Agama Adalah Akhlak yang Baik

"... beragama itu tidak hanya sekedar simbol, tapi lebih kepada substansinya. Substansi dari agama itu adalah akhlak yang baik."


www.dakwatuna.com

Alkisah, suatu malam kami bertiga (Saya, Gus Noel, dan Cak Fikri) hendak pergi mencari makan. Awalnya, Angkringan Jamboel menjadi tujuan, tapi pada akhirnnya berubah menjadi Rumah Makan Rocket Chichken.

Tiba di Rocket Chichken, Gus Noel langsung mengambil posisi antrian guna memesan makanan. Saya pun menguntil di belakangnya, sementara Cak Fikri sedang menyambut telepon di luar.

Setelah hampir tiba giliran kita mendapatkan jamuan dari pelayan, diam-diam ada seorang makhluk berpeci (kira-kira usianya 30-35 tahunan dan boleh dikatakan penampilannya tampak religius) menyerobot antrian kami.

Lalu  apa yang terjadi? Memang untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sialnya, si pelayan malah melayani si makhluk berpeci itu, padahal ia tahu siapa yang lebih dahulu mengantri. Saya dan Gus Noel pun langsung lirik-lirikan penuh keheranan.

Cak Fikri yang melihat kejadian itu dari luar pun mengakhiri teleponnya dan menghampiri kami berdua. Ternyata, Cak Fikri juga menyadari akan kejadian itu. Meskipun demikian, kami bertiga tetap tenang, berusaha mengontrol nafsu amarah, dan bersabar menghadapi tragedi yang tidak menyenangkan itu.

Meskipun penampilan kami tidak tampak religius, tapi untunglah semasa kuliah dulu kami dibekali dengan pelajaran akhlak sehingga sedikit banyak kami sadar bahwa menahan amarah, bersabar, dan memaafkan orang lain itu adalah Akhlakul Karimah.

Andai saja si makhluk berpeci itu tidak menyerobot antrian, tentu kami sudah dapat memesan rocket chichken-nya yang kebetulan hanya tinggal tiga porsi itu. Tapi ya sudahlah, kami mengikhlaskannya. Boleh jadi itu memang belum rezeki kami. Kami pun memutuskan untuk mencari rumah makan yang lain.

***

Dari sepenggal kisah di atas, ada hikmah yang dapat kita petik. Apa itu? Yaitu pelajaran tentang akhlak. Saya ingin mengatakan bahwa beragama itu tidak hanya sekedar simbol, tapi lebih kepada substansinya. Substansi dari agama itu adalah akhlak yang baik. Alangkah baiknya, penampilan yang religius itu dibarengi juga dengan keindahan akhlaknya.

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya, ”Ya Rasulullah, apakah agama itu? Lalu Rasulullah SAW menjawab: (Agama adalah) akhlak yang baik.”

Bahkan Rasulullah SAW juga menempatkan penyempurnaan akhlak yang mulia (akhlakul karimah) sebagai misi pokok risalah Islam. Sebagaimana Rasulullah SAW menuturkan:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Baihaqi)

Dari riwayat di atas dapat kita ketahui bahwa akhlak menduduki posisi yang central dalam ajaran agama Islam.

Keindahan penampilan fisik itu baik, tapi alangkah lebih baiknya lagi penampilan fisik yang indah itu dibarengi juga dengan keindahan akhlaknya. Teladanilah akhlak Rasulullah SAW. Al-Qur’an juga menegaskan bahwa Rasulullah adalah suri tauladan yang baik.

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab/ 33: 21)

Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam/ 68: 4)

Akhlak yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang kelak pada hari kiamat. Sebagaimana Rasulullah SAW menuturkan:

“Tidak ada satu pun yang akan lebih memberatkan timbangan (kebaikan) seorang hamba mukmin nanti pada hari kiamat selain dari akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Di samping itu juga, orang yang paling dicintai dan paling dekat dengan Rasulullah SAW nanti pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya. Abdullah ibn Umar berkata:

“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Maukah kalian aku beritahukan siapa di antara kalian yang paling aku cintai dan paling dekat tempatnya denganku nanti pada hari kiamat?’ Beliau mengulangi pertanyaan itu dua atau tiga kali. Lalu sahabat-sahabat menjawab: ‘Tentu ya Rasulullah.’ Nabi bersabda: ‘Yaitu yang paling baik akhlaknya di antara kalian’ (HR. Ahmad).”

Mudah-mudahan Allah SWT membimbing kita untuk menjadi manusia yang ber-Akhlakul Karimah dan menjadi seorang muslim yang rahmatan lil’alamin.

Aamiin Ya Rabbal’alamin

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Abdur Rauf

Warrior

Penulis berasal dari Kepulauan Riau. Saat ini sedang menempuh studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals