Pesantren Sebagai Bengkel Kesantunan

Akhlak mulia merupakan pilar kehidupan. Jika pilar ini roboh, maka rusaklah kehidupan.


Sumber gambar: Asumsi.co

Akhlak mulia merupakan pilar kehidupan. Jika pilar ini roboh, maka rusaklah kehidupan. Sebab akhlak mulia, manusia dapat menghindar dari perilaku buruk, buas, serakah dan sejenisnya.

Dalam sejarah banyak tersaji peristiwa-peristiwa kehancuran suatu kelompok atau bangsa karena tidak adanya akhlak mulia dalam diri mereka. Salah satu yang sangat masyhur adalah kehancuran bangsa Sodom. Kehancurannya itu menjadi pelajaran yang sangat berharga akan bahaya hilangnya akhlak mulia dalam diri manusia.

Islam sebagai agama terakhir membawa misi utama untuk membimbing manusia menuju peradaban yang terpuji. Hal ini nampak jelas pada alasan terutusnya Muhammad menjadi nabi dan rasul penutup, yaitu untuk menyempurnakan akhlak mulia.

Dengan terutusnya beliau, bangsa arab yang ketika itu berada dalam budaya jahiliyah mengalami masa pencerahan dan perbaikan yang sangat signifikan. Sehingga tidak ada lagi anak perempuan yang dikubur hidup-hidup maupun penyembahan berhala. Bangsa Arab dan Islamnya kemudian tampil dengan peradaban yang berpengaruh positif ke berbagai penjuru dunia, seperti ke Indonesia.

Di era modern ini, akhlak mulia tetap menjadi pilar peradaban suatu bangsa. Di Indonesia misalnya, agar terpatri kuat dan dapat dipraktekkan secara luas, maka akhlak mulia menjadi bagian utama dalam proses pendidikan. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyak lembaga pendidikan yang menjadikan akhlak mulia sebagai visi-misi utamanya. Salah satu lembaga pendidikan yang dimaksud adalah Pesantren.

Dalam pesantren, pembentukan akhlak yang mulia pada diri santri merupakan project utamanya. Di samping, tentunya, mencetak santri yang memiliki pengetahuan yang luas. Usaha pembentukan akhlak yang mulia ini berlansung secara simultan dengan kegiatan rutinan dalam pesantren. Terlebih Kiainya memang tinggal di lokasi pesantren. Sehingga prilaku santri terpantau dan terkontrol selama 24 jam.

Salah satu pesantren yang menaruh perhatian besar pada pembentukan akhlak yang mulia ini adalah Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, pesantren yang terletak di Pulau Garam, Madura. Pesantren ini didirikan pada tahun 1943 oleh RKH. Abdul Majid (w. 1957). Sedangkan sekarang, Bata-Bata dipimpim oleh RKH. Abdul Hamid yang merupakan pengasuh ke 4, memimpin sejak tahun 1987 hingga sekarang. Namun kini kepemimpinan beliau banyak diwakili oleh puteranya, RKH. M.Thahir Zain. Di pesantren inilah saya mengeyam pendidikan agama selama ± 4 tahun.

Dalam memimpin Bata-Bata, RKH. Abdul Hamid mencetuskan motto yang berbunyi “kesopanan lebih tinggi nilainya daripada kecerdasan”. Dengan motto ini, para santri terus menerus diingatkan bahwa bagaimanapun kecerdasan yang dimiliki seseorang itu tidak akan berguna dan bernilai apa-apa jika dirinya tidak memiliki kesopanan. Dalam hal ini, tata laku pengasuh dan keluarganya merupakan teladan utama bagi para santri. Bagaimana akhlak pengasuh ketika menjamu tamu atau ketika berinteraksi dengan santri selalu menjadi pelajaran berharga.

Selain tata lakunya, untuk mengajarkan akhlak mulia ini juga terkadang pengasuh menyajikan cerita saat beliau menimba ilmu kepada Syekh Amin Quthbi di Mekkah al-Mukarramah. Cerita ini disampaikan oleh pengasuh ketika kajian kitab Tafsir Jalalain. Ketika itu, beliau mendengar ada kitab yang ditaruh dengan posisi disandarkan ke dinding yang kemudian jatuh ke lantai dan menimbulkan suara yang cukup nyaring. Karena ketika itu suasana sedang hening.

Seketika beliau bercerita bahwa ketika mengikuti kajian kitab pada gurunya di Mekkah itu membuka lembaran kitab pun diusahakan untuk tidak sampai menimbulkan suara. Apalagi sampai ada suara kitab yang jatuh ke lantai. Setelah mendengar cerita itu, hati santri yang ikut kajian itu menjadi ‘leleh’ merasa sangat malu dan bersalah kepada pengasuh.

Dari cerita itu tampak jelas bahwa pengasuh memberikan didikan akhlak yang mulia itu dengan dimulai dari dirinya sendiri terlebih dahulu. Bagaimana mungkin pesan-pesan akhlak mulia dapat masuk ke relung hati manusia jika sang penyeru itu tidak memiliki akhlak yang mulia?

Cerita ini hanyalah potret kecil dari wajah pendidikan akhlak mulia yang berlangsung di pesantren. Masih banyak cerita-cerita lain dari pesantren berbeda yang bisa menjadi bukti bahwa pesantren adalah tempat terbaik pendidikan akhlak mulia bagi generasi penerus bangsa.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Fahrudin

Alumni Prodi IAT IAIN Jember. Sekarang sedang menempuh pendidikan pascasarjana di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals