Dari Media Sosial hingga Kebun Keluarga: Berbeda untuk Melengkapi Melawan Covid-19

Kekompakan untuk saling bekerja sama menyelesaikan permasalahan ini berdampak positif untuk mencairkan masyarakat yang selama ini dikotak-kotakkan oleh identitas


Sumber Foto: Pexels.com

Penghujung tahun 2019 menjadi sebuah catatan sejarah yang akan dikenang khalayak umat manusia, karena menjadi waktu kemunculan wabah yang menggemparkan dunia. 

Wabah bernama Covid-19 muncul pertama kali di Wuhan, Tiongkok. Salah Satu virus yang menyita perhatian seluruh penduduk bumi karena telah membuat banyak orang harus dirawat dan meninggal dunia.

Kedatangan virus ini membuat seluruh sendi kehidupan manusia berubah dan menyesuaikan dengan keadaan yang ada. Namun kenyataannya, situasi genting itu tidak bergerak ke arah mereda, justru terus berlanjut dan merebak menjangkit 216 negara. Satuan angka ironis yang penulis dapatkan ketika tulisan ini dibuat.

Indonesia sendiri termasuk ke dalam 216 negara yang terdampak. Persebaran yang terjadi termasuk cepat dan pernah memosisikan Indonesia ke deretan negara dengan jumlah penularan yang tinggi. 

Kondisi ini tentu mendorong semua kalangan untuk bersatu guna meminimalkan dan sebisa mungkin untuk menangkal efek negatif akibat pandemi ini.

Baca juga: Dampak Pandemi Covid-19: Antara Objektivitas dan Rekonstruksi Behavior

Efek kesehatan adalah fokus utama yang mengambil porsi besar perhatian pemerintah. Seiring bertambahnya hari permasalahan semakin kompleks dan membuat pemerintah untuk memecah fokus ke sektor yang lain seperti dampak sosial, ekonomi dan politik.

Kondisi yang sedemikian genting memaksa adanya perampingan dan pemokusan anggaran dalam berbagai sektor yang dialirkan untuk penanganan pandemi, utamanya dana tersebut teralokasikan pada aspek sosial dan ekonomi. Kebijakan ini penting untuk diambil guna menghambat kemunculan bencana sosial-ekonomi akibat pandemi.

Di balik kesulitan yang sedemikian besar, masih banyak keberuntungan yang sebenarnya dialami di era pandemi Covid-19 ini, karena dukungan teknologi digital yang begitu masif untuk mendorong percepatan informasi.

Meski demikian, tentu kendala tetap ada karena peluang untuk persebaran berita bohong juga masif terjadi dan semakin mengacaukan kondisi.

Baca juga: Iklan "New Normal" Bukti Kegagalan Komunikasi Pemerintah?

Kampanye Protokol Kesehatan di Sosmed

Antusiasme masyarakat untuk ikut andil dalam proses penanganan wabah ini sangat kentara sekali. Terlihat bahwa keanekaragaman karakter masyarakat bernilai positif untuk saling mengisi ruang dan celah yang ada dalam proses penanganan Covid-19.

Misalnya saja upaya tersebut terkampanyekan jelas di media sosial Youtube. Di mana banyak kreator yang berlomba-lomba membuat konten tentang kondisi aktual guna terhindar dari persebaran virus ini. 

Kreator yang telah terkemuka akan dengan mudah menyampaikan informasi kepada para pengikutnya. Dan hal ini adalah salah satu cara efektif agar informasi yang diberikan dapat diterima dengan baik.

Salah satu kanal Youtube yang getol mengabarkan informasi tentang Covid-19 adalah milik Deddy Corbuzier. Kanal ini mengundang banyak pembicara yang memiliki kompetensi, mulai para ilmuan sampai pemangku kebijakan. 

Kemudian kanal narasitv milik Najwa Sihab juga banyak membahas kebijakan sekaligus hal-hal kontroversial yang terjadi selama pandemi berlangsung.

Kanal narasitv juga mengumpulkan pekerja kreatif dan musikus untuk memberi himbauan lewat nyanyian secara estafe dalam potongan video pendek. 

Tidak ketinggalan, musikus campur sari beken, almarhum Didi Kempot juga sempat merilis lagu tentang himbauan dilarang mudik sesaat sebelum wafat.

Bergeser ke platform Instagram yang juga ramai membincangkan soal Covid-19. Akun yang getol untuk menegur dan mengingatkan masyarakat untuk selalu mematuhi anjuran pemerintah seputar wabah ini adalah influenser Dokter Tirta dan komedian Bintang Emon.

Keduanya memiliki gaya yang menarik saat melakukan sosialisasi. Keunikannya terletak pada ekspresi penyampaian mereka yang marah-marah atau intonasi tinggi (ngegas).

Gaya tersebut dinilai lebih efektif daripada penyampaian formal dan santun yang sering dilihat di televisi maupun di tempat lain. Padangan ini tidak salah, karena memang marah-marah mereka pada akhirnya menjadi viral dan didengarkan oleh banyak orang. 

Selain itu, yang terpenting bahasa yang digunakan lebih ringan dan mudah dimengerti, terutama bagi masyarakat yang awam akan kondisi hari ini.

Selanjutnya keadaan diramaikan pula dengan kemunculan para influencer yang melakukan penggalangan dana dan bantuan sosial. Kepedulian ini muncul karena melihat banyak masyarakat dari golongan menegah ke bawah yang terdampak secara ekonomi sehingga memerlukan bantuan.

Di sisi lain, akses untuk mendapatkan masker, sabun cuci tangan, alat pelindung diri (APD) dan berbagai alat penunjang lain masih kekurangan stok. Setidaknya mereka yang belum sadar telah tertolong oleh relawan yang suka rela menyisihkan harta dan tenaga guna membantu sesama.

Hal demikian sangat nampak di awal-awal pandemi merebak, di mana masyarakat masih bingung dan butuh waktu untuk menyesuaikan. Ditambah lagi keadaan rumah sakit yang belum memiliki kesiapan maksimal dalam proses penanganan. 

Hal itu ditandai dengan kurangnya alat kesehatan yang memadai. Kondisi ini juga tentu memerlukan uluran tangan dari khalayak masyarakat.

Di masa transisi global ini, tentu kehadiran relawan cukup membantu dan berperan besar sebagai mitra pemerintah dalam menghadapi ketidaksiapan yang terjadi.

Memang hingga saat ini relawan masih sangat dibutuhkan meski jumlahnya sudah mengalami penyusutan. Bagimanapun masyarakat sudah mulai terbiasa dan mencoba untuk bertahan dengan kemampuan yang dimiliki.

Baca juga: Era Baru Pasca-Pandemi: Mengembalikan Manusia Ruang yang Telah Usang

Kebun Keluarga

Salah satu bentuk ekspresi unik dan terjadi sebagai resepsi atas pandemi ini adalah membuat kebun keluarga yang ditanami dengan berbagai tetumbuhan. Bagi masyarakat Indonesia yang mewarisi darah agraris tentu bukan hal yang sulit. 

Namun karena telah lama melupakan warisan dari nenek moyang, alhasil kini perlu melakukan penyesuaian. Kebun keluarga ini setidaknya sangat membantu dalam mengurangi pengeluaran kebutuhan pokok yang harus terpenuhi.

Dalam perkembangannya kemunculan kebun keluarga ini disusul dengan adanya dapur umum yang menjamin suplai makanan bagi masyarakat di lingkungan sekitar. 

Ketersediaan bahan makanan diambil dari kebun keluarga, iuran masyarakat, dan donatur. Kondisi ini mengukuhkan kembali akar budaya masyarakat Indonesia suka bergotong-royong. Ini menjadi refleksi atas sikap individual yang mulai muncul dalam diri masyarakat Indonesia.

Bahkan unit terkecil masyarakat sekalipun, yaitu keluarga, juga mengalami refleksi yang luar biasa. Di mana pada hari-hari biasa banyak orang yang sibuk dengan berbagai aktivitas sehingga tidak punya waktu luang untuk keluarga. 

Terlebih mendorong orang tua untuk kembali menjalani peran sebagai pengasuh dan pengayom bagi anak-anaknya. Tidak bisa dipungkiri, sebelum pandemi terjadi sebagian masyarakat memang memiliki kesibukan sangat padat sehingga waktu untuk anak-anaknya banyak tersita dan terkurangi.

Uraian di atas tidak lain adalah bentuk ekspresi yang muncul dari proses penyesuaian diri dengan kondisi pandemi yang sedang berlangsung. Resepsi yang beragam itu di landasi oleh latar belakang masing-masing individu dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.

Kondisi ini tentu sangat menguntungkan pemerintah karena untuk terlepas dari kondisi terpuruk akibat Covid-19 perlu kekompakan dari semua elemen masyarakat.

Baca Juga: Hadapi Covid-19, Bupati Pelalawan: Nyawa Masyarakat Lebih Berharga

Kekompakan untuk saling bekerja sama menyelesaikan permasalahan ini juga berdampak positif untuk mencairkan masyarakat yang selama ini dikotak-kotakkan oleh identitas agama, suku, ras dan gender. 

Lebih jauhnya, kondisi ini mendorong adanya keterbukaan antar kelompok. Selain itu, juga berpeluang untuk membangun komunikasi guna menjembatani eksklusifitas golongan dalam masyarakat. Setidaknya melalui keterbukaan dan komunikasi mampu membuat masyarakat Indonesia bekerja sama guna memakmurkan bangsa ini. [RR]

_ _ _ _ _ _ _ _ _
 Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jadi, bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! 

Anda juga bisa mengirimkan naskah Anda tentang topik ini dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Mufarrih El Mubarok
Tim Redaksi Artikula.id | Kordinator Departemen Jaringan Sekolah dan Pondok Pesantren Pimpinan Anak Cabang IPNU Panceng Gresik.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals