Kepemimpinan Transformatif dalam Al-Quran

"...Kepemimpinan transformatif meniscayakan kemampuan pemimpin untuk mengubah lingkungan, memotivasi dan mengoptimalkan kerja pengikut..."


Kepemimpinan adalah kebutuhan asasi dalam kehidupan masyarakat manusia. Kehidupan umat manusia tidak akan pernah terlepas dari peran pemimpin. Setiap kelompok, suku, bangsa, dan agama niscaya memiliki sistem kepemimpinan tersendiri. Kualitas pemimpin suatu komunitas menggambarkan mutu anggota-anggotanya. Begitu pula sebaliknya, kualitas anggota masyarakat mencerminkan mutu pemimpinnya.

Eksistensi bangsa-bangsa adalah bagian dari kehendak Ilahi yang mengasumsikan adanya pemimpin pada masing-masing bangsa tersebut, sebagaimana difirmankan Allah swt dalam Kitab Suci,

Wahai manusia, Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa, supