Waktu Terlalu Berharga untuk Dihargai

Sudah seberapa sering kamu menyianyiakan waktu luangmu? semoga tulisan yang sedikit ini bisa menggugah diri kita untuk tidak mengulangi untuk yang kesekian kali.


Saya yakin setiap orang pasti tidak asing dengan kata pepatah “kita hidup di dunia ini hanya mampir minum saja”. Ini mengingatkan kita bahwa hakikatnya hidup di dunia ini hanyalah sementara, hanya sekadar menyicip pahit-manisnya nikmat Allah dari sekian banyak nikmat-Nya, hanya mencari bekal untuk akhirat nanti, dan lain sebagainya. Namun naasnya acapkali kita terlena dengan gemerlapnya dunia. Sehingga, tidak jarang kita lalai dengan tujuan sebenarnya kita hidup di dunia dan sampai lupa untuk menunaikan kewajiban sebagai hamba-Nya.

Hal ini mengingatkan kita dengan hadis Rasulullah Saw, beliau bersabda:

عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ . وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ . [رواه البخاري]

Dari Ibnu Umar Radhiallahuanhuma berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang kedua pundak saya seraya bersabda: “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara”, Ibnu Umar berkata: “Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu”. (Riwayat Bukhori)

Hadis di atas benar-benar menggambarkan sekaligus sebagai pengingat atas keadaan kita di dunia saat ini. Kita hanyalah orang asing yang singgah di dunia ini, dan nanti akan kembali ke akhirat alam yang sebenarnya di mana kita akan hidup kekal dan abadi, pada saatnya nanti. Kita hanya singgah sementara di dunia dan tugas kita hanya mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk akhirat kelak, layaknya seorang pengembara. Setelah mengetahui hadis ini kita seharusnya sudah sadar jika kita hidup saat ini adalah untuk masa depan kehidupan kita selanjutnya yakni kehidupan akhirat. Kehidupan akhirat seperti apakah yang kita inginkan? Maka itulah yang kita usahakan.

Di dalam hadis ini terdapat suatu anjuran untuk mempunyai sifat zuhud terhadap dunia. Yakni dengan mempunyai mindset bahwa kita hidup di dunia ini hanya sementara, dan segala harta kekayaan yang kita miliki hanyalah titipan Allah Swt yang nantinya akan kembali kepada-Nya, termasuk diri kita. Sifat zuhud terhadap dunia bukan berarti semata-mata meninggalkan segala usaha, kegiatan ataupun segala hal tentang dunia sehingga masa bodoh. Akan tetapi, mewaspadai agar tidak terlena ke dalam gemerlapnya dunia sehingga melupakan akhirat.

Hal ini sebagai pengingat bahwa kita harus mengimbangkan antara kehidupan di dunia dan urusan kita dengan akhirat nanti. Kita harus berhati-hati dalam melangkah di dunia ini dan mewaspadai tiap-tiap hal keburukan. Termasuk mewaspadai orang-orang yang sekiranya memberi pengaruh buruk di dalam hal-hal yang menyesatkan sehingga menghambat kita dalam beramal salihMaka alangkah baiknya jika kita bergaul di dalam lingkungan dengan orang-orang yang saling merangkul dalam kebaikan.

Sebagai seorang muslim yang sadar akan kehidupan dunia yang sementara ini, kita menjadikan dunia sebagai jembatan menuju surga-Nya. Kita perlu berhati-hati agar tidak terlena dengan gemerlap kemewahan yang fana ini. Jangan sampai kita termasuk golongan orang-orang yang selalu mengejar dunia, hingga melalaikan kewajiban kita terhadap Allah Swt sebagai hambanya, terlebih sampai menjadi orang yang hubbud dunya. 

Kita dapat memetik banyak hal dari sepotong hadis ini dan menjadikannya inspirasi dalam menjalani kehidupan yang sementara ini. Di kehidupan dunia kita yang singkat kini, kita tidak tahu kapan ajal menjemput, bisa saja beberapa tahun ke depan, beberapa hari ke depan, beberapa jam ke depan atau beberapa saat ke depan, karena datangnya ajal tidak ada yang tahu kecuali Allah Swt. Ajal tidak melulu duluan menjemput orang yang sudah sepuh, bisa saja kita yang masih muda sehat bugar atau anak kecil yang belum berdosa pun bisa tiba-tiba meninggal atas kehendak-Nya.

Hadis di atas juga menyadarkan kita agar menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Tidak menunda dalam melakukan sesuatu, dalam melakukan kebaikan dan beramal. Misalnya saja seorang hamba, menunda kewajibannya dalam mendirikan sholat yang sebenarnya kewajiban itu bukan semata-mata kebutuhan Allah terhadap sholatnya, akan tetapi dialah yang butuh kepada Allah dengan sholatnya. Ia butuh sholat sebagai tabungan amalnya, agar dimudahkan kehidupannya dan lain sebagainya. Maka dia tidak pantas jika sampai menunda bahkan melalaikan kewajiban sholatnya.

Menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya sebagai salah satu nasihat dalam hadis ini, di mana seorang muslim yang cerdas sudah seharusnya menggunakan setiap waktu yang dimiliki untuk beramal salihAmal salih inilah yang sangat dibutuhkan kita sebagai hamba-Nya untuk tabungan akhirat kelak. Amal salih bisa dimulai dengan berlomba-lomba dalam beramal atau dalam hal melakukan kebaikan kepada orang lain.

Perumpamaan berlomba-lomba dalam beramal salih bisa diibaratkan dengan ketika kita bermain game, kalau kita ingin menang dalam suatu permainan maka kita harus mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Begitupun dengan kehidupan kita, jika kita menginginkan kemenangan mencapai surganya di akhirat maka kita harus mengumpulkan amal salih sebanyak-banyaknya, dengan menggunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya.

“Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari” Begitu isi dari sepenggal hadis di atas yang menginspirasi kita, ketika dalam beramal salih hendaknya tidak usah menunggu waktu yang akan datang. Kalau kita bisa melakukan amal salih itu saat ini juga, mengapa harus menunggu nanti? Sedangkan kita tidak tahu kapan terakhir kali kita bisa beramal salihBisa saja ketika kita terus menunda dan tidak pernah menyempatkan diri untuk beramal, hidup kita berakhir dengan tidak pernah beramal sama sekali. Na’uzubillahi min dzalik.

Dapat disimpulakan bahwa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dalam urusan akhirat, dengan menyibukkan diri dengan beramal tentu lebih utama dibadingkan dengan bermalas-malasan dengan hal yang tidak ada manfaatnya bahkan mengandung madhorot yang besar. Mengisi keseharian kita dengan menebarkan kebaikan-kebaikan kepada orang lain seperti membantu sesama, bersedekah atau dengan hal kecil seperti membahagiakan orang lain itu jauh lebih baik. Minimal ketika kita tidak beramal salihjangan sampai kita mendekati suatu maksiat.

Tujuan hidup di dunia ini memanglah sebagai jembatan untuk kita menuju kehidupan akhirat yang kekal abadi. Akan tetapi kita harus mempunyai prinsip proposional terhadap keduanya. Seperti, kita harus menyediakan porsi untuk kebutuhan kita di dunia dan porsi di dunia itulah yang akan mendukung kita dalam beramal salih. Misalnya saja ketika kita menuntut ilmu di dunia, hal itu akan memberi feedback seperti kita akan lebih banyak mengetahui bagaimana kekuasaan Allah Swt, yang dengan itu membuat kita semakin sadar dan semangat berlomba-lomba dalam hal kebaikan.

Ketika kita merasa iman kita turun dan semangat kita dalam berbuat kebaikan juga menurun, hadis ini bisa dijadikan charger semangat dalam beramal dan memanfaatkan setiap kesempatan yang dimiliki. Sehingga memiliki motivasi untuk terus berjalan dengan melakukan kebaikan-kebaikan diwaktu kapanpun dan di manapun.

Tidak sekadar sebagai inspirasi bagi kita dalam melakukan kebaikan-kebaikan dalam beramal salih, akan tetapi secuil kalimat dari hadis ini dapat dijadikan inspirasi dalam melakukan hal duniawi. Seperti suntikan penyemangat, di kala diri mulai merasa malas ketika akan melakukan sesuatu dan ketika ingin menunda suatu pekerjaan.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
7
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
4
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Rofika Dewi Putri
Rofika Dewi Putri seorang alumnus MIN Bitung, MTs Al-Khairaat, MAPK Surakarta dan saat ini sedang berproses menyelesaikan S1 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jurusan Hukum Bisnis Syari'ah. Penulis asal Manado, Sulawesi Utara ini adalah seorang yang dalam kehidupannya masih terus belajar dari pengalaman dan berproses hingga menjadi orang yang dapat menebar kebaikan di bumi manapun ia berpijak. Saat ini berdomisisli di Malang.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals