Komunitas Muslim dan Gerakan Sufisme di Jerman

Sulaymanci dan murid-muridnya ini telah mendedikasikan hidup mereka untuk menyebarluaskan Al-Qur'an, gerakan sufisme, dan ilmu-ilmu Islam sesuai konteks Eropa


Sumber foto: riauonline.co.id

Jerman memang bukanlah negara Islam. Namun, Muslim menjadi kelompok minoritas yang diperhitungkan dan cukup eksis. Mengingat Islam merupakan kelompok keagamaan terbesar ketiga setelah Kristen–sebagai mayoritas–serta penganut ateisme dan agnostik.

Di abad ke 21 Jerman telah menjadi sebuah negara dengan keragaman religi. Beberapa babak perpindahan penduduk yang terjadi sejak tahun 50-an telah membentuk pluralitas etnis dan keyakinan beragama yang semakin kuat. Menurut lembaga pemerintahan Jerman yang mengurusi masalah migrasi dan pengungsi, pada tahun 2015 diperkirakan ada 4,4 sampai 4,7 juta Muslim yang tinggal di Jerman. Dari angka tersebut 1,9 juta di antaranya berkebangsaan Jerman (Kumparan, 2019).

Bahkan kota-kota seperti Berlin, Cologne, dan Hamburg selain memiliki bangunan-bangunan masjid yang representatif juga merupakan pusat dari kehidupan umat dan budaya Islam di Jerman. Masyarakat Muslim di Jerman terdiri dari beberapa komunitas. Komunitas terbanyak berasal dari komunitas Muslim Turki. Hal ini dikarenakan Muslim di Jerman rata-rata bukanlah orang asli dari negara ini, melainkan para pendatang, terutama dari negara Turki.

Dilihat dari sejarahnya, orang-orang Islam pertama kali masuk ke Jerman dimulai pada 1683 sebagai tahanan pengepungan kota Wina yang dilakukan oleh Kekaisaran Ottoman yang berpusat di Turki. Selanjutnya, antara tahun 1735 sampai 1739, semakin banyak tahanan perang Muslim yang dikirim ke Jerman akibat dari perang Russo-Turkish (1877-1878).

Baca juga: Menyusuri Jejak Langkah Al-Qur’an di Barat

Lalu, ketika hubungan antara Kerajaan Rusia dan Kekaisaran Turki sudah mulai membaik, semakin banyak orang-orang Muslim yang datang dan hidup secara regular di Jerman. Pada 1763, Kerajaan Prussia yang saat itu berkuasa di Jerman membangun hubungan diplomatik dengan Kekaisaran Ottoman (Kumparan, 2019).

Ketika salah satu perwakilan duta besar Kekaisaran Ottoman untuk Kerajaan Prussia (Ali Aziz Effendi) wafat pada tahun 1798, Raja Frederick William III membangun pemakaman di Tempelhof Berlin sebagai penghormatan. Pemakaman ini kemudian menjadi tonggak pemakaman Islam pertama di Jerman.

Tempelhof juga pernah dijadikan sebagai pusat perawatan tentara Turki yang terlibat Perang Dunia I (PD I). Tentara-tentara yang wafat juga dimakamkan di lahan pemakaman tersebut. Kompleks pemakaman itu terus mengalami perluasaan hingga mencapai 2.550 meter persegi. Oleh masyarakat Turki di Jerman, pemakaman itu diberi nama Pemakaman Sehitlik yang dalam bahasa Turki berarti “Pemakaman Para Syuhada” (Sasongko, 2017).

Seiring bertambahnya jumlah etnis Turki yang menetap di Jerman, pada tahun 1983, dibangunlah masjid dengan nama Berlin Turk Sehitlik Camii, namun masjid ini lebih dikenal dengan nama Masjid Sehitlik. Sebuah masjid yang berdiri megah di jalan Columbiadamm, daerah Tempelhof, di tengah kota Berlin. Masjid yang berdiri dengan kubah besar dan dua menara lancip yang menjadi ciri khas arsitektur Ottoman.

Pasca Perang Dunia I (PD I), Jerman banyak membutuhkan tenaga kerja, dan salah satu yang banyak bermigrasi ke Jerman dan berkontribusi adalah orang-orang Turki, tentunya secara otomatis identitas mereka sebagai seorang Muslim terbawa. Mereka pun kemudian menetap di kawasan industri seperti Berlin, Cologne, Frankfut, Stuttgart, Dortmund, Munich, Goettingen, dan Hamburg. Masyarakat Muslim Turki inilah yang akhirnya mengorganisir diri dalam membentuk komunitas yang salah satu kegiatannya membangun masjid di Jerman (Zahrotunnimah, 2019).

Saat ini terdapat kurang lebih 200an masjid dari komunitas Turki sendiri yang sudah dibangun. Komunitas Muslim Turki sendiri sudah memasuki generasi kedua dan ketiga di Jerman. Sehingga sudah banyak Muslim dari komunitas Turki dilahirkan dan dibesarkan di Jerman, jadi mereka semua secara langsung telah menjadi warga negara Jerman. Selain membangun masjid-masjid di Jerman, arus besar identitas Muslim Turki ini secara tidak langsung juga membawa dampak bagi warga Muslim Jerman kepada praktik-praktik Islam yang beraliran sufisme.

Baru-baru ini, beberapa tarekat sufi yang berpusat di Jerman membuat laman-laman internetnya sendiri. Kehadiran secara elektronik ini mencakup dua khanaqah (perkumpulan kaum sufi) Sunni dan Syiah. Dari kedua kelompok khanaqah ini, Naqsyabandi-Haqqani berbasis di daerah pedesaan dekat perbatasan Belgia, sementara Mevlevi/Maulawiyah (sebuah tarekat yang didirikan oleh pengikut Jalaluddin Muhammad Balkhi Rumi) telah menemukan basis di Trebbus, sebuah desa kecil di kawasan Timur negara bagian Brandenburg, di Selatan Berlin.

Baca juga: Kajian Semantik Makna Kata Thariqah dalam Al-Qur’an

Tarekat Ni’matullah yang berpusat di Amerika Serikat mendirikan sebuah cabang di Cologne, dan Maktab Tarekat Oveyssi Shahmagsoudi (sebuah tarekat yang berasal dari Uwais al-Qorni) yang juga berpusat di Amerika kini bisa dijumpai di Frankfrut, Stuttgart, dan Hamburg (Hinnels, 2015).

Meski tarekat ini dalam menjalankan dakwahnya secara tersembunyi, mengingat pandangan umum masyarakat yang penuh kecurigaan terkait dengan Islam. Para tokoh sufi ini rutin dalam menerbitkan artikel dan buku-buku terkait tentang sufisme. Adalah Abdullah Halis Dornbrach, seorang syaikh Tarekat Mevlevi di Trebbus, Selatan kota Berlin, menerbitkan buku tipis tentang tarekat-tarekat Islam di Jerman pada tahun 1991. Kalau dihitung seluruh karyanya, dia menuliskan 11 karya tentang tarekat Sunni dan Syiah. Dari kalangan Sunni, dia menyebut tarekat Naqsyabandi, Qadiriyah, Rifa’I, Maulawiyah, Darqawi, dan Alawi. Sedangkan dari kalangan Syiah, dia menyebutkan tarekat Ni’matullah.

Selain tarekat-tarekat tersebut, organisasi-organisasi Muslim yang berasal dari inisiatif individu-individu ulama Naqsyabandi juga mulai bermunculan. Salah satunya adalah tarekat Naqsyabandi-Mujaddidi yang didirikan oleh Abu Al-Faruq Sulaiman (Sulaymanci) Hilmi Tunahan, lahir pada tahun 1888 M/1304 H di desa Ferhatlar, kecamatan Hezargrad di kota Sillistra yang sekarang berada di Bulgaria. Buyutnya Sulaiman Hilmi Efendi adalah Sayyid Idris, yang diangkat sebagai Tuna-han (Pangeran dari Danube) oleh Sultan Turki Utsmani, Sultan Mehmed II (Tunahan).

Pada awalnya tarekat yang didirikan oleh Sulaiman (Sulaymanci) ini berkembang di Madinah. Dari sana, mata rantai tarekat ini kemudian dipindahkan ke Istanbul pada 1920-an dan pada 1973, migrasi ke Eropa, khususnya ke Jerman, berlangsung lancar. Pada tahun itu pula para pengikut Sulaymanci mendirikan 150 aula ibadah di Jerman, masing-masing dilengkapi pusat kegiatan belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu Islam. Pada tahun 1973, semua itu disatukan di bawah nama “The Islamic Cultural Centres” (ICC), dengan kantor pusatnya di Cologne. ICC kini merupakan organisasi untuk memajukan ilmu-ilmu Islam.

