Melihatnya menjerat langkah tersandung
Mengejar bayangan hitam kian gencar mengepung
Menghentak gejolak di dada kian membumbung
Entah di ujung mana titik terang itu masih bersambung
Meski semua sama tetap mengapung
Hampir di setiap sudut langit lirikan mata terpikat
Memintal prediksi sejauh mana gumpalan itu akan menjadi pekat
Mewujud gelap penyampai isyarat
Menaruh guraunya dalam kilatan cahaya nan akut mencuat
Yang terkadang menyisakan guratan bahasa dalam wajah datar dan pucat
Entah apa yang membuatnya kaku dengan latah teramat
Hingga harus menunda pesan damainya teruntuk umat
Apakah mungkin menanti rangkaian do’a terpanjat?
Barulah ia dengan sopan menghantar rahmat
Atau malah, diamnya ia sebab curahan hujat?
Pun berkah tertahan jengkal umpatan curhat
Entah di bagian belahan bumi mana hamparan kapas itu akan terus terajut kuat
Meracik rona suram tak beralamat
Saling merangkul berlaga lambat
Nan jauh kian merapat, dan dekat terus bertambat




0 Comments