Ragam Kemasan Plastik yang Membuat Sampah Menggunung

Tulisan ini akan menguraiakan persoalan sampah plastik yang semakin hari semakin meningkat. Selain itu sebagai renungan Hari Penanggulangan Sampah Nasional.


Foto: Reuters

Tulisan ini akan menguraiakan persoalan sampah plastik yang semakin hari semakin meningkat. Selain itu sebagai renungan Hari Penanggulangan Sampah  Nasional 21 Februari  2020. Agar tragedi sampah tidak berulang-ulang terjadi.

Sampah merupakan limbah yang tidak digunakan baik dalam Rumah Tangga maupun industri. Hal tersebut terlihat apabila proses pemindahan dari rumah tangga ke TPA tersendat. Kenyataan tersebut seperti terjadi di Yogya akibat blokade jalan ke TPA oleh warga. Akibatnya, sampah rumah tangga menumpuk dan bahkan di antara warga yang mensiasatinya lewat pembakaran, khususnya yang mudah dibakar seperti kertas, plastik dan sebagainya.

Problem sampah menjadi bagian hidup manusia. Kenyataan di atas setidaknya adalah bau tidak sedap dari sampah organik dan non organik yang dibakar. Setidaknya, solusi tersebut tidak baik bagi kesehatan lingkungan dan manusia itu sendiri. Hasilnya lingkungan tercemar dan manusia kesehatannya terganggu baik secara langsung maupun tidak yang terkadang membutuhkan waktu lama.

Persoalan persampahan adalah banyaknya sampah plastik. Hal tersebut juga mengancam makhluk hidup lain seperti ekosistem di laut. Sebagai contoh, sudah tidak terhitung lagi ikan Paus yang mati dengan di dalamnya terdapat puluhan kilo sampah plastik. Demikian juga hal tersebut terjadi pada binatang laut lainnya.

Problem utama adalah kurangnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya. Hal tersebut menjadikan sampah dibuang ke laut atau di tempat lain yang bukan tempat untuk membuangnya. Hal ini tidak menjadi solusi terbaik karena tidak ada sampah di sekitar rumah namun menjadi masalah di tempat lain.

Hal lain juga dikarenakan belum adanya teknologi yang mampu menjadikan produk lain yang lebih berguna. Hal tersebut menjadikan sampah plastik kurang tertangani dan menumpuk bahkan menggunung. Akibatnya, dalam sejarah pernah terjadi longsor di TPA Leuwigajah yang merugikan banyak pihak baik jiwa di mana ratusan orang meninggal maupun kerugian harta di mana persawahan menjadi gagal panen.

Masyarakat harus tahu dan mengubah gaya hidup terkait banyaknya sampah plastik. Banyaknya sampah merupakan gaya hidup modern di mana banyak makanan yang dikemas dengan plastik. Setidaknya, kemasan itu adalah pembukus makanan  seperti nasi dengan orang mengenal kertas minyak. Selain itu terkadang dibungkus lewat stereofoam seperti untuk makanan bubur ayam atau mie ayam dan sebagainya. Ragam sampah pembungkus itulah menjadi penyumbang sampah plastik.

Wujud lain sampah plastik sekali pakai adalah tas kresek. Ibu-ibu ke pasar selalu berbelanja dan setiap belanja mesti dapat kresek baru. Itu terjadi di pasar tradisional sampai modern. Seandainya setiap orang 1-10 kantong plastik, maka dalam setahun 700 kantong plastik. Jika dihitung maka jumlahnya dalam seluruh penduduk Indonesia sebanyak 100 miliar kantong plastik yang digunakan dan beredar di Indonesia.

Selain dua bentuk sumber sampah plastik di atas adalah sampah dari bungkus Air minum. Kenyataan tersebut dibuktikan dalam Air Kemasan kecil yaitu 600 ml mendominasi 42%.  Selain itu kemaaan 240 ml 30 % dan kemasaan 1.500 ml sebanyak 28%.  Fenomena tersebut meningkat  di mana prediksi produksi AMDK tahun 2020 sebanyak 30 miliar liter air. Data tersebut melebihi data 2019 yang hanya 29 miliar dan bahkan di tahun 2015 baru produksi 27 miliar liter saja.

Sampah lain adalah sedotan plastik. Sedotan ini menjadi problem  dengan menjamurnya minuman di mall dan jalan-jalan yang menjajakan beragam jenis minuman seperti jus, teh dan lainnya baik yang branded maupun warung angkringan. Walaupun kelihatan kecil dan remeh, sedotan ini menjadi penyumbang sampah terbesar. Data menunjakan sampah sedotan ini mencapai 93 juta dalam setiap harinya. Bahkan temuan mengejutkan dari Drivers Clean Action bahwa di Pulau Pramuka 16 kg sampah per 100 m dengan kedamaan 5-13 km. Dengan demikian, menjadi bijak dengan tidak menggunakan sedotan akan lebih baik dan akan mengurangi sampah jenis ini.

Sampah lainnya dari sekali pakai adalah tissu baik kering maupun basah. Barang satu ini selalu dicari dan ditemukan di hotel, warung bahkan restoran. Untuk membuat tissu diperlukan penebangan pohon. Untuk membuat tissu toilet dalam jumlah 3,2 juta ton pabrik harus menyiapkan bahan baku tissu dari pohon 54 juta pohon. Hal tersebut merupakan laporan dari World Wildlife Fund (WWF). Demikian juga dengan tissu basah, berbeda tissu ini tidak bisa terurai selama ratusan tahun karena bahan tissu ini berbeda dengan tissu kering.

Bahan pembuatan tissu basah adalah polyster, polyprophylene dan bahan lainnya seperti non-biodegtable. Bijak menggunakan tissu akan mengurangi sampah dan kehidupan yang baik karena pohon mampu menyediakan oksigen untuk tiga orang untuk sepohon dan sebagai penyerap emisi dan karbon. Dengan bijak menggunakan tissu akan menjaga keberlangsungan alam dan kehidupan manusia.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Alfatih Suryadilaga
Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. merupakan Asosiate Professor dalam Matakuliah Hadis di Prodi Ilmu Hadis Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang sebagai Kaprodi Ilmu Hadis dan Ketua Asosasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Selain itu, sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Amin Lamongan Jawa Timur. Karya tulisan bisa dilihat https://scholar.google.co.id/citations?user=JZMT7NkAAAAJ&hl=id.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals