Hujan yang Turun di Sebuah Kisah

“Suatu saat nanti aku tidak mau punya istri, karena itu bisa merubah aku dan ibuku jadi orang yang menakutkan.” Kata Herman. 8 min


4
4 points

Sambil berjalan mereka berdua menikmati bekal yang dibawakan oleh ibu Merah. Sesampainya di sekolah, mereka berdua langsung menuju kelas, lima menit lagi pelajaran akan dimulai. Bel tanda dimulainya pelajaran sudah berbunyi. Teman-teman di kelas, Herman dan Merah bersiap-siap untuk memulai pelajaran. Disusul oleh Bu guru yang mengajar mata pelajaran pertama hari ini, Bahasa Indonesia, ia terlihat baru saja masuk kelas.

“Selamat pagi anak-anak.” Ibu guru memberi salam.

“Pagi bu guru.” Serentak saut satu kelas.

“Sekarang keluarkan buku dan alat tulis kalian semua.” Seru bu guru.

Tiba-tiba, Herman menoleh memandang Merah dengan bingung, seperti mau bertanya sesuatu, tapi masih berpikir apa yang mau ditanyakan.

“Rah, kamu mau memberi tahu aku, apa artinya Anti-Kediktatoran? Beribisik-bisik.

“Tentu, jika nanti kakakku menceritakannya, aku pasti sudah tahu, aku juga akan menceritakannya padamu.”

Pelajaran di mulai, Bu guru membagikan fotocopy cerita Malin Kundang di kelas.

“Anak-anak, itu adalah fotocopy cerita Malin Kundang, sekarang tugas pertama kalian adalah membaca cerita, setelah membaca, kalian harus memberi tanggapan masing-masing di buku tulis, lalu kalian bacakan untuk ibu, ibu beri waktu 40 menit.”

“Baik bu.” Sahut serentak.

30 menit berlalu, Herman sudah selesai membaca, dan mulai menulis tanggapannya tentang kisah Malin Kundang di buku catatannya. Begitu juga dengan Merah, ia juga mulai menulis tanggapannya.

“Ada yang sudah selesai menulis tanggapan?” Tanya Bu guru.

Herman, Merah dan beberapa teman di kelasnya mengangkat tangan, mereka sudah selesai.

“Sekarang untuk kalian yang sudah selesai menulis tanggapan, ibu minta kalian bacakan tanggapan kalian untuk ibu, dimulai dari Herman, silahkan berdiri nak.”

“Baik bu guru.” Sahut Herman.

Herman berdiri dan mulai memabacakannya.

“Sejak kecil Malin Kundang adalah anak yang manja, dia juga anak yang beruntung karena ia mempunyai ibu yang sangat mencintainya. Bahkan ibunya juga sangat memanjakannya, ia selalu digendong oleh ibunya jika pergi ke mana-mana, mungkin ia juga seorang penakut ketika kecil, dia selalu ingin ikut ibunya jika ibunya pergi. Dia juga sombong, dan suka berbohong, puncaknya ia mendurhakai ibunya dengan tidak mengakuinya di depan calon istrinya, hanya karena ia tidak mau dianggap orang miskin di hadapan istrinya yang anak seorang saudagar kaya raya. Akhirnya ibunya pun murka dan mengutuknya menjadi batu. Ibu Malin Kundang juga jahat, kenapa dia mengutuk anaknya sendiri menjadi batu?”

“Waaw… terima kasih atas tanggapannya Herman, tanggapan yang bagus sekali. Mari tepuk tangan buat Herman. Jadi tadi yang terakhir Herman juga mengatakan kalau ibu Malin Kundang juga jahat karena mengutuk anaknya sendiri menjadi batu.” Sambut bu guru.

“Ya bu… beda sekali dengan ibuku, aku juga nakal, kadang jahat, tapi ibuku sabar, ayah ibuku tidak pernah memukul bahkan membentakku, dia hanya memberi tahuku terus dengan perkataan dan cerita-ceritanya. Tapi beda dengan kakekku, kakekku jahat, suka membentak, dan memukul dengan rotan kalau aku sulit bangun subuh dan tidak salat.” Jawab Herman.

Hari sudah siang, seluruh mata pelajaran di sekolah pada hari itu diselesaikan dengan baik oleh mereka berdua. Keduanya pulang bersama-sama lagi dengan berjalan kaki. Kisah Malin Kundang yang ada di dalam pelajaran Bahasa Indonesia tadi sangat seru menurut mereka. Di perjalanan pulang mereka berdua juga membicarakannya lagi.

“Malin Kundang itu jahat sekali, semoga aku dijauhkan dari pengalaman yang seperti itu.” Merah berharap.

“Ya aku juga, Malin Kundang dan ibunya sama-sama berubah menjadi orang yang menakutkan.” Sahut Herman.

“Betul sekali.” Jawab merah.

“Suatu saat nanti aku tidak mau punya istri, karena itu bisa merubah aku dan ibuku jadi orang yang menakutkan.” Kata Herman.

“Kalau calon istrinya baik seperti ibumu? Apa kamu masih tidak mau beristri?” Tanya Merah.

“Aku tidak tahu, tapi selama ini orang yang paling baik menurutku hanya ibu, ayah, kakak, nenek, dan kamu.”

“Oh yaa? Bagaimana dengan teman-teman kita yang lain?” Merah terkejut dan bertanya.

“Tentu mereka juga sangat baik, tapi tidak sebaik ibuku, kamu, kakakku, nenek, dan ayahku. Aku tidak mau berubah menjadi menakutkan untuk kalian semua.” Jawab Herman.


Like it? Share with your friends!

4
4 points

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Faridmerah

Master

Buruh kedai kopi, yang mempunyai kesempatan istimewa, yakni kuliah untuk belajar agama - agama di dunia. seorang lelaki yang menangis, dan bercita - cita menjadi ibu yang baik bagi anak - anaknya.

2 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals