Pelajaran pada hari itu menyisakan ketakutan, dan rasa keingintahuan yang sangat mendalam bagi mereka berdua. Mereka berdua sudah sampai di komplek, dan mulai berpisah. Masing-masing berjalan menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, Herman masuk ke kamarnya, mengganti pakaian, makan dan tidur. Di saat sore 18:30 ketika ia pulang dari mengaji, ia menemui ibu dan ayahnya di ruang keluarga, ia menghampiri ayah dan ibunya yang sedang menonton berita di televisi;
BREAKING NEWS HARI INI
Ratusan mahasiswa bergerak menuju Gedung DPR di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis 20 September 2019. Mereka berkumpul untuk menyuarakan penolakan atas pengesahan revisi UU KPK dan rencana pengesahan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau RKUHP.
Menurut pantauan kami, massa aksi demonstrasi berasal dari sejumlah perguruan tinggi di jakarta, dan beberapa mahasiswa dari perguruan tinggi di daerah-dearah lain, perguruan tinggi Jakarta seperti Universitas Indonesia, Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung, Universitas Paramadina, Universitas Trisakti, Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), serta berbagai perguruan tinggi lain, UGM Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UNESA Surabaya, Universitas Brawiajya malang dan masih banyak lagi.
Hingga pukul pukul 18:00 mahasiswa enggan membubarkan diri dan semakin bertambah massanya, sehingga polisi mengambil keputusan tegas dengan menyemprot masa dengan water canon, dan tembakan gas air mata, untuk membubarkan massa mahasiswa secara paksa, hal ini mengakibatkan bentrokan antara mahasiswa dan aparat keamanan.
Massa melempari aparat dengan botol air mineral, beberapa mahasiswa yang dianggap sebagai provokator ditangkap, beberapa dilarikan ke rumah sakit, juga tadi pukul 5 sore bentrokan pertama juga terjadi, akibatnya satu orang mahasiswa UHI Yogyakarta beranama Sandi tewas di tempat akibat luka tembakan di kepalanya, jenazah tadi dilarikan ke RSUD Jakarta Barat.
Hingga berita ini muncul, kami menelusuri detail kejadian tersebut, mengenai salah satu anggota aparat yang menembakkan peluru tajam di kerumunan massa yang menewaskan salah seorang mahasiswa.
“Yah, aku mau tanya ‘kediktatoran’ itu apa?” Herman bertanya kepada ayahnya.
“Kenapa sayang, kamu tahu dari mana istilah itu?” Tanya ayahnya.
“Aku mengetahuinya dari Arah yah, dia sering diceritakan sejarah bapak Republik yang namanya Tan Malaka, kakaknya yang cerita.”
“Pintar sekali Arah, siapa menceritakan itu kepada Arah?”
“Arah tahu dari kakaknya, kakaknya bercerita bahwa Tan Malaka itu memang sosok yang membenci ketidakadilan dan peduli terhadap penderitaan rakyat dan para buruh. Itulah yang membuat Tan Malaka aktif dalam organisasi dengan menentang segala hal yang menyusahkan rakyat dan para buruh, tujuan utamanya adalah Merdeka 100 persen dari segala macam campur tangan negara asing di negara kita, apa ketidakadilan itu sama dengan kediktatoran?”
“Kediktatoran itu kekuasaan suatu negara yang hanya dikuasai seseorang atau segelintir orang saja, mereka mengelola dan mengatur negara semau-mau mereka, tanpa menghiraukan pendapat yang lain atau rakyatnya, karena kebebasan berpendapat dilarang, orang-orang tidak boleh menyalahkan pemerintah atau presiden, walaupun presiden dan pemerintahnya tidak adil dan salah, orang-orang tidak boleh menyalahkannya, karena jika ada yang menyalahkan, mereka yang menyalahkan bisa ditangkap tentara, dan tidak bisa kembali lagi ke rumahnya.”
“Lalu mereka yang ditangkap ada di mana?” Tanya Herman.
“Ayah pun tidak tahu, yang jelas mereka ditangkap dan ditahan di suatu tempat, kadang ada yang dikembalikan, dan banyak juga yang tidak dikembalikan ke rumahnya.”
“Apa ayah dan ibu juga seorang yang Anti-kediktatoran?”
“Tentu saja, semua orang yang menginginkan kesetaraan, kesejahteraan, kebebasan, dan kedamaian, pasti anti-kediktatoran.”
“Apa ayah dan ibu juga akan ditangkap?”
“Tentu tidak.”
“Kenapa bisa begitu yah?
“Karena anak ibu dan ayah yang bernama Herman Suryadinata, adalah seorang anak yang membawa keberuntungan.”
“Ah ayah.” (sambil tersenyum malu)
“Sebentar… sebentar.” Sela ayahnya.
“Apa kalian mendengar suara seseorang menangis?”
Mereka semua seketika diam, dan mencari sumber suara tangisan tersebut.
“Iya yah sepertinya dari luar suaranya, dari arah rumah ibu Dewi.” Sahut ibu.



2 Comments