Dewasa ini, ICC telah mempunyai 350 pusat kegiatan di seluruh Eropa Barat serta beberapa cabang di Amerika dan Australia. Namun mayoritas di antaranya (299 pusat kegiatan) terkonsentrasi di Jerman. Di Jerman, organisasi ini memiliki 20.000 anggota terdaftar yang menyebut dirinya bahasa Jerman uye atau Indonesia ikhwan. Untuk memenuhi misi dalam menyebarkan gerakan sufisme dan penyebarluasan Al-Qur’an serta ilmu-ilmu Islam.

ICC mengembangkan metode dakwah dengan nama “meniru Muhammad” karena sebagian besar penganut Islam yang taat memang meniru tingkah laku sang Nabi. Pendekatan yang dilakukannya pun sesuai dengan apa yang disebut kalimat qudsiye (aturan tarekat yang ditetapkan oleh Naqsyabandi pada abad ke-14) (Hinnels, 2015).

Baca juga: Jejak Langkah Strategi Dakwah Rasulullah di Madinah

Di antara aturan itu adalah menekankan pentingnya “kesadaran kaki”, “kesadaran nafas”, dan “kesadaran sunyi di tengah keramaian”. Dan mendorong para muridnya untuk menjadi ‘pelayan masyarakat’ sebagaimana pengabdian Muhammad. Dalam berprilaku sosial di tengah masyarakat para ikhwan tarekat ini, tutur kata mereka formal, sopan dan rendah hati. Bila tidak sedang berkomunikasi langsung dengan orang lain, tatapan matanya tertuju ke bawah dan wajahnya menampilkan ekspresi seperti melihat ke dalam diri sendiri (Hinnels, 2015).

Tentu sikap itu persis seperti syair puisi Jalaluddin Rumi tentang proses pengenalan diri yang berbunyi: “Jangan puas dengan kisah-kisah, tentang apa yang telah terjadi dengan orang lain. Sibak mitos dirimu sendiri. Kenali dirimu, alami sendiri, agar kau kenali Tuhanmu”.  Selain itu, gerakan tarekat Sulaymanci ini juga menggunakan internet sebagai media dakwaknya. Adapun yang ditawarkan di laman-laman sufi ini adalah teks tentang sejarah tarekat yang merujuk pada hadist “sebaik-baik manusia ialah yang berguna bagi sesamanya”, petunjuk ibadah dan instropeksi hati (muhasabah).

Bahkan begitu melekatnya gerakan sufisme di Jerman membuat Arman Kuru warga negara Berlin, seorang polisi Muslim keturunan Turki. Memiliki hobi, yakni menjadi penari Darwish (tarian sufi Rumi). Menurut Kuru “tarian Darwish buat saya punya arti seperti melakukan meditasi, di mana saya bisa lepas dari dunia dan bersama Tuhan di dalam hati. Dan semua yang ada di dunia, di sekeliling saya serta apa yang saya lihat jadi luntur. Ia merasa senang jika ia bisa membuat orang dari agama manapun bahagia” (DW, 2014).

Oleh karena itu, tak bisa dipungiri bahwa Sulaymanci dan murid-muridnya ini telah mendedikasikan hidup mereka untuk menyebarluaskan Al-Qur’an, gerakan sufisme, dan ilmu-ilmu Islam serta mengadaptasikan hal-hal inti keagamaannya ke dalam konteks Eropa, khususnya Jerman. Sehingga apa yang dilakukannya terkait erat dengan menjaga hubungan vital antara manusia dengan Tuhannya.

Refrensi

DW. (2014, Januari 18). Polisi Sufi Jerman . Retrieved Juli 2, 2021, from Deutsche Welle .

Hinnels, J. (2015). Sufi-Sufi Diaspora (Fenomena Sufisme di Negara-Negara Barat). Jakarta: Penerbit Mizan.

Kumparan. (2019, April 15). Fakta-Fakta Menarik Tentang Islam di Jerman. Retrieved Juni 2, 2021, from Kumparannews.

Sasongko, A. (2017, Mei 4). Masjid Sehitlik, Masjid Tertua di Jerman. Retrieved Juli 2, 2021, from REPUBLIKA.co.id.

Tunahan. (n.d.). Biografi Sulaiman Hilmi Tunahan . Retrieved Juli 2, 2021, from Tunahan.org.

Zahrotunnimah. (2019). Kebebasan Beragama Bagi Kaum Muslimin di Negeri Jerman. ‘ADALAH’ (Buletin Hukum dan Keadilan).

Editor: Ahmad Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Artipedia

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals