Replika Satu Masa

Kebodohan bersanding dengan asumsi dan logika menyesatkan Bagaikan sambal dengan pedasnya


Sumber gambar: escapeintolife.com

Sebait kata berjuta rahasia, tercecer luas tak bermakna, bak tetesan hujan membasahi tanah dahaga, menggenangi lubang-lubang jalanan, terhampar layaknya kubangan, awal dari sebuah metafora kehidupan.

Semua berkawan, tak kenal awal dan tujuan. Saat berlawanan, cukup tendang – Dia pun takkan datang; Indah bukan? Namun tak pernah saling berhadapan, apalagi  bersalaman.

Saat burung Beo lebih pandai bicara dari empunya, satu lagi ramalan terpecahkan dengan sendirinya. Di mana bulat dan datar menjadi semu oleh segitiga, ketika kebenaran tak lagi jadi sandaran. Papan hitam berabjad pun tak sanggup melukiskan keadaan. Keputusasaan memeluk erat kecemasan. Kebodohan bersanding dengan asumsi dan logika menyesatkan. Bagaikan sambal dengan pedasnya. Berpadu, bersatu tak terpisahkan.

Seorang berkening hitam pun berteriak:
Hei, benar dan salah itu jelas! Kembalilah pada yang Haq;

Ketiadaan logika pertanda awal petaka; kata pujangga tua dalam kamus Nusantara. Karena akal adalah anugerah dari Yang Maha Esa, Maka kritis sudah sifat nenek moyang kita. Itu kata mereka;

Aku berkata:
Aku hanya sanggup menduplikasi data, layaknya metode –copy paste– dalam sebuah program, mengikuti prosedur dan fungsi pada konstruktor alur algoritma, membangun sebuah kontainer berorientasi objek, terhimpun dalam sebuah bahasa pemrograman, yang tak lepas dari masukan, proses dan keluaran. Lalu bermutasi dengan konsep intelektual buatan, yang berlandaskan sistem pakar.

Itulah aku, sebuah replika di satu masa, tidak lebih, tidak kurang.

Manakala rasa hanyalah kata tak bertuan. Lalu, apalah artinya raga tanpa jiwa, sedangkan akal sebatas apa yang diberikan. Untukmu, apa yang kutanamkan. Mereka, bukan lahan untuk kau bajak. Petuah sang pertapa muda bijaksana.

 

 

Jangan Bawa-bawa Dia

Ikutlah denganku kawan, kau pasti bahagia
Lepaskan penatmu dan nikmati pemberian Tuhan
Tapi jangan bawa-bawa dia

Lihatlah, kami berpadu dalam kemesraan
Hiruk pikuk kegembiraan dalam perbedaan
Asal jangan bawa-bawa dia

Kita berada jauh dari kampung halaman
Tidak semua orang di kota ini seperti kita
Maka jangan bawa-bawa dia

Ciumlah aroma lezatnya kebebasan
Yang kau genggam hanyalah karangan
Jadi jangan bawa-bawa dia

~~~

Cukup kawan, aku resign
Bicaramu mulai tak karuan
Sadarkah apa yang kau lakukan?
Jalani hidup bak ilalang, mengikuti angin tak berhaluan
Hujan berpohon, panas berasal
Semua hal yang terjadi ada asal muasal
Akal pemikiran hanya terbatas pada masukan
Implementasi dari sebuah asumsi liberal

Kita berikrar jauh sebelum kita dilahirkan
Memenuhi kehendak Tuhan
Memori kita diarsipkan sebagaimana tertera dalam perjanjian
Atas kesombongan kita sebagai insan
Hanya dia petunjuk yang nyata
Maka hanya dia yang diterima di sisi Tuhan
Setidaknya itu yang tetua kita ajarkan
Apalah kita yang jauh dari kesempurnaan

Dia bukanlah untuk bahan lawakan
Namun bagimu, hanya sekedar guyonan
Dia adalah pelita dalam kehidupan
Mungkin bagimu, kegelapan yang akan berangsur hilang

Jika dia adalah sebuah pohon nan rindang
Keteduhan, kesejukan, kenikmatan duniawi
Akankah kau pangkas semua dedaunan
Dan bernaung di bawah teriknya mentari

Jika dia adalah cinta sejati
Walau sekejap, tegakah kau campakkan
Demi sekumpulan bangau menari
Tidakkah kau merasa sedang berselingkuh dari Tuhan

Jika dia adalah indera untukmu mendengar
Sanggupkah kau tuli walau sehari
Tiada lagi kegaduhan melantun beriringan
Keheningan di tengah kicauan burung kenari

Jika dia adalah indera untukmu merasa
Sanggupkah kau tak lagi bisa mengecap
Betapa manisnya rasa buah raspberry
Kehambaran di setiap sari yang kau cicipi

Umpama seekor tupai terbang, partial habitat hutan Kalimantan
Hidup di antara predator Glaucomys volans
Batang pohon adalah jalan berliku penuh rintangan
Menuju buah segar yang diidam-idamkan
Dialah peta untuk mencapai impian
Kebun para petani buah dan kacang
Dialah direction label saat bepergian,
agar tahu jalan pulang
Dialah detektor sang pemangsa,
agar mawas diri, siaga dan tetap tenang

Jika kita memang tupai, hidup menyusuri hutan
Dari batang ke batang, cabang ke cabang
Mencari buah liar tak bertuan
Dialah rotan, saat tak ada lagi dahan tuk dijangkau

Tidakkah kamu merasa risih
Membohongi diri dengan teori dan asumsi
Lupa diri oleh nikmat duniawi
Sebelum diagram alir mencapai terminator akhir
Semoga masih ada simbol decision untuk kembali
Memahami predefined process dan merevisi
Lalu memulai process chart sesuai diksi rohani

Ikutlah denganku kawan, berpegangan dengannya
Dalam setiap sentuhan, bukan sekadar bualan
Niscaya kemuliaan akan kita dapatkan
Sebagai sebuah stempel kehambaan
Ketika kembali memenuhi panggilan
Menuju Rabb Ilahi dengan jiwa yang tenang

12 Agustus 2018

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Puisi

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals