Mengejawantahkan “3 in 1” dengan Buku

“..Membaca merupakan wisata intelektual yang meluaskan cakrawala, menjadikan diri senantiasa tumbuh dan berkembang menjadi lebih bijaksana..”


Ilustrasi foto: membaca buku merupakan 'pintu' kebijaksanaan.

Masa hidup di dunia demikian pendek sedangkan cita-cita demikian panjang. Kearifan Nusantara menyatakan, “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan amal.” Hal itu mengandung pesan bahwa sebagai makhluk hidup kita mesti mewariskan sesuatu yang bernilai untuk kehidupan.

Rasulullah saw memberikan peluang emas untuk mendulang amal, walaupun tubuh kita telah berkalang tanah. Baginda Nabi Muhammad saw bersabda, “Bilamana anak Adam mati, maka putuslah amalnya, kecuali dari tiga: shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak saleh yang mendoakannya.”

Pertama, membelanjakan sebagian harta yang kita cintai dengan tulus hati untuk kemaslahatan bersama dengan mengisi rak-rak perpustakaan dan berbagi buku-buku bermutu dan bergizi untuk nutrisi otak dan hati. Buku adalah sumber ilmu dan kepanjangan tangan guru. Buku adalah teman setia di setiap ruang dan waktu. Buku adalah barometer zaman, cagar budaya peradaban, dan penggerak perubahan. Betapa banyak kehidupan berubah karena buku. Buku yang bervisi tak kan pernah mati.

Allah swt berpesam dalam Al-Quran, “Perumpamaan orang yang membelanjakan harta mereka di jalan Allah dengan tulus hati serupa dengan sebutir benih tanaman yang menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir seratus biji. Allah terus-menerus melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki dengan keluasan karunia-Nya.” (QS Al-Baqarah/2:261-263).

Seseorang yang berinfak dan mencederai nilai amalnya dengan memamerkan dan mengganggu perasaan penerimanya sia-sia belaka. Seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, lalu batu itu ditimpa hujan lebat, maka jadilah dia bersih tak berdebu(QS Al-Baqarah/2:264).

Kita niscaya membelanjakan harta yang memang kita sukai (QS Ali Imran/3:92). Kita pun hendaknya waspada bahwa berapa pun harta yang telah kita infakkan, hal itu bukan jaminan akan mengantarkan kita masuk surga. Rasulullah saw pernah bersabda bahwa seseorang masuk surga bukan karena amalnya, melainkan berkat rahmat Allah swt semata.

Kedua, menebar ilmu dengan menulis buku. Bukankah wahyu perdana kepada Nabi Muhammad saw perintah membaca yang identik dengan pesan untuk mencari ilmu? “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah yang menempel. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajar manusia apa yang belum diketehuinya.” (QS Al-‘Alaq/96:1-5).

Membaca merupakan cara paling efektif untuk menjawab segala rasa ingin tahu. Membaca merupakan wisata intelektual yang meluaskan cakrawala, menjadikan diri senantiasa tumbuh dan berkembang menjadi lebih bijaksana. Membaca mengantarkan pada perubahan paradigma, mengembangkan kreativitas, dan menguatkan karakter serta kepribadian. Menulis buku memberi fasilitas para penuntut ilmu untuk maju.

Selain mengikat pengetahuan, menulis buku juga berguna untuk mengungkapkan dan menyebarkan gagasan. Sayyid Quthb pernah menulis, “Sebuah peluru hanya bisa menembus satu kepala manusia, sedangkan sebuah tulisan dapat menembus ribuan, bahkan jutaan kepala.” Ungkapan bijak Yunani menyatakan, “Verba volant, scripta manent – kata-kata lisan lenyap menguap, sementara tulisan abadi menetap.”

Dengan menulis buku kita menebar pengetahuan, mendialogkan kebenaran, dan bersyukur kepada Tuhan. Pramoedya Ananta Toer berpesan, “Menulislah, jika tidak menulis, engkau akan tersingkir dari panggung peradaban dan dari pusaran sejarah,” Benjamin Franklin pun pernah berucap, “Jika engkau ingin tidak dilupakan orang setelah meninggal dunia, lakukanlah sesuatu yang patut ditulis atau tulislah sesuatu yang patut dibaca.” Penulis buku membantu pembaca menemukan rencana Tuhan untuk menjadi pribadi bermutu, menciptakan rasa haus pada ilmu, dan memandu pemenuhan dahaga itu.

Ketiga, mendidik anak-anak menjadi pribadi-pribadi yang maju; saleh secara individual dan sosial, suka belajar, membelajarkan dan beramal serta mendoakan orang tua secara sadar. Hal itu dengan menebar virus cinta buku dan sering-sering mengajaknya mengunjungi pameran, toko buku dan perpustakaan, serta menyediakan buku-buku bacaan bermutu yang membentuk mental dan kepribadian tangguh untuk terus berburu ilmu.[]

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
5
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
9
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
6
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals