Menyusuri Jejak Langkah Al-Qur’an di Barat

Saat wilayah Islam meluas menuju bumi Eropa, lantas bagaimana dengan nasib al-Quran itu sendiri? Apakah ia dengan mudah diterima oleh orang-orang Barat?


Sumber foto: cerpin.com

Setelah pengkodifikasian Al-Qur’an di zaman Utsman Ibn Affan usai, dan Khulafau rasyidin selesai pula masa kekuasaannya. Seiring berjalannya waktu, kekuasaan Islam telah melebar ke berbagai penjuru, salah satunya dataran Eropa (red Barat).

Maka satu hal yang kita pahami, saat wilayah dakwah Islam semakin meluas ke Barat, konsekuensi yang terjadi bagi para pembawa ajaran Islam ialah terjalinnya komunikasi antar mereka dengan para penduduk non muslim tersebutyang di kemudian tidak menutup kemungkinan ini menjadi suatu pintu bagi masuknya interaksi antar ideologi di antara mereka.

Bagi Barat, suatu ajaran yang mewajibkan manusia untuk mempercayai bahwa Tuhan itu hanya satu ataupun lahirnya nabi di tanah Arab, merupakan sesuatu yang baru, asing dan -mungkin- aneh. Begitupun dengan umat Islam sendiri, sudah barang tentu mendengar konsep Trinitas akan jarang sekali diketahui oleh kebanyakan orang didalamnya. Maka ini kemudian yang dikenal didalam ilmu Sejarah Islam sebagai masa-masa dimana terjadi dialog antar kepercayaan, antara muslim dan selain dari mereka.

Saat wilayah Islam meluas ke Barat, lantas bagaimana dengan Al-Qur’an sendiri ? tentu, bagi Barat, hadirnya kitab suci tersebut menjadi sebuah polemik tersendiri mengingat mereka pula memiliki kitab suci bukan?

Orientalisme dan Al-Qur’an

Setelah mulai muncul kemunduran Cordoba, orang-orang Eropa dari luar Spanyol mulai menjalin hubungan secara intensif dengan Islam dan budaya yang terdapat didalamnya. Pada saat itu, antara muslim dan Kristen ada sebuah kejadian tidak mengenakan di antara mereka, terutama saat Kota Toledo berhasil direbut oleh tangan pasukan Kristen pada tahun 1085.

Uskup Agung Don Raymundo (1125-1151) dan Benekditus Abbot dari Clunny Petrus yang mulia (w 1156) mulai mengisntruksikan para Sarjana Barat untuk menerjamahkan berbagai teks Arab ke dalam bahasa latin.

Sayangnya, penerjamahan ini menjadi polemik tersendiri di kemudian, karena terjemahan yang ada justru dimanipulasi dan justru lebih condong digunakan sebagai alat legitimasi untuk menunjukan kelemahan-kelemahan Islam pada saat itu. Penerjemahan ini hadir ditengah-tengah masing-masing dari agama Islam dan Kristen saling menonjolkan keunggulannya. Saling merasa agamanya lah yang paling otentik dan benar. Lanjut di kemudian, maka dari sinilah segalanya dimulai.

Penerjamahan itu bukanlah sebuah penerjemahan yang tidak hanya bermaksud untuk mentransfer ilmu pengetahuan dari Arab sesungguhnya. Banyak sarjana Barat berharap dapat membantah Islam melalui terjemahan-terjemahan, yang bertujuan untuk menunjukan bahwa Al-Qur’an adalah sebuah dokumen hasil produk Muhammad yang ia ambil dari ajaran-ajaran Yahudi dan Nasrani.

Sebuah penerjemahan itu lanjut, terjadi pada teks-teks keagamaan, termasuk Al-Qur’an itu sendiri. Salah satu nama yang sering muncul pada bagian ini ialah al-Kindi seorang Kristen Nestorian yang dianggap sebagai orang yang pertama kali menulis sanggahan terlengkap terhadap Al-Qur’an. Dengan berangkat dari penerjamahan teks-teks Arab saat itu, ia beranggapan bahwa Al-Qur’an tidaklah orisinil, penulisan Kitab itu dipengaruhi oleh seorang pendeta Kristen bernama Sergius.

Saling menyanggah bahwa agamanyalah yang paling benar dan otentik, kemudian muncul rasa benci antar sesama terus lanjut di tahun-tahun berikutnya. Terlebih lagi setelah Perang Salib meletus.Selama periode ini, Perang Salib terus menciptakan pandangan Eropa tentang Islam sebagai musuh kekristenan. Selain ­al-Kindimuncul pula nama-nama Orientalis lain yang memfokuskan dirinya pada kajian Al-Qur’an, seperti Getton, Abraham Geiger, maupun Noldeke.

Dan yang tidak kalah geger nya dengan al-Kindiialah munculnya nama Theodore Noldeke, seorang Orientalis berkebangsaan Jerman. Tidak tanggung-tanggungdengan sangat yakin, ia mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan sebuah kitab suci yang sangat kacau susunan sistematisnya.

Betapa tidak kacau, di dalam suatu surat, QS An-Naziat misalkan, kita bisa mendapati sebuah penjelasan akan malaikat pada awalnya, namun belum selesai pembahasan itu diurai, Al-Qur’an seketika membahas persoalan lain yakni hari kebangkitan, lalu kemudian hari kebangkitan belum selesai dibahas juga, muncul persoalan lain lagi yakni kisah nabi Musa. Sebuah susunan yang membingungkan.

Disamping dari pada itu, jika al-Kindimempunyai persepsi bahwa Al-Qur’an banyak dipengaruhi oleh pendeta Kristen Sergius. Lain hal dengan seorang Orientalis dari Yahudi yang satu ini, Abraham Geiger, lewat esai nya yang terkenal “Was hat Mohammed aus dem Judenthume Aufgenommen?” (Apa yang Muhammad Pinjam dari Yahudi?). Menurutnya justru yang lebih besar pengaruhnya dalam hal ini ialah Yahudi. Persepsi ini sedikit masuk akal karena memang Yahudi lah yang menjadi partner umat Muslim saat di Madinah didalam kehidupan sehari-hari mereka.

Ini terbukti dari banyaknya kosakata-kosakata Al-Qur’an yang memiliki kesamaan dengan kosakata-kosakata yang sangat familiar di tradisi Yahudi, sebut saja seperti sakinah, sabt, furqon, jahannam, dan jannatu adn. Di samping dari pada itu, menurut Geiger, ajaran-ajaran yang ada di dalam Al-Qur’an, itu sesungguhnya ajaran-ajaran yang diajarkan umat Yahudi pula, katakanlah seperti tujuh tingkatan surga, dan adanya pembalasan di hari akhir.

Namun perjalanan Al-Qur’an di Barat tidak hanya berhenti disitu, kritik demi kritik masih terus dilayangkan. Di Barat, gelombang paradigma anti-Islam masih terus digaungkan berpuluh-puluh tahun setelahnya, sampai lahir suatu masa, dimana Barat menyadari betapa tidak perlu lagi di zaman sekarang untuk menemukan kelemahan agama lain.

Istilah Studi Orientalisme sendiri, dikemudian semakin hanyut dan tak tampak, terutama di kalangan akademisi dan kampus-kampus. Para Sarjana lebih senang jika istilah itu diganti saja. Maka sejak saat itu pula, Studi Orientalis diubah namanya menjadi Studi Agama-agama atau Perbandingan Agama.

Pekerjaan Rumah Kita Bersama Sebagai Muslim untuk Menjawabnya

Pernah kah kita menyadari bahwa hadirnya kritik-kritik Orientalisme itu, sesungguhnya itu medan yang sangat bagus bagi kita untuk mengkaji Al-Qur’an lebih dalam, apakah memang demikian benarnya Al-Qur’an?, apa memang Al-Qur’an itu benar-benar meminjam ajaran Yahudi? Lantas bagaimana pula kita menjawab keresahan Noldeke bahwa Al-Qur’an susunannya tidak sistematis? Dan lagi pula memang demikian adanya bukan?

Namun pernah pula tidak, kita renungkan justru lika-liku misterinya lah yang membuat Al-Qur’an ini tampak istimewa. Mengapa demikian? Bukankah semakin sederhana sesuatu, itu semakin biasa pula sesuatu itu di mata kita. Dan bukan kah sebuah batu berlian yang indah itu didapat dari hasil  penggalian yang dalam dan sangat menyulitkan?

Maka ini lah yang kemudian menjadi lapangan eksekusi bagi kita untuk menemukan makna Al-Qur’an yang sesungguhnya. Lantas bagaimana pula, makna Al-Qur’an menurutmu?

Referensi-referensi:

Abdullah Saeed, Pengantar Studi Al-Qur’an terj. Dr.Phil. Sahiron S ,Yogyakarta: Baitul Hikmah press, 2016.

Lenni Lestari, Abraham Geiger dan Kajian Al-Qur’an ; telaah metodologi atas buku Yahudi dan Islam (jurnal) ,Yogyakarta: Jurnal suhuf, 2013.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Syafiq Taftazani
Lahir di Serang pada tanggal 6 Agustus 1998. Menempuh pendidikan di Mts Darul Hikam al Islami Bandung, MA Sunan Pandanaran Yogyakarta dan sekarang sedang menempuh studi di perguruan Tinggi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan mengambil prodi Ilmu al Quran dan Tafsir. Bisa dihubungi melalui email : [email protected] dan no hp 089604139353

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals