Apakah Saya akan Mati karena Corona?

Saya tidak tahu bagaimana nasib saya dalam catatan Lawḥ. Yang saya tahu, Saya khalīfah di bumi, bukan khalīfah di ʿArsy.


Ilustrasi: NPR

Saya mulai menulis ini pada pukul 22.26. Saya tidak tahu apa persisnya kata yang akan saya tulis pada pukul 22.45. Saya juga tidak tahu apa persisnya kata yang akan saya tulis di urutan ke 100.

Situasi saat ini belum membaik. Masyarakat masih resah. Pemerintah juga masih terlihat bingung dan ragu-ragu. Semua orang ingin situasi yang mencemaskan ini reda; tapi belum jelas ujungnya akan seperti apa, atau di mana. Yang jelas, dalam situasi yang pelik seperti ini pun, bangsa Indonesia belum bisa berdamai dengan sejarah masa lalu yang belum jauh. Kita tidak bergumul dengan corona. Kita justru bergumul sesama, selagi Corona terus bekerja melanjutkan perkembangbiakannya.

Terkait masyarakat beragama, otoritas agama telah mengeluarkan pandangannya. Saudi telah menutup akses umrah, dan Masjid Haram telah disterilkan. Azhar juga telah mengeluarkan fatwa, shalat Jum’at ditiadakan dulu, diganti dengan shalat zuhur di rumah. MUI juga demikian. Dari pihak-pihak lainnya juga ada, saya tidak terlalu mengikuti, karena sepertinya sedikit tahu lebih baik dalam situasi ini.

Baca juga: Ijtihad Kolektif di Akar Rumput yang Mendebarkan

Tapi, selama berkaitan dengan interpretasi teks atau preseden hukum dalam agama, tidak akan pernah ada kata bulat. Memang, agamawan telah berdebat sepanjang sejarahnya. Apakah Tuhan itu punya tangan? Itu juga bahkan jadi bahan perdebatan.

Tidak mengherankan jika muncul pula penolakan. Siapa yang kita takuti, Corona atau Allah? Mengapa kita takut Corona; bukankah hidup mati ada di tangan Allah? Untuk apa shalat Jum’at ditiadakan; bukankah kita berdoa di setiap shalat untuk dapat ḥusnul-khātimah; bukankah mati di momen ibadah Jum’at itu ḥusnul-khatimah?

Saya dan keluarga telah memilih untuk mengisolasi diri, mungkin sejak 3 minggu lalu. Saya bersyukur, situasi pekerjaan memungkinkan saya untuk bekerja di rumah, karena memang saya belum memiliki ikatan rutinitas. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib saudara-saudara yang tidak seberuntung saya. Semoga situasi segera membaik.

Pilihan untuk mengisolasi diri ini saya ambil untuk melindungi diri. Iya, saya takut Corona. Bahkan, saya tidak merasa perlu fatwa dari otoritas beragama untuk mengambil kesimpulan ini. Tapi itu bukan berati saya merasa pantas untuk membandingkan antara takut Corona dan takut Allah. Corona dan Allah benar-benar tidak bisa dibandingkan.

Baca juga: Kerancuan Logika “Kami Tidak Takut Corona Cuma Takut Tuhan”

Apakah saya akan mati karena Corona? Saya tidak tahu. Allah punya jawabannya, telah Ia tulis lama sekali dalam Lawḥ yang sangat rahasia. Apa yang telah Ia tulis di sana, itulah yang akan terjadi. Jika Ia menulis saya mati karena Corona, maka matilah. Jika Ia menulis saya akan terdampak, namun sembuh, maka sembuhlah. Jika saya ditulis tidak terdampak, maka begitulah.

Itu sepenuhnya hak prerogatif Allah, sebagai Tuhan, sebagai pencipta, sebagai penguasa, sebagai Dzat yang memungkinkan segala kejadian. Saya, manusia, tidak memiliki akses ke wilayah itu. Saya, manusia, tidak memiliki hak di sana. Saya, manusia, tidak bisa intervensi. Itu ‘tugas’-nya Allah, dan bukan pada tempatnya saya, manusia, ikut campur dalam ‘tugas’-Nya itu.

Apakah saya akan mati karena Corona? Selama itu berkenaan dengan catatan-Nya, saya tidak ikut campur. Memang benar hidup-mati di tangan Allah. Ingat, di tangan Allah; wilayahnya Allah. Maka itu urusan Allah. Saya tidak ikut campur. Menyerah sajalah secara bulat.

Apakah saya akan mati karena Corona? Yang saya tahu, jika saya tetap di rumah, berhati-hati ketika keluar untuk mencukupi kebutuhan, cermat dengan kebersihan diri, dan hal-hal fisikal—tentu saja mental—lainnya, maka saya akan selamat. Saya tidak akan mati karena Corona.

Yang saya tahu juga, jika saya abai, keras kepala untuk berkerumun, maka saya berpotensi kena Corona; berpotensi sakit, dan mati karenanya. Bahkan, saya berpotensi menyebabkan orang lain terpapar Corona, sakit dan mati pula. Jadilah saya mati sebagai pendosa?

Baca juga: Wabah Corona dan Imaji Religiositas yang Timpang

Selama itu berkaitan dengan pertimbangan-pertimbangan duniawi ini, maka saya tahu, apakah saya akan mati atau tidak akan mati dengan Corona. Saya punya kuasa untuk memilih, apakah saya akan menyerahkan diri atau menghindari Corona.

Saya tidak tahu bagaimana nasib saya dalam catatan Lawḥ. Yang saya tahu, Saya khalīfah di bumi, bukan khalīfah di ʿArsy. Jadi, tugas saya ada di bumi; hidup layaknya makhluk-makhluk yang memang bertempat dan berwaktu di bumi. Selama itu berkaitan dengan hal-hal di bumi, saya bisa mencari akses; saya bisa menuntut hak, saya bisa intervensi.

Apakah saya akan mati karena Corona? Saya tidak tahu. Allah punya jawabannya. Yang saya tahu, sebagai manusia yang dikaruniai hidup di dunia, saya harus memanfaatkan ʿaql untuk menimbang dengan potensi rasio yang ada, apakah saat ini keluar dan berkerumunan itu selamat atau tidak. Sebagai manusia yang hidup di bumi, saya harus mendaya gunakan qalb untuk menimbang dengan Nurani, apa saja yang maslaha dan apa yang mafsada.

Yang saya tahu, sebagai manusia, saya bertugas untuk hidup sebagai manusia. Sebagai manusia, saya tidak bisa menjadi Tuhan.

***

Ketika memulai tulisan ini, pada pukul 22.26, saya tidak tahu apa persisnya kata yang akan saya tulis pada pukul 22.45. Ternyata kata itu adalah “membayangkan” (paragraf ke-7). Saya juga tidak tahu apa kata ke-100 yang akan saya tulis (di luar judul). Ternyata, ia adalah Corona, paragraf ke-3, setelah kata selagi dan sebelum kata terus.

Kedua kata itu, membayangkan dan Corona, telah tercatat di Lawḥ, bahwa ia akan menjadi kata yang akan saya tulis pada pukul 22.45 di tanggal 3 April 2020, dan kata ke-100 dalam tulisan yang sama. Sejak lama, jauh sebelum 22.45, sebelum saya belajar membaca dan menulis, sebelum saya lahir, bahkan sebelum bahasa ada, kedua kata itu telah ditentukan nasibnya. Ia telah dicatat begitu, dan begitulah ia. Ia bisa saja kata lainnya, bukan “membayangkan” atau “Corona”, tapi apa daya, Allah telah mencatatkan nasib keduanya.

Baca juga: Corona yang ditakuti: Disfungsi Sosial dan Egosentrisme Kesalehan

Tapi, yang saya tahu, jika otak saya tidak menemukan ide akan menulis apa, tidak menghidupkan laptop dan mulai mengetik, saya tidak akan sampai pada kedua kata itu di waktu dan posisi tersebut.

Yang saya tahu, jika saya memilih untuk menonton, membaca, tidur, atau aktifitas lainnya, kedua kata itu tidak berada di posisinya.

Yang saya tahu, saya punya segala daya manusiawi yang mengantarkan kedua kata itu ke sana. Ia bisa saja bukan “membayangkan” atau “Corona” jika di waktu tersebut saya memilih untuk menuliskan hal lain. Kedua kata itu bisa saja ada, bisa saja tiada, semua bergantung kepada saya.

Jadi, kedua kata itu di waktu dan posisi itu, adalah sepenuhnya Kuasa Allah, tapi ia juga sepenuhnya kuasa saya. Allah punya Kuasa di posisi-nya, dan saya punya kuasa di posisi saya. Saya bertugas untuk mengelola kuasa saya, dan Allah ‘bertugas’ di Kuasa-Nya. Siapa saya untuk intervensi Kuasa-Nya?

Apakah saya akan mati karena Corona? Kuasa Tuhan telah punya jawabannya. Kuasa manusiawi saya juga punya. []

 

_ _ _ _ _ _ _ _ _

Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Apakah Anda menyukai nya atau sebaliknya? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom bawah ya! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini! 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
6
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Fadhli Lukman

Master

Fadli Lukman, S.Th.I., M.Hum., Ph.D. adalah alumni Islamic Studies di Albert-Ludwigs-Universität Freiburg Jerman (S3) dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (S1 dan S2).

Comments 1

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. “Yang saya tahu, sebagai manusia, saya bertugas untuk hidup sebagai manusia. Sebagai manusia, saya tidak bisa menjadi Tuhan.” Josh bang 👍

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals