Kapal Sejarah dan Horizon (Melihat Jasmerah yang Kusam)

Kita kaya sejarah tapi fakir dalam cinta kita pada kesadaran mengenai sejarah. Dan sayangnya itu sangat sudah membudaya, sehingga terasa seperti kondisi normal saja.


Gambar: Lukisan Nasirun, “Rupawan (rupa one)”, 200 x 300 cm, acrylic on canvas, 2008.

Kita ini sebenarnya hebat, pencapaian kita luar biasa, kalian bisa sebut apa saja: penguasaan teknologi, pengembangan prosedural medis; termasuk BPJS Kesehatan, kedewasaan demokrasi yang damai, hampir tidak ada “perang civil” juga itu sebuah kehebatan. Pengusaha Rent Seekers, entrepeneur Erzats, kurs Rupiah yang “letoy”, sampai taktikal korupsi, dengan berbagai formula malingering mungkin, itu pencapaian juga, kita harus mengakui itu. Hebat dan luar biasa tidak melulu harus hal memukau yang baik, bukan?

Tapi, sudahlah. Terlebih itu di samping problem terbesar kita sekarang adalah ekonomi, ada sejumlah problem lain yang kutemui mendasar. Sederhananya, kita bisa lebih pas dibilang sebagai “Generasi Culun”, atau bolehlah kalau mau dibubuhi “.. Effiminate Kontemporer”. Memang Culun itu fragmentaris: saya, kamu, teman dan juga sahabat, mungkin juga sebagian dari mereka, yang segenerasi tentunya, artinya yang secara data historikal diri mereka lahir di rentang waktu millenial.

Millenial: berarti antara kisaran 1983 sampai dengan tepat 2004, tahun Tsunami Aceh itu. Termasuk bisa dikategorisasikan “orang baru”. Belum lagi juga gelombang ledakan generasi “kids” madzhab “jaman now” baru-baru ini, yang bisa kubilang situasi hidupnya tak kenal darah sejarah atau senjata, tak kenal keringat reformasi, penuh selimut, sangat nyaman. “Jaman now”: berarti yang lahir 2004 hingga detik laju tulisan saya ini belum berhenti: adalah keduanya sangat buta sejarah bangsanya sendiri.

Dilemanya, saya juga enggak paham amat: kita tak bisa semenanya mempersalahkan diri kita berdasar “label sarkastik remehan” itu, sebab dasarnya kita sendiri ditakdirkan hidup pada iklim sosial yang memuat nilai pengabaian sejarah. Tata budaya sosial yang “kurang rapih”, nilai-nilai hidup yang beku, virus-virus globalisasi yang melindas jati diri negeri, suasana hati kebangsaan yang selalu timbul-tenggelam, atau hal lain yang kontinu berupaya menumbuhkan kecenderungan itu.

Di sejumlah suaka malam, saat kita nongkrong di warteg, ngemil roti Roppan sambil seruputan kopi misalnya, kita jarang isi tongkrongan itu dengan sesuatu yang nuansanya diskusional-kualitatif. Syukur-syukur, utamanya sejarah. Kulihat paling santer mungkin dari kalangan mahasiswa atau sekelompok orang tertentu dengan sejumlah agenda, itupun 1-2 yang muncul. Alih-alih ngobrol seru ngalor-ngidul, menggerayang tema sekenanya, juga utamanya untuk mengakarkan relasi persahabatan yang ada agar semakin ngoyot hubungannya, malah tak sadar, kondisi semacam itu tersirat kian menyemai benih-benih wacana sampah pengangguran masyarakat.

Kalau kutanya kepada sejumlah ibu-ibu siapa sih Iqbaal itu atau Zaskia Gotik, mereka sampai rinci seluk-beluk dinamika kehidupannya paham. Pacarnya siapa, masih nyambung ataukah putus, project yang sekarang mereka sedang kerjakan, nama aslinya siapa, ibu, bapak, anaknya bagaimana, sekarang mereka lagi apa, sudah makan belum, hapal. Entah kalau kutanyai perihal yang framingnya agak “serius”: Kiai Haji Agoes Salim atau R.A Kartini itu siapa, mungkin beda lagi. Memang ada orang yang “bakat” untuk itu, entah karena sejumlah faktor dari luar ataukah tidak. Jadi ibu-ibu itu tak salah. Kita tak ada hak mempersalahkan sebuah kebebasan preferensi.

Orang-orang kita, maksudku mayoritas dari dua generasi tadi, cenderung lebih mengerti “Avenger” daripada pahlawan-pahlawan hereoik bangsa. Lebih hafal riwayat hidup Scarlett Johansson ketimbang Cut Nyak Dien. Lebih mengidolai Chris Evan daripada Jenderal Sudirman. Hmmm. Bukan berarti itu salah, atau siapa yang salah, tapi tampak kulihat ada ketimpangan menimbang mana yang pas untuk dibilang “berbobot” dengan mana yang harusnya hanya “berat” saja. Itu maknanya pemahaman sejarah kita berhenti pada tingkat delusional.

Belum lagi kita juga disibuki oleh MMV, atau sebut saja “Manusia-Manusia Viral”. Lalu lalang tidak jelas di lalu lintas sejarah ini. Hal itu menjadi salah satu faktor penunjang dari luar yang menghalang pandang sejarah bangsa ini dari rakyatnya, dengan gaya hidup seperti ini sejarah terkesan menjadi kian menjauh di buritan. Bahkan, dengannya, kita bela-belakan untuk tenggelam dalam ilusi penokohannya, lalu mengidolakannya. Sampah-sampah entertainik dibuang melalui corong televisi. Masyarakat kita tiap hari dijelali sejumlah tayangan komersial, yang kosong isi. Mata disuapi asupan, yang kurang mutu.

Melihat ibu-ibu tadi, tongkrongan di warkop, atau sejumlah tayangan-tayangan komersil yang subur di dunia informasi. Konklusifnya, setelah kuformulasikan pikiran ilmu waktu kusimpulkanlah dengan ringkas, bahwa sejatinya diri kita ini sekumpulan orang cenderung “malas belajar” sejarah memang terkena imbas dari keadaan yang sudah terbentuk. Penduduk kita, masyarakat nasional, rakyat anak bangsa Indonesia, hanya seladang tanaman pesakitan di tanah yang memang sedang terjangkit wabah hawar.

Sejarah kurasa di negeri ini “dongeng pengantar tidur” saja. Tak sedikit orang yang “mengantuk” sejarah. Banyak juga kurang menangkap “feel” sejarah itu sehingga gagal untuk bisa mengakses kemungkinan untuk merasa, menjiwai, masuk ke sadar kemelekan pandangan sejarah. Belum lagi aspek lainnya. Di ranah pendidikan formal, didikan di atmosfer sekolah juga kering: sebatas formalitas keberadaan sekolah itu sendiri. Tiap rutinitas Senin, biasanya jadwal upacara bendera dikibarkan: sialnya tak pernah benar-benar kenal apalagi mafhum terhadap makna upacara itu sendiri. Nuansa sejarah kebangsaan hilang di tingkat akar.

Itu saja belum fundamentil macrabe, maksudku, di sekolah menurutku kadang kurang presisi juga penepatan mengenai penjadwalan dalam kelas-kelasnya. Jadwal pelajaran sering salah meleset tembakan ketepatan waktu pengadaannya. Dalam konteks untuk mengingat-ingat kembali sejarah, kembali lagi persoalan upacara mingguan tadi, seketika habis upacara bendera, seharusnya mbok dibikin jadwal tentang “Pelajaran Sejarah Bangsa” di ruang kelas. Agar fokus siswa tidak belok dan pecah. Entah bagaimana merumuskan, saya hanya buka gerbang pemikiran saja.

Apakah seluruh kelas di jam saat itu serentak semua diaplikasikan pelajaran sejarah, atau dikolektifkan di satu ruangan menampung semua siswa agar efisien. Apakah juga lebih bagus apabila ada olahan kurikulum yang menelorkan “Pelajaran Khusus Sejarah Bangsa” biar fokus pembelajarannya tidak memencar. Intinya, jadi tetap nyantol muatan kronologis pembelajaran yang ada di segala habitat persekolahan, dari kegiatan sebelumnya dan kegiatan sesudahnya. Tidak zig-zag. Saya agak gaguk saja kalau sehabis saya menghormat bendera, tiba-tiba belok fokus sebab yang ada di kelasku setelahnya adalah seorang guru Biologi.

Itupun kalau sudah, masih belum cukup jauh. Kita belum bicara tentang mekanisme didikan plus pendekatan pengajaran di ruangannya, metodologi penyampaiannya, atau perihal spektrum isi dari yang disampaikan. Ada guru sejarah yang gagal menumbuhkan metabolisme sejarah di ruangan kelasnya. Sejarah menjadi menjenuhkan. Karena buku sejarah itu sendiri terlalu ditonjolkan dengan angka-angka: tanggal dan tahun peristiwa. Penting tapi tentunya itu menumbuhkan kemalasan pada siswa karena sistem hafalan numerik tersebut. Jadi yang ditumbuhkan di kelas adalah pelajaran sejarah, bukan kesadaran cintaakan sejarah yang disampaikan.

Kita kaya sejarah tapi fakir dalam cinta kita pada kesadaran mengenai sejarah. Dan sayangnya, itu sangat sudah membudaya, sehingga terasa seperti kondisi normal saja. Itulah kita. Penduduk kita malas belajar sejarah. Karena malas, view sejarah secara terus menerus tidak ditampilkan secara maksimal di tengah podium kehidupan masyarakat sehari-hari. Tangan kita masih menggerayang di remang-remang kegelapan sejarah negerinya sendiri.

Kurang pekikan dari teknisi sejarah untuk menyeru kepada ummat bangsa tentang pentingnya muatan-muatan pembelajaran dalam sejarah dan menggemakan seisi mural masa lampau di mimbar keberlangsungan kehidupan masyarakat sekarang. Mumpung sekarang momentum Agustusan. Saya masih menemukan sejumlah bendera terpasang rata di gang-gang kecil pedesaan. Aduuh, itu membuatku tak terhenti tersenyum.

Semoga ini tetap berlanjut, saya kuatir kalau besok ulang tahun kemerdekaan negeri ini sudah menyentuh ke 1.000 kali, di seribu tahun yang akan datang jika memungkinkan misalnya, apakah masih kenal dengan sederet perjuangan tokoh bangsa ini. Jangan sampai sejarah masuk ke dalam metafora yang kusebut “Kapal Dalam Horizon”, sejarah jangan menjadi seperti kapal. Semakin hari waktu dan detik terus berlayar, semakin terus menjauh, hingga hilang di ufuk mata.

Arsyad Ibad
Sekargandha,
12 Agustus 2018 09:05.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
4
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
6
Wooow
Keren Keren
6
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
A. Irsyadul Ibad
A. Irsyadul Ibad atau Arsyad Ibad melakukan restorasi humanisme, arketipe ketauhidan dan cara pandang interpretasi.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals