Memahami Kisah-Kisah dalam al-Qur’an Menurut Abid Al-Jabiri

Kisah-kisah al-Qur’an memiliki ciri tersendiri yaitu sebagai bentuk kemukjizatan al-Qur’an semata. Abid menyimpulkan bahwa kisah-kisah al-Qur’an sebagai media dakwah


Sumber: mjscolombo.com

Menurut Abid al-Jabiri, kisah-kisah al-Qur’an memiliki ciri tersendiri selain dianggap sebagai bentuk kemukjizatan al-Qur’an semata. Yang paling penting ialah bagaimana Abid menyimpulkan bahwa kisah-kisah al-Qur’an sebagai media dakwah Nabi.

Hal ini karena Abid termasuk Ulama tafsir yang meyakini bahwa sebagian kisah-kisah al-Qur’an merupakan peristiwa simbolis. Berikut penjelasan tentang kisah dalam al-Qur’an menurut abid al-Jabiri.

Kisah-Kisah Dalam Al-Qur’an Menurut Abid Al-Jabiri 

Baca Juga: Kisah Al-Qur’an: Fakta atau Fiktif?

Pertama, Sebagai jenis analogi/perumpamaan. Perumpamaan di sini bukan perumpamaan secara hakiki maupun karena hakikatnya. Akan tetapi, sebagai bayan (penjelasan), untuk mengambil pelajaran dan sebagai petunjuk, terutama petunjuk bagi Nabi dalam menjalankan misi dakwahnya. Contoh: QS. Al-A’raf: 176-177.

Kedua, Tergantung pada unsur/substansi al-Qur’an itu sendiri. Seperti kisah-kisah Nabi dan Rasul yang dalam konteks ini adalah kisah tentang perjalanan hidup mereka. Ketiga, Keterkaitan kisah al-Qur’an dengan sejarah yang dipahami secara hakikat. Kehakikatan sejarah yang dimaksud ialah bagian dari sejarah yang suci. Sejarah yang menceritakan kitab-kitab samawi.

KeempatKisah-kisah al-Qur’an mengikuti tartib nuzul. Sehingga, kisah al-Qur’an dibagi menjadi kisah menurut surah-surah Makkiyah dan kisah menurut surah Madaniyah. ( Abid al-Jabiri, Madkhal ila al-Qur’an al-Karim: 2006).

Kelima, Klasifikasi kisah-kisah al-Qur’an yang terbagi menjadi tiga kategori: Kategori pertama, kisah-kisah yang meliputi Nabi-nabi Ashab al-qura (dari Nabi Adam, Nuh, hingga masa Nabi-nabi Bani Israil). Kedua, Nabi-nabi Bani Israil.

Dan ketiga, khusus fase Madinah yang meliputi kisah-kisah adu argumentasi dengan kaum Yahudi dan Nasrani tentang konsepsi Tuhan, keingkaran mereka atas nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan Tuhan dan keutamaan mereka, serta kesesatan dan kedurhakaan mereka dari agama Ibrahim sebagai nenek moyang Nabi-nabi mereka, agama yang diklaim sebagai agama yang lurus yang dengannya hadirlah risalah Muhammad sebagai penerus dari agama tersebut.

Kategori tersebut dilakukan berdasarkan tujuan atau i’tibar dari kisah-kisah al-Qur’an yang memengaruhi dakwah Nabi. Oleh karena itu, terkait hal ini kisah-kisah al-Qur’an dibagi menjadi tiga fase berdasarkan tartib nuzul, dua fase Makkiyah dan yang ketiga fase Madaniyah: Fase pertama meliputi QS. Al-Fajr: 10 hingga QS. Al-Qamar: 37. Fase kedua yang dimulai dari QS. Sad hingga QS. Al-‘Ankabut: 85. Fase ketiga periode Madaniyah, dari tahun pertama hijrah hingga wafat Nabi.

Kisah-kisah Makkiyah Kategori pertama: kisah-kisah yang terkait Ahl al-Qura (kaum ‘Ad):

Contoh dalam QS. Al-Fajr secara eksplisit sekilas menampilkan kisah kaum ‘Ad, Samud dan Fir’aun. Atau yang lebih tepatnya ialah dalam QS. Al-Fajr diceritakan bagaimana Tuhan membalas perbuatan mereka dengan menurunkan azdab dan membinasakan mereka karena kaum-kaum tersebut berlaku sewenang-wenang dan membuat kerusakan pada negeri-negeri yang ditempatinya. Ayat ini turun dilatari dengan kebingungan Nabi terhadap kaum Quraisy yang banyak membangkang.

Abid mengemukakan bahwa tidak ada keterkaitan antara kasus kejadian tersebut dengan kisah-kisah dari QS. Al-Fajr. Akan tetapi, ayat tersebut berfungsi sebagai peringatan kepada kaum Quraisy. Abid mengutip pendapat al-Qurtubi bahwa kasus kaum ‘Ad, Samud dan lain sebagainya saat itu sangat masyhur di kalangan bangsa Arab.

Begitu pula dengan beberapa keyword lain seperti, fir’aun dan hijr yang memiliki keterkaitan di kalangan Arab. Oleh karena itu, menurut Abid surah tersebut khitabnya kepada Nabi sebagai pengingat Nabi sebagaimana kasus kaum ‘Ad dan sebagainya dan menguatkannya bahwa Tuhannya benar-benar mengawasi orang-orang yang mengindahkan Nabi.

Kisah-Kisah Tentang Nabi-Nabi Terdahulu

Contoh kisah Nabi Dawud, yang dalam hal ini terdapat dalam QS. Sad. Sebagaimana sebelumnya, QS. Sad khitabnya ditujukan kepada Nabi. Ayat tersebut menasihati agar Nabi bersabar dan mengingat bagaimana ujian yang dihadapi oleh Nabi Dawud yang dianugerahi kerajaan besar dan mewah oleh Allah yang kemudian kerajaan besar tersebut telah dijadikan Allah fitnah (ujian yang besar) dengan tujuan untuk mengujinya.

Baca Juga: Belajar dari Pengalaman Hidup Nabi Adam dalam Al-Quran

Maka, ketika dia ingat, Dawud meminta ampun kepada Tuhannya dan Tuhannya mengampuninya, kemudian ia berwasiat dengan hukum-hukum Tuhan dan berlaku adil serta tanpa mengikuti hawa nafsunya.

Bagian kedua Kisah tentang Adam dan Iblis. Kisah Nabi Adam dan Iblis terdapat dalam QS. Al-A’raf yang dalam kasus tartib nuzul turun setelah QS. Sad. Dalam kisah ini mukhathabahnya adalah Nabi yang menguatkan bahwa al-Qur’an yang diturunkan kepadanya adalah kitab dari Allah.

Maka, seharusnya ia tidak akan merasakan bagaimana sulitnya menyampaikannya kepada kaumnya, memperingati kaum Mukadzdzibin dan mengingatkan kaum Mukminin untuk tidak menjadikan pelindung selain Allah sebagaimana kaum sebelum mereka yang dibinasakan karena perbuatan mereka. Hal ini sesuai dengan kasus beberapa ayat yang menggambarkan bagaimana kaum-kaum yang menjadikan selain Allah pelindung dan menyembah berhala atau menyembah selain Allah.

Adapun khithab yang menunjukkan kepada kaum Quraisy ialah kisah Nabi Adam dan Iblis. Kisah yang dimulai dengan penciptaan Adam di langit dan Allah menyuruh para Malaikat untuk bersujud kepadanya, kecuali Iblis yang enggan bersujud. Ketika Allah menanyakan penyebab yang melarangnya atau menjadikannya enggan bersujud, Iblis berdalih dengan asal penciptaan Adam.

Kisah-kisah yang tergolong Madaniyah 

Kisah-kisah yang termasuk Madaniyah ini telah disebutkan oleh al-Jabiri bahwa kisah-kisah ia golongkan Madaniyah masuk pada fase ketiga. Kisah yang termasuk pada fase ketiga ialah kisah-kisah yang menceritakan tentang perdebatan dengan ahl al-kitab.

Kisah Adam dalam QS. Al-Baqarah (sebagai surah pertama yang turun di Madinah dan dikategorikan sebagai kisah Madaniyah). Menurut Abid, ada unsur cerita baru dalam surah ini jika dilihat dari sisi tartib nuzul.

Kisah Adam dan Iblis dalam al-Baqarah dimotori oleh adanya kisah tentang perbantahan dengan kaum Yahudi, yaitu mereka yang melanggar perjanjian, sewenang-wenang dan merusak di bumi. Mereka lalu dihadapkan dengan pertanyaan QS. Al-Baqarah: 28. Oleh karenanya, manusia diingatkan dengan adanya ayat tersebut sebagaimana Allah telah menganugerahkan kemampuan hidup di bumi.

Selanjutnya, di langit (langit ke-7), menurut Abid inilah informasi baru yang secara eksplisit yang belum disebutkan dalam kisah Adam yang terdapat pada ayat-ayat Makkiyah, yaitu Allah memberitahukan para Malaikat bahwa Ia akan menciptakan Adam sebagai khalifah di bumi.

Namun, tampak jelas adanya keberatan para Malaikat terhadap penciptaan manusia di bumi karena prediksi kelakuan manusia yang sudah mendarah daging. Jelas bahwa protes Malaikat berbeda dengan protes Iblis pada ayat-ayat Makkiyah sebelumnya. Iblis protes karena merasa bahwa ia lebih unggul dari Adam dari segi unsur penciptaannya.

Sedangkan Malaikat protes karena bentuk Adam (dan anak keturunannya) yang dapat merusak di bumi dan potensi menumpahkan darah. Walaupun mereka juga dapat selalu memuji dan mensucikan Allah. Sampai di sini, kisah penggodaan Iblis terhadap Adam, Hawa dan anak keturunannya sama dengan kisah yang terdapat pada ayat-ayat Makkiyah sebelumnya.

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Al-Qur'an dan Hadis

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals