Mendadak Ahli Tafsir

"..tidak semua orang yang bisa baca al-Qur'an atau sekedar mengerti bahasa arab "sekonyong-konyong" bisa mengklaim sebagai mufassir.."2 min


1
106 shares, 1 point

Tafsir adalah salah satu cabang dari studi Islam selain dari ilmu fikih, tauhid, hadis, bahasa, sejarah, tasawuf dan lainnya. Sekali lagi dipertegas, tafsir adalah salah satu cabang ilmu Islam. Dan setiap cabang ada pakarnya, yang benar-benar menggeluti bidang tersebut, teruji kredibilitasnya, menghabiskan nyaris seluruh umurnya untuk mempelajarinya. Merekalah tempat rujukan kita jika ingin memahami detail dari salah satu ilmu tersebut.

Seorang ulama boleh jadi ahli di bidang ilmu hadis, tapi belum tentu ahli dalam istinbath al-hukm (menyimpulkan hukum) karena istinbath al-hukm memerlukan ilmu tersendiri, yaitu ilmu usul fikih. Boleh jadi dia ahli fikih (hukum dzahir), tapi belum tentu ahli dalam hukum-hukum batin (yang tersembunyi) karena itu membutuhkan ilmu tersendiri, yaitu ilmu tasawuf.

Begitu juga dengan ilmu tafsir, tidak semua orang yang bisa baca Al-Qur’an atau sekadar mengerti bahasa arab “sekonyong-konyong” bisa mengklaim sebagai mufasir karena tafsir adalah cabang ilmu tersendiri yang dipelajari secara khusus, inilah yang kita sebut dengan hierarki keilmuan. Jika dalam cabang studi Islam saja ada hierarkinya, apalagi antar dua disiplin ilmu yang berbeda. Misalnya ilmu sosial politik meskipun seseorang telah mencapai tingkat Profesor tidak kemudian ia berhak berbicara tentang cabang ilmu Islam, pun berlaku sebaliknya karena teori dan pendekatan keduanya berbeda.

Baca Juga: Sejarah dan Pemetaan Model Penelitian dalam Studi Al-Qur’an dan Literatur Tafsir (Ilmu Tafsir)

Masalah yang timbul

Masalah serius saat ini adalah banyak orang yang dengan lantang dan beraninya memberi fatwa atas ilmu yang bukan bidangnya, khususnya ilmu tafsir. Contoh saja ayat “…Kabura maqtan ‘indallahi an taqûlû mâ lâ taf’alûn” (dosa terbesar di sisi Allah ialah jika kalian berbicara apa yang tidak kalian kerjakan [QS. As-Shaff: 2]).

Kalau ayat ini diartikan serampangan, maka tidak akan ada manusia yang selamat, semua akan terkena dosa besar. Seorang yang belum berhaji tidak boleh menasihati tentang haji, ustadz yang belum menikah tidak boleh memberi nasihat tentang pernikahan dan seterusnya. Karena itu ayat di atas harus di tafshil (dirinci) maknanya, di lihat konteksnya ditelusuri asbab an-nuzul dan berbagai komponen ilmu tafsir lainnya.

Secara garis besar ada dua efek yang ditimbulkan dari “mendadak” ahli tafsir. Pertama, mempersempit makna Al-Qur’an (tadhyiq al-ma’na). Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar justru kehilangan relevansinya. Seperti penyempitan kalimat “al-kufr” yang hanya dikaitkan dengan non-muslim, padahal orang yang tidak bersyukur juga disebut kufr walaupun beriman. Itulah kenapa kata “asy-syukr” digandengkan dengan “al-kufr“.

Kedua, interpretasi (tafsir) Al-Qur’an tak lagi menjadi solusi keumatan apalagi solusi kemanusiaan. Justru tafsir menjadi alat baku hantam antar satu kelompok dengan kelompok lain. Seperti ayat “…Wa man lam yahkum bima anzalallah faulâika hum al-kâfirûn” (…maka siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang kafir [QS. al-Maidah: 44]), lalu apakah yang berasas Pancasila di NKRI ini kafir? Ini perlu tafsir yang komprehensif.

Contoh lain ayat “kuntum khaira ummatin..” (kalian adalah umat yang terbaik…[QS. Ali ‘Imrân: 110]), saat ini kita perlu introspeksi diri, apa keunggulan kita sebagai umat Islam dibanding umat lain? Dari segi apa? Apakah hanya bermodal ayat tersebut umat Islam bisa keluar dari kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan dan lainnya?.

Satu hal terpenting dari dua efek di atas ialah, orang yang menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan hawa nafsunya telah menyiapkan tempatnya di neraka (HR. At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ahmad), yaitu mereka yang berani menafsirkan Al-Qur’an tanpa metode tafsir yang benar. “Mendadak” ahli tafsir ini bermula salah satunya oleh slogan “kembali kepada Al-Qur’an dan sunah”. Kalimat ini benar tapi sangat berpotensi memunculkan kesalahpahaman atau memang digunakan untuk tujuan yang salah (kalimat al-haq yurîdu bihâ al-bathîl). Yang ada kemudian, masyarakat berkomentar tentang kandungan Al-Qur’an hanya bermodalkan terjemah tanpa merujuk dan bertanya pada pakar-pakar tafsir.

Editor: Ahmad Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _

Tulisan ini pertama kali diterbitkan Artikula pada: 06 Desember 2017

Disunting ulang untuk dilakukan beberapa penyempurnaan namun tidak mengubah substansi tulisan.

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!


Like it? Share with your friends!

1
106 shares, 1 point

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Dr. Mukhrij Sidqy, MA.
Dr. Mukhrij Sidqy, MA. adalah doktor di bidang Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dosen di STIQ Baitul Qur'an, Kelapa Dua, Depok. Ia menjabat sebagai Ketua Ikatan Da'i Muda Indonesia Depok, Wakil Pengasuh PP. Al-Wutsqo Depok, dan Pembina Tahfidz LPTQ Al-Muhajirin BPI Depok.

3 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals