Cinta, Paradoksal dan Ledakan

kalau aku mencintai Prabowo, beserta tapal kudanya beserta Jokowi, sepeda-sepedanya, dan ikan tongkolnya, kalian mau apa?


kalau selama ini aku sibuk mencintai diriku, ternyata atas dasar segala kekuranganku,
kalian mau apa?

kalau selama ini aku ribut menyayangi orang lain, sebagai tuduhan menghargai kelebihan mereka,
kalian mau apa?

kalau aku mencintai orang yang mencintaiku, sebagai bentuk balas budi kedermawanan emosional yang mereka sedekahkan padaku,
kalian mau apa?

kalau aku mencintai juga orang yang berpesta membenciku, sebab mereka memberi apa yang sepantas-pantasnya perilaku sosial layak padaku,
kalian mau apa?

kalau aku curahkan segala hangat kecupanku pada kening istriku, karena miskinnya dan tak becusnya aku membangun hatinya,
kalian mau apa?

kalau aku terus memeluk hangat tubuh anak kandungku, karena kemurnian dan keindahan keberadaan wujud dirinya menemuiku di dunia,
kalian mau apa?

kalau aku tak henti-hentinya menciumi jemari kaki orangtuaku, sebagai ongkos durhakaku atas keriput pengorbanan-perjuangan yang selalu lalai kuanggap,
kalian mau apa?

kalau aku mencintai orang-orang lemah dan kecil, masyarakat bawah, kaum ceker, karena indahnya kesederhanaan jiwa kehidupan mereka dalam mengkalkukasi dunia,
kalian mau apa?

kalau aku mencintai para pejuang diri, pemburu masadepan dan karirnya disebabkan kegigihannya dan keuletan respect-nya pada anugerah kehidupan yang diembannya,
kalian mau apa?

kalau aku mencintai para pembesar, tokoh-tokoh dan The Greatest, sebab dedikasi mulianya, cahaya pengabdian hidup dan galaksi inspirasinya,
kalian mau apa?

kalau aku mencintai orang Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Kong Hu Chu, bahkan Atheis,
kalian mau apa?

kalau aku mencintai Kyai, Pendeta, Biksu-Biksu, beserta para Punggawa Agama Pejuang Kedamaian,
kalian mau apa?

kalau aku mencium Masjid, menjaga pagar Gereja, mengamankan Kuil-Kuil dan Pura, membersihkan Dupha Kelentheng, merawat hati manusia,
kalian mau apa?

kalau aku mencintai Kyai Said, Habib Luthfi bahkan, beserta Habib Rizieq Syihab dan Ustadz Abdul Somad,
kalian mau apa?

kalau aku mencintai Buni Yani, Bachtiar Natsir, bahkan juga Ahok beserta Sel-Sel Penjaranya,
kalian mau apa?

kalau aku mencintai Felix Siauw, Jonru Ginting, bahkan Prof. Sumanto Qurtuby dan Arya Permadi,
kalian mau apa?

kalau aku mencintai Prabowo, beserta tapal kudanya beserta Jokowi, sepeda-sepedanya, dan ikan tongkolnya,
kalian mau apa?

kalau aku kekal mencintai-Mu, tenggelam dalam Basuhan Samudera-Mu karena kedhaifan diriku dan kotornya hatiku,
kalian mau apa?

kalau hidupku hanya untuk menciumi Rasulullah, memeluk Ibunda kita semua Aminah dan Ayahanda Abdullah,
kalian mau apa?

kalau aku memetik mawar bukan hanya kelopaknya melainkan beserta duri-duri yang menjadi perisainya,
kalian mau apa?

kalau aku memakan bandeng tidak pernah teliti sehingga aku telan semua beserta tulang-tulangnya,
kalian mau apa?

kalau aku berterimakasih pada ulat yang membusukkan buah, karena dengannya aku tahu mana yang sebenarnya buah,
kalian mau apa?

kalau aku selalu melihat secercah kebaikan pada seseorang dalam seluruh gelombang keburukan hidupnya,
kalian mau apa?

kalau seluruh durasi nyawaku sudah haaaabiiiisss biss bisss untuk sibuk dan sibuk mencintai hingga aku tak ada bom waktu untuk terpaksa harus membenci,
kalian mau apaaaaaaaa!!!!!

:Jangan jadi diriku, menjadi orang yang bodoh
tak punya pendirian.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
4
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
A. Irsyadul Ibad
A. Irsyadul Ibad atau Arsyad Ibad melakukan restorasi humanisme, arketipe ketauhidan dan cara pandang interpretasi.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Puisi

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals