Nasihat Untuk Para Pembohong

Orang yang selalu berbohong, lama-kelamaan si pembohong ini tidak bisa lagi membedakan antara kebohongan dengan kebenaran yang diucapkannya.


www.dakwatuna.com

Saat membaca buku yang berjudul “Ayah” karya Irfan Hamka, saya menemukan satu kisah menarik yang dituturkan olehnya. Irfan menuturkan kisah saat ia ketahuan berbohong oleh Ayahnya (Buya Hamka).

Ketika berbohong itu, Irfan ditanya oleh Ayahnya apakah ia sudah shalat isya’? Lalu karena kalut dan gugupnya, Irfan menjawab dengan terbata-bata penuh keragu-raguan bahwa ia sudah shalat.

Akan tetapi, melihat kondisi Irfan yang terbata-bata menjawabnya, Buya Hamka tidak yakin kalau Irfan benar-benar sudah melaksanakannya. Karena jawaban yang tidak meyakinkan itu, akhirnya Buya Hamka memerintahkan Irfan untuk segera menunaikan shalat Isya’.

Setelah ketahuan berbohong itu, lalu Irfan dinasihati Ayahnya. Buya Hamka menuturkan bahwa ada tiga syarat yang harus dimiliki oleh orang yang suka berbohong.

Pertama, orang itu harus memiliki mental baja, berani, tegas, dan tidak ragu-ragu untuk berbohong. Kedua, tidak lupa akan kebohongan yang diucapkannya. Ketiga, harus menyiapkan bahan-bahan perkataan bohong untuk melindungi kebenaran bohongnya yang pertama.

Buya Hamka memberikan contoh: Ada seorang teman bertanya kepada temannya, “Tadi hari Jum’at shalat di mana?”

Si teman yang ditanya sebenarnya tidak ikut shalat Jum’at, namun karena malu, dia berbohong, lalu menjawab, “Di Masjid Agung”.

Si teman yang bertanya kembali bertanya, “Di lantai mana kau shalat?

Yang ditanya kembali menjawab, “Di lantai bawah”. Bertambah lagi bohongnya.

Saya juga di lantai bawah, kok tidak bertemu?” Tutur yang bertanya.

Dengan mantap yang ditanya menjawab, “Saya di shaf paling belakang”.

“Coba kau hitung, Irfan! Untuk melindungi bohongnya, berapa kali dia menambah kebohongannya agar temannya percaya bahwa dia memang shalat di Masjid Agung? Mengerti kau, Irfan, akan cerita Ayah ini?” Begitulah tegas Buya Hamka saat menasihati putranya Irfan.

Kemudian Buya Hamka melanjutkan lagi nasihatnya kepada Irfan. “Kalau Ayah lihat, kau tidak berbakat untuk berbohong. Satu saja syarat yang harus dimiliki oleh orang yang ingin berbohong itu tidak ada, pasti kebohongannya tidak sempurna.

Oleh sebab itulah Ayah sampaikan, kalau tidak berbakat untuk berbohong, jangan kau coba-coba berbohong. Kau tidak berbakat. Dan ingat, bohong itu salah satu dosa yang harus kau pertanggungjawabkan kepada Allah.”

Merasa cukup, setelah itu, Buya Hamka megakhiri nasihatnya untuk Irfan. “Satu hal harus kau ketahui. Orang yang selalu berbohong, lama-kelamaan si pembohong ini tidak bisa lagi membedakan antara kebohongan dengan kebenaran yang diucapkannya. Akhirnya masyarakat tahu bahwa dia seorang yang sering berbohong, lalu diberi gelar Si Pembohong.”

Begitulah cerita Irfan Hamka tentang pengalaman berbohongnya terhadap Ayahnya. Boleh jadi, pengalaman yang serupa itu juga pernah kita alami. Ingat pesan Buya Hamka di atas tadi, jangan coba-coba untuk berbohong.

Dalam Islam, sifat bohong adalah sifat yang sangat tercela. Kebohongan adalah satu bentuk kejahatan. Bahkan, orang yang senang melakukan kebohongan ini digolongkan ke dalam orang yang munafik. Sebagaimana Rasulullah SAW menuturkan:

“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara bohong, apabila berjanji mengingkari janjinya, dan apabila dipercaya berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sejatinya, orang-orang yang beriman itu tidak mungkin jadi pembohong. Jika ada orang yang mengaku beriman tapi melakukan kebohongan, maka perlu disangsikan keimanannya tersebut. Sebab, Al-Qur’an menganggap bahwa sebenarnya sifat bohong itu adalah tabiatnya orang yang tidak beriman. Sebagaimana Al-Qur’an menuturkan:

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong.” (QS. An-Nahl/ 16: 105)

Adapun akibat yang timbul dari kebohongan yang dilakukan adalah hilangnya kepercayaan orang-orang di sekelilingnya dan boleh jadi akan dikucilkan dari pergaulan serta akibat-akibat buruk yang lainnya. Oleh sebab itu, jauhilah sifat bohong ini. Jangan sampai sifat bohong ini menjadi kebiasaan kita. Jangan sekali-kali mencoba berbohong, karena jika sudah sekali saja berbohong maka akan muncul lagi kebohongan-kebohongan yang lainnya.

Semoga Allah SWT melindungi kita dari sifat bohong yang keji ini. Aamiin Ya Rabbal’alamin.

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Abdur Rauf

Penulis berasal dari Kepulauan Riau. Saat ini sedang menempuh studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals