Oh, Khabib

"..Aneh memang, hal yang sifatnya prinsipil menjadi terlewatkan. Dan, kita ini suka sekali dikit-dikit nge-dalil.."


GEEQ.ID

Khabib Nurmagedov, petarung MMA yang kini dihujani ragam sanjungan, berkat aksi memukaunya setelah membuat sang The Notorious Mc Gregor kalah telak, plus memalukan. Kemenangan Khabib bukan hanya sekadar kemenangan di atas panggung, namun juga kemenangan banyak hal: kemenangan atas kepongahan, rasisme, dan sejenisnya.

Kemenangan Khabib  juga merupakan kemenangan bagi kaum minoritas, yang selama ini merasa dikangkangi oleh kubu superior. Atas nama kehormatan Khabib bertarung, ia berhasil membuat jutaan manusia turut haru dan suka cita, seolah ada dendam kesumat yang terlunaskan. Seolah ada kegeraman yang terbayarkan. Perasaan bahagia tersebut serampak dideklamasikan banyak orang dengan berbagai narasi.

Teman-teman saya di kontak whatsapp, facebook, dan instagram, misalnya, berjamaah menulis untaian puja puji dan caption yang berkonten bijak juga relijius. Bahwa, “Khabib telah berjuang demi marwah agama, kemenangan Khabib adalah buah kesabaran, Khabib telah menginspirasi umat Islam sedunia, pembelaan terhadap keyakinan merupakan harga mati”, dan banyak lagi. Pokoknya, narasi mereka seirama dan senada.

Baca juga:  Seni Memahami Indonesia ala Dzunnun Al-Mishry

Sedangkan Mc Gregor, lawan tanding Khabib, mengalami nasib sebaliknya. Cemoohan, ejekan, beserta meme-meme kocak tertuju padanya. Oh, Mc Gregor nasibmu kini.

Tapi, kalau dipikir-pikir kenapa tidak ada di antara fans dadakan UFC itu mengulik soal hukum (syariah) MMA? Apalagi kalau saya perhatikan, teman-teman saya yang berkomen ria tersebut memiliki background agama yang mumpuni, bahkan berlaqab ‘ustadz’. So, kenapa status fiqhiyyah tarung ‘mencelakakan’ itu terlewatkan oleh mereka?

MMA atau Mixed Martial Arts, sebuah seni bela diri yang kini digandrungi banyak orang, ditayang hampir setiap tengah malam di salah satu TV swasta di Indonesia. Mempertontonkan pertarungan yang terbilang keras, karena olahraga bela diri satu ini melibatkan ragam teknik tarung: tinju, sepak, sikut, cekik, dan sleding. Sebuah pertarungan yang ‘mematikan’ memang.

Nah, jika sebegitu bahayanya MMA, kenapa hukum fiqhnya terabaikan dalam euforia kemenangan Khabib?

Artikel lainnya:  Radiculopathy Mengingatkan Kekuasaan Allah

Islam jelas melarang setiap olahraga yang mengandung mudharat lebih besar ketimbang manfaat. Silahkan lihat Al-Baqarah: 195, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”. Atau dalam sebuah hadis Rasulullah juga menuturkan, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain. (Lih. Al-Nawawi, dalam Al-Arba’in: 22). Pun seturut dengan pernyataan ustadz kebanggaan milenial, Ustadz Abdul Shomad, cek (Hukum Olahraga Tinju dalam Islam – Ust. Abdul Shomad, Lc., MA.).

Aneh memang, hal yang sifatnya prinsipil menjadi terlewatkan. Dan, kita ini suka sekali dikit-dikit nge-dalil, semuanya serba dalil, ‘al-fatekah’ pun dicari-cari dalilnya, tapi tak satu pun di antara kita yang nanya dalil tentang MMA. Gak apa-apa sih, cuma menggelikan. Gelinya tuh di sini. Dalil digiring ke sana ke mari sesuai selera. Ada selera ada dalil.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Mahmud Wafi

Mahmud Wafi, adalah seorang pekerja sosial, juga merangkap sebagai santri Senin malam di Nitipuran.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals