Pengamatanku Soal Ragam Pengajian di Pesantren

Pola laten pengajian membuat pesantren dapat menjaga eksistensinya untuk terus diminati oleh masyarakat.


Sumber gambar: kompasiana.com

Sewaktu nyantri dulu saya mengamati fenomena yang terjadi di pesantren. Namun, memang baru bisa mengendapkan pengamatan tersebut dan mencoba memahaminya setelah keluar dari pesantren.

Memang fenomena yang lazim dialami oleh kebanyakan orang bahwa ketiadaan jarak antara diri dengan fenomena membuat terjadinya kebutaan daya kritis sehingga perlu diendapkan terlebih dahulu agar jernih dan terpeta bagiannya dengan baik.

Di dalam pengamatan tersebut di temukan struktur pemetaan yang jelas tentang ragam pengajian baik dari segi jenis kajian, tema keilmuan, metode, dan orientasi. Kemudian akhirnya akan bisa dipahami dengan jelas bagaimana pola pendidikan yang diajarkan dan value yang ditegakkan oleh pesantren.

Baca juga: Potret Progresivitas Intelektualisme Kaum Sarung

Jenis Kajian dan Tema Kajian

Berdasarkan jenis kajian terdapat dua pemetaan kajian dalam pesantren yang sangat lazim untuk dikaji, yaitu tentang Al-Qur’an dan Kitab Kuning. Dari segi Al-Qur’an tidak banyak hal yang bisa dieksplorasi lebih banyak karena kebanyakan hanya dikaji dengan melantunkan ayat-ayatnya serta mengeksplorasi ragam langgam yang telah lazim ditemui, berbeda dengan kitab kuning yang cakupan tema keilmuannya lebih variatif.

Berbicara tentang kitab kuning, tentu kajian hadis dan ulumul hadis, tafsir dan ulumul qur’an, kitab gramatikal dan tata bahasa (balagoh, nahwu, dan sorof), fikih, tasawuf masuk semua ke dalamnya.

Metode

Semua jenis kajian dan tema keilmuan yang telah dipaparkan memiliki ragam metode dalam pengaplikasiannya. Metode yang umum dalam bidang Al-Qur’an adalah dengan melafalkan maupun menghafal.

Kedua metode itu diterapkan untuk membiasakan para santri mengulang-mengulang membaca Al-Qur’an dan kemudian semakin diperkuat dengan metode hafalan agar para santri lebih fasih melafalkan ayat kitab suci walaupun tanpa melihat mushafnya.

Sedang di sisi kitab kuning dikenal dua metode yaitu maknani dan pembelajaran tematik secara klasikal atau mudahnya metode klasikal. Maknani adalah metode penerjemahan baik menggunakan bahasa Indonesia maupun Jawa dari bahasa asalnya; Arab agar dipahami oleh santri sebelum lebih jauh dikaji isinya.

Umunya maknani menggunakan satu kitab khusus yang dibaca dari bagian awal muqoddimah sampai bagian akhir. Ketika satu kitab telah usai dibaca dengan tuntas maka disebut sebagai khatam. Di dalam maknani sendiri terdapat dua metode yang lazim digunakan, yaitu sorogan dan bandongan.

Sorogan adalah metode pengajian yang memiliki skema berupa santri maju satu persatu menghadap kiai, ustaz, atau pengurus pesantren untuk melafal kitab kuning yang sedang dipelajari. Metode ini umumnya juga dikenal sebagai metode setoran guna melihat perkembangan kemampuan santri dalam bidang melafalkan, membaca, maknani, maupun memahami serta memaparkan isinya.

Berbeda dengan metode sebelumnya, bandongan dikenal sebagai metode mengaji secara komunal dengan seorang kiai, ustaz, atau pengurus pesantren membacakan maknani dan para santri mendengar, maknani dan mencatat poin-poin isi penjelasan.

Metode kedua dalam kitab kuning adalah klasikal. Metode ini dilakukan dengan mengumpulkan para santri ke dalam kelas-kelas yang telah dibedakan berdasarkan usia serta kemampuan masing-masing. Metode klasikal ini biasanya dinamakan dengan Madrasah Diniyah.

Umumnya penjenjangan metode klasikal ini di era modern dijadikan 6 tingkatan menyesuaikan dengan akumulasi lama durasi jenjang Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Patokan ini dibuat karena lazim santri mondok—bermukim di pesantren—saat sedang mengenyam pendidikan di kedua jejang pendidikan formal tersebut.

Di dalam metode klasikal ini para santri belajar materi sesuai kurikulum yang telah ditetapkan berdasarkan kelas masing-masing.

Walaupun terdapat beberapa pelajaran yang menggunakan sistem maknani dengan mengambil satu kitab sebagai basisnya, namun bagian kitab yang di-maknani tidak urut dari depan ke belakang melainkan berdasarkan topik tertentu yang telah ditentukan dalam kurikulum sehingga hanya mengambil tema maupun sub tema dari sebuah kitab.

Selain maknani, dalam metode klasikal juga terdapat muatan materi yang disusun khusus secara tematik dalam satu kitab yang memuat dari beberapa penggalan Kitab Kuning. Dari segi metode memang terlihat perbedaan mencolok yang nantinya akan dapat dipahami kegunaan masing-masingnya dalam penjelasan tentang orientasi.

Baca juga: Belajar Kehidupan dari Institusi Pendidikan Tertua di Indonesia

Orientasi

Berbagai macam metode yang telah di paparkan dalam bagian sebelumnya, semua memiliki orientasi masing-masing sehingga semua metode ini rasanya tidak saling tumpang tindih jika memahami secara jernih maksud dan tujuannya. Untuk itu perlu dipaparkan di bawah ini.

Pertama, metode dalam jenis kajian Al-Qur’an terdapat dua, yaitu membaca dan mengahfal. Membaca tentu memiliki orientasi berupa proses habituasi bagi santri agar dapat dengan lancar dan fasih melafalkan Al-Qur’an. Selain itu membaca Al-Qur’an mengandung nilai pahala dan keberkahan bagi pembacanya dan orang di sekelilingnya yang mendengar.

Bagi pembacanya pahala yang didapatkan adalah pahala membaca, mendengar bacaan yang dilantunkan, dan melihat mushaf itu tersebut selain proses membaca yang diniatkan sebagai belajar tersebut telah mengandung nilai pahala dan keberkahan tersendiri.

Sedangkan orientasi dari menghafal adalah membuat para santri dapat melafalkan Al-Qur’an tanpa melihat mushafnya. Hal ini penting karena dalam proses pembelajaran selanjutnya akan dipaparkan tentang makna, tafsir, dan penjelasan yang akan dipaparkan melalui kitab kuning sehingga santri dapat menancapkan dalam ingatan tentang pedoman dan hikmah untuk menjalankan kehidupan.

Di samping itu, tentu menghafal sendiri merupakan pahala yang besar dan keyakinan tentang barakah serta keistimewaan yang akan disandang oleh para penghafal baik di dunia maupun di akhirat.

Kedua, Metode dalam kitab kuning terdapat dua metode yang umum, yaitu maknani dan kalsikal. Metode maknani ini secara umum memiliki orientasi untuk menerjemahkan bahasa asli kitab ke bahasa keseharian para santri guna keperluan memahami isinya.

Dalam praktiknya terdapat metode teknis yang juga dibedakan menjadi dua yaitu sorogan dan bandongan. Sorogan memiliki orientasi praktis berupa penilaian secara personal terhadap perkembangan kemampuan—dalam bidang melafalkan, membaca, maknani, maupun memahami serta memaparkan isinya—santri.

Mudahnya adalah ajang ujuk kemampuan santri di depan kiai, ustaz, atau pengurus pesantren. Sedangkan dari sisi keyakinan tentu mengaji adalah proses belajar yang memiliki nilai ibadah dan pahala.

Selanjutnya metode teknis dalam maknani adalah bandongan. Di dalam praktiknya bandongan memiliki orientasi untuk membiasakan para santri menghafal makna dari kosakata dalam Kitab Kuning serta gramatikalnya, sehingga santri menghafal banyak kosakata dan tahu gramatikal sebagai modal melakukan proses maknani.

Mudahnya bandongan ini bagi santri ialah untuk menyerap pengetahuan guna nanti dipertunjukkan di hadapan kiai, ustaz, atau pengurus pesantren saat sorogan.

Pada umumnya metode ini digunakan untuk memberikan wawasan kepada santri tentang hal-hal umum dan mendasar seputar keagamaan serta proses tabarukan—mengharap tercurahnya berkah—dari mushonif atau mualif—dua istilah bahasa Arab yang digunakan di kalangan pesantren untuk penyebutan penulis—kitab yang sedang dikaji.

Metode teknis kedua dalam kajian Kitab Kuning adalah klasikal. Metode ini secara teknis dilakukan secara tematik dalam pembahasannya. Orientasi praktisnya adalah untuk memahami pengetahuan-pengetahuan yang lebih spesifik tentang ajaran Islam sesuai kelas masing-masing yang secara bertahap mengantarkan santri untuk memahami secara komprehensif tentang kajian keislaman.

Berikut merupakan pemaparan tentang pengamatan penulis perihal pengajian yang terdapat di pesantren. dapat dilihat bahwa terdapat dua value berupa pengembagan pengetahuan dan pengalaman secara praktis dan orientasi barokah serta pahala secara dogmatis. Pola laten ini membuat pesantren terus dapat menjaga eksistensinya untuk terus diminati oleh masyarakat. Walaupun tentu menimba ilmu adalah sebuah ibadah namun akan lebih berkah dan sakral ketika ditempuh di pesantren, begitulah kepercayaan masyarakat secara umum.

Wallahualam bisawab.

Editor: Sukma Wahyuni

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Mufarrih El Mubarok
Tim Redaksi Artikula.id | Kordinator Departemen Jaringan Sekolah dan Pondok Pesantren Pimpinan Anak Cabang IPNU Panceng Gresik.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Dirasah

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals