Hagia Sophia dan Serpihan Ingatan tentang Peradaban Islam

Kejumudan yang terjadi membuat dunia Islam mengalami kegagapan dalam menjawab persoalan dunia kontemporer


Hagia Sophia (Sumber Foto: pexels.com)

Pada Jumat 24 Juli 2020 Hagia Sophia yang dulunya difungsikan sebagai museum, diubah menjadi masjid kembali lewat keputusan Dewan Kehakiman Turki. Momentum ini, dirayakan dengan suka cita oleh banyak warga Turki maupun umat Islam di Dunia. Walaupun tentu tidak semua orang setuju dan senang dengan kebijakan yang diambil presiden Turki itu.

Tentu kontra yang terjadi bukan tanpa alasan, kebijakan perubahan status Hagia Sophia ini oleh sebagian kalangan dinilai hanya sebagai strategi politik Erdogan belaka. Selain itu, bagi kalangan umat kristen Ortodok, perubahan status Hagia Sophia sebagai masjid kembali adalah mengenang ingatan kelam tentang penyerangan umat Islam terhadap kota suci Konstantinopel dan perebutan Katedral Agung mereka. Di sisi lain, peristiwa ini akan mengingatkan kembali akan perang berkepanjangan antara umat Islam dan Kristen yang biasa dikenal dengan Perang Salib.

Respons negatif juga diutarakan oleh Perdana Menteri Yunani yang menilai kebijakan Erdogan telah melukai umat Kristen sebagai pemilik asli Hagia Sophia. Bagi umat Kristen bangunan ini cukup memiliki ikatan yang kuat sebagai sebuah bukti kemajuan peradaban Romawi dan umat Kristen pada waktu itu.

Terlepas dari berbagai pro kontra yang terjadi, Hagia Sophia adalah salah satu simbol sekaligus memori warisan kemajuan peradaban Islam waktu itu. Ingatan ini penting untuk merefleksikan kembali tentang capaian-capaian yang pernah diraih oleh dunia Islam. Sekaligus menjadi lecutan untuk kembali andil dalam penciptaan peradaban kemanusian.

Peradaban Islam menjadi sebuah cerita yang banyak diulas dalam ceramah hingga seminar ilmiah dengan berbagai perspektif. Tetapi implementasi untuk mengembalikan Islam ke posisi sentral dalam pembentukan peradaban kemanusiaan masih belum terlaksana. Mungkin hal yang bisa dilaksanakan seperti perbaikan sistem pendidikan, peningkatan aktivitas riset, dan pengembangan kesehatan serta kesejahteraan masyarakat. Hal ini tentu dapat dicapai dengan cara umat Islam membuka diri untuk berkolaborasi dengan berbagai kalangan.

Baca Juga: Masjid Biru: Kedigdayaan Turki Usmani

Di era Rasulullah umat Islam telah diajari tentang pentingnya kolaborasi dengan umat lain dalam mengatasi isu-isu sosial. Kolaborasi yang terjalin itu dirumuskan dalam bentuk yang lebih formal berupa Piagam Madinah.

Klausul yang terkandung dalamnya berisi tentang aturan bagaimana bela negara dan aspek gotong royong antar sesama penduduk Madinah. Di dalamnya juga terdapat klausul yang berisi tentang hukuman terhadap pelanggar kesepakatan.

Nuansa yang terbangun waktu itu, sudah tidak lagi berbicara tentang kerjasama di internal umat muslim namun bekerjasama dengan seluruh orang yang tinggal di suatu wilayah yang terdiri dari berbagai suku seperti Aus, dan Khazraj. Dari sisi Agama setidaknya ada pemeluk Yahudi serta Zoroastrian yang tergabung dalam wilayah Madiah.

Konsensus yang dibangun dalam negara Madinah menjadi tanggung jawab bersama untuk diimplementasikan. Hukuman yang disepakati juga dapat menimpa siapa saja yang berkhianat tanpa melihat latar belakang agama yang dipeluk.

Di era selanjutnya pada masa Khalifah Abu Bakar hingga Ali. Walaupun banyak kisruh yang terjadi baik diinternal maupun eksternal. Namun kebijakan seperti penertiban zakat di era Abu Bakar, ekspansi wilayah di era Umar, perbaikan birokrasi di era Usman dan penataan sistem politik di era Ali. Semua itu setidaknya mulai memperhatikan tentang aspek sosial.

Di era berikutnya, kerjasama dengan berbagai peradaban seperti pemeluk Agama kristen Koptik, Zoroastrian, dan berbagai tradisi mulai dari tradisi Yunani, Romawi, Persia.

Semua khazanah peradaban yang terjamah oleh umat Islam dipelajari dan sekaligus diakomodasi untuk memperkaya kebudayaan Islam. Termasuk Istanbul yang sebelumnya bernama Konstantinopel memiliki peradaban yang telah maju sebelum Islam datang. Hal ini dikarenakan, Konstantinopel menjadi ibu kota Romawi.

Proses adopsi dan kolaborasi yang telah terjalin oleh generasi sebelumnya dengan berbagai tradisi dan perdaban lain, mengalami keterputusan ketika Turki Ustmani runtuh. Keterpurukan yang terjadi itu berlangsung terus hingga kini. Walaupun, tentu tiap generasi dan tiap wilayah tetap ada ulama atau ilmuan muslim yang progresif. Namun, pemikiran Progresif tidak menjadi gerakan arus utama dalam khazanah pemikiran Islam.

Baca Juga: Islam dan Peradaban yang Hilang

Dinamika sosio-politik dan kultural yang telah dibangun secara epik oleh Rasulullah hingga generasi Turki Ustmani yang mengalami keterputusan seperti penjelasan di atas, mendorong para sarjana muslim seperti Muhammad Iqbal, Muhammad Abduh, dan sarjana progresif lain yang berkomentar tentang kejumutan dunia Islam dalam mempelajari ilmu pengetahuan terutama keilmuan di luar khazanah keislaman. Seperti filsafat, matematika, fisika, bahkan pemikiran kritis terhadap khazanah keilmuan Islam yang dirasa kurang selaras dengan perkembangan zaman juga tidak banyak dikaji (Misoginis, Jihad, Khilafah, dan lain sebagainya).

Kejumudan yang terjadi membuat dunia Islam mengalami kegagapan dalam menjawab persoalan dunia kontemporer, mengingat masih banyak ilmuan muslim yang sibuk dengan kajian teologis dan melupakan kajian-kajian sosial. Umat Islam hari ini, lebih mementingkan identitas dan aspek ibadah ketimbang pengembangan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan umat manusia. Padahal isu ini penting dan lekat dengan keseharian kehidupan manusia.

Pembahasan tentang wacana Islam progresif–pemikiran Islam yang ingklusif, mengkaji semua pemikiran tanpa membeda-bedakan antara keilmuan agama dan keilmuan umum serta pemikiran barat dan timur–juga mengalami kemandekan karena hanya disuarakan oleh sekelumit orang. Ditambah lagi, wacana yang disampaikan terbatas di kalangan para sarjana dan ilmuan saja, karena bahasa yang dipakai adalah bahasa ilmiah sehingga cakupan pembacanya terbatas.

Momentum perubahan status Hagia Sophia ini mengingatkan kembali, tentang wajah Islam yang inklusif dan mau berbaur dengan tradisi lain serta pentingnya mengkaji berbagai ilmu pengetahuan dan terbuka dengan berbagai peradaban. Selain itu penting juga untuk menjalin komunikasi dengan umat-umat lain dan berkolaborasi memajukan peradaban kemanusiaan. [AR]
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jadi, bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! 

Anda juga bisa mengirimkan naskah Anda tentang topik ini dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannyadi sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.iddi sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Mufarrih El Mubarok
Tim Redaksi Artikula.id | Kordinator Departemen Jaringan Sekolah dan Pondok Pesantren Pimpinan Anak Cabang IPNU Panceng Gresik.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals