat ini berkaitan dengan penyesalan orang musyrik yang diazab di neraka dengan sebab kesyirikan mereka.

Kesepuluh, bermakna  gila. Hal ini dapat kita lihat dalam surat al-Qalam [68]: 5-6, “Maka kelak engkau akan melihat dan mereka (orang-orang kafir)pun akan melihat (6) Siapa diantara kamu yang gila?”

Kesimpulannya ternyata kata ‘Fitnah’ memiliki beragam arti. Hal itu tentunya disesuaikan dengan konteks ayat Al-Qur’an.

Sumber rujukan:
Al-Qur’an al-Karim
Kitab Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an
Kitab Mu’jam Mufahras li Alfazhil Qur’an
Kitab Wujuh dan Nazhair karya Ad-Damaghani

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

 

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Rizki
Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Dirasah

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals