Menagak Angin

Bapak itu menyodorkan Handphonenya. Menyuruhku membaca berita terkini untuk wilayah kota kabupaten. Aku membaca judul berita tersebut. Hatiku miris.


“Nduk, Bapakmu di Kejaksaan.”

“Maksudnya?”

“Ia sedang di sidang atas kasus yang menimpanya.”

“Mbak, pesan mie sagu kuah pedas, telurnya dikocok dan dibanyakin sawinya ya, ” ucap mahasiswi cantik berpakaian kurung Melayu.

“Sebentar ya, Mbak.”

“Maaf Pak. Nanti kita lanjut pembicaraannya.” Aku pun bergegas pergi ke ruangan dapur. Membuatkan mie sagu kuah pedas.

***

“Nak, nanti minta sama pamanmu masukkan lamaran kerja di kantor.”

“Tidak ada cara lain selain itu, Buk?”

“Emangnya kamu mau kerja apa lagi?”

“Sabar, Buk. Nanti juga kerja.” Sambil memeluk Ibuk.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Memikirkan pembicaraan keluarga di ruang tengah sambil menonton televisi selesai Isya. Aku mengerti bahwa Ibuk dan Bapak bukan tipe orang yang tamak atas gelar, kekuasaan. Selebihnya Ibuk dan Bapak hanya petani. Tapi keinginan mereka terlalu besar menurutku. Mendesak agar aku segera kerja di kantor dan melihat aku berpakaian rapi orang-orang kantoran. Sebenarnya apa yang diinginkan mereka berdua?

Siang itu Ibuk merebus pandan sampai layu.

“Buk, Bapak kemana?” Sambil membuka tudung saji

Ngecor di SMP.” Ibuk sambil mengelap keringatnya.

Ibuk adalah pengrajin tikar dari sejak gadis. Sebelum menjadi tikar ada beberapa proses yang harus Ibuk lakukan. Pertama, daun Pandan harus dipecahkan menjadi lima bagian kemudian diikat agar tidak berantakan dan menjadi satu gumpalan.

Kedua, Pandan direbus sampai mendidih dan layu lalu didiamkan ke dalam air biasa beberapa hari. Ketiga, Pandan dijemur dan dikeringkan sampai benar-benar kering. Keempat, Pandan siap dianyam. Ibuk memerlukan waktu dua minggu untuk membuat beberapa tikar.

Setelah selesai Ibuk merebus Pandan dan didiamkan ke dalam air biasa, kami sekeluarga duduk sore di depan teras. Menikmat suasana sore desa damai. Desa yang senantiasa damai dan jauh dari kata riuh dan kericuhan. Apa pun itu bentuk persoalan desa ini akan senantiasa damai dan nyaman.

“Siapa yang ngambil proyek SMP?”, kata Bibi.

“Paman Abi. Dia yang sanggup ngambil proyek dengan dana begitu besar”, jawab Ibuk.

“Paman Abi kan sekolah tinggi alias sarjana. Dia juga paham pemasukan dan pengeluaran dana. Orang-orang banyak percaya sama dia.” Jawab aku sambil memilah-milah rambut Ibuk mencari uban.

Setelah satu bulan Bapak selesai bekerja di sekolahan, waktunya bapak kerahan. Semua pekerja dirapatkan di rumah paman Abi. Paman Abi menjelaskan panjang lebar tentang upah yang harus dibayar semua pekerja. Bapak mendapatkan upah Rp. 2.100.000,-. Berarti dapat dihitung per hari bapak diberi upah senilai Rp. 70.000,-.

Bapak memberikan uang tersebut kepada Ibuk. “Alhamdulillah. Ada rezeki untuk bulan ini.”

“Alhamdulillah,” jawab Ibuk senang.

“Ini buat sekolahnya kamu. Semoga tabungan bisa bertambah dan kamu bisa kuliah tahun ini.” Kata Ibuk sambil menjahit celana kerja Bapak yang koyak.

Papan informasi tergeletak miring seolah-olah mau tumbang diterpa angin pagi dan petang. Aku membacanya dengan cermat. Setelah membaca rinciannya ada tulisan Seratus Juta Lima Puluh Ribu Rupiah. Sebelumnya Bapak pernah cerita kalau pekerja di sekolahan waktu itu hanya berjumlah lima orang ditambah satu mandor. Kerjanya hanya merehab toilet enam pintu dengan dana sebesar itu. Jika per orang diberi upah Rp. 2.100.000,- dikalikan dengan lima orang semuanya berjumlah Rp. 10.500.000,-. Katakanlah bahan materialnya sejumlah lima puluh juta lebih ditambah gaji pekerja totalnya mencapai tujuh puluh juta lebih. Selebihnya untuk paman Abi?

Lama aku mematung di depan papan informasi tersebut. Di daerah semak-semak Pandan. Papan itu sudah lama dibuang oleh penjaga sekolah dan aku menemukannya tertancap di semak-semak Pandan belakang sekolah.

“Benar paman Abi diberi upah segitu? Kerjanya hanya mengawasi pekerja. Kerjanya hanya duduk santai membeli nasi bungkus untuk para pekerja.” Lirihku dalam hati.

Esok harinya kami sekeluarga duduk di depan teras rumah. Bibi memulai pembicaraan.

“Baru beli motor baru. Sebentar lagi istri baru.”

“Siapa?” Jawab Ibuk

“Paman Abi.” Kata Bibi memasang muka agak curiga

Aku diam sejenak. Memikirkan kemarin sore yang aku lihat di papan informasi. Aku mengerti mereka atau bahasanya adalah masyarakat sering berkomentar tanpa bukti. Contohnya adalah Bibi dan Ibuk. Sering cerita dan menjawab cerita hanya melihat secara kasat mata. Tidak menyelidik sampai ke akar-akarnya. Aku paham tugas mereka bukan itu. Tugas Bibi dan Ibuk hanya memasak di dapur dan membuat tikar. Sebaiknya aku diam. Jika aku menambah cerita tentang apa yang aku lihat kemarin sore di papan informasi akan menambahkan rasa curiga mereka berdua.

Malam itu, paman Joko main ke rumah. Menikmati kopi Kapal Api bersama Bapak dan Ibuk. Musyawarah tentang tanah. Paman Joko mau membuat surat tanah. Tanah miliknya bersebalahan dengan tapak rumah ini. Paman Joko seolah-olah berbisik menceritakan sesuatu yang sifatnya rahasia.

“Apa? Wawak nggak percaya.” Kata Ibuk kaget.

“Dia sendiri yang mengatakan, Wak.” Kata paman Joko meyakinkan Ibuk.

“Aku sudah lama tahu. Tapi aku malas mau buka cerita.” Bapak menjawab sekilas dan mengepulkan asap rokoknya keluar pintu.

Paman Joko adalah adik ipar Paman Abi. Besoknya Ibuk cerita sambil menganyam tikar. Aku sibuk melihat Ibuk menganyam. Ibuk cerita panjang.

“Kasian sama Bapakmu, Nak. Kerja seharian hanya diberi upah Rp. 70.000,-. Inilah nasib orang yang tidak sekolah. Kerja sambil dibodohi. Diperas tenaga, pikiran, dan waktu. Seandainya Ibuk yang menjadi mandor, tentu Ibuk memberikan upahnya lebih. Mereka para penguasa hanya mampu menikmati tanpa bekerja lebih menghandalkan ijazah dan label sarjana. Kamu nggak boleh begitu. Jadi pemimpin harus amanah. Sekalipun hanya ditugaskan menitip anak di TPA”, Ibuk tersenyum sendiri dan aku pun ketawa terkekeh.

Tahun ini aku masuk perguruan tinggi. Sekolah lebih tinggi daripada Sekolah Menengah Atas (SMA). Setelah menjalani beberapa tahun kuliah aku sempat bertanya kepada dosen. Menurutku beliau salah satu dosen paling santuy. 

“Pak. Aku tidak suka politik.”

“Apa alasannya?”

“Politik identik dengan kursi kekuasaan. Setelah itu banyak yang tidak adil dan amanah.”

“Nak, jika kamu benci politik maka bergabunglah di dalamnya. Selamatkan mereka dari lingkaran setan. Tugasmu bukan membenci namun membenahi. Jika bukan kamu yang turun tangan, siapa lagi? Negara butuh politik. Jika tidak diselamatkan dengan orang-orang baik, negara akan hancur. Bapak yakin kamu mampu.”

Lama aku mematung diri. Melihat garis jam dinding yang dari tadi berputar. Kata-kata beliau membangun. Selama ini aku mempertanyakan kepada Ibuk dan Bapak alasan mereka berdua menyuruhku masuk ke dalam dunia perkantoran. Mungkin salah satunya untuk menyelamatkan mereka dari perbuatan-perbuatan menyimpang. Menurutku.

***

“Mbak, ini mie sagu kuahnya. Maaf ya, Mbak agak lama.”

“Nggak apa-apa, Mbak. Makasih ya.”

“Sama-sama.” Senyuman manis dari Mbak itu membuat rasa lelah hilang seketika.

“Pak, kelanjutan yang tadi apa?” Aku menghampiri Bapak yang sedang duduk di kursi meja 11.

“Baca berita ini.”

Bapak itu menyodorkan handphonenya. Menyuruhku membaca berita terkini untuk wilayah kota kabupaten. Aku membaca judul berita tersebut. Hatiku miris. Seolah-olah tidak terima. Sudah menjadi tugas beliau meliput berita. Tapi tidak harus desa kelahiranku. Aku ingin katakan kepada beliau bahwa beliau menyebar berita HOAX. Tapi teman-teman yang duduk di kursi dan meja yang lain sedang hangat-hangatnya memceritakan berita itu.

“Kepala Desa Damai Terjerat Kasus Korupsi Sekitar……..”

Itu yang menjadi judul berita tersebut. Aku langsung spontan diam. Aku sangat kenal dengan bapak wartawan. Namanya Pak Adi. Pak Adi tidak bermaksud apa-apa melainkan memberi tahu tentang perkembangan desa kelahiranku. Aku baru ingat beberapa tahun yang lalu tentang Paman Abi. Kasus beliau masih menjadi privasi publik. Kalangan masyarakat tahu tentang perbuatannya. Tapi tak mampu bersuara karena lagi-lagi adalah kursi kekuasaan. Paman Abi menjabat sebagai Kaur Pembangunan juga Imam Masjid. Orang yang sangat disegani oleh masyarakat waktu itu.

“Apakah ini bagian dari doa mereka yang meronta-ronta? Doa mereka kepada Tuhan setiap subuh dan tengah malam? Agar desa ini benar-benar damai, sejahtera, dan nyaman.”

“Tenang, Buk Pak. Selesai wisuda tahun ini aku akan masukkan lamaran ke kantor. Setelah Bapak Lurah ditahan dan dikenakan penjara hukuman beberapa tahun.”

Ibuk sering bilang jalannya menagak angin. Maksudnya menagak angin adalah seseorang berjalan berlawanan dengan arah angin. Perjalanan akan terasa berat dan lambat sampai. Analoginya dengan kehidupanku sendiri. Meskipun menagak angin alias berlawanan dan memberontak tidak mencintai dunia perkantoran alias dunia politik, lambat laun akan sampai ke tujuan yakni membangun desa ini lebih damai, sejahtera dan nyaman. Meskipun harus menjadi staf pembuat Surat Keterangan Tidak Mampu.

*Selesai*

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Sumiati

Mahasiswi STAIN BKS, Riau, Indonesia

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Cerpen

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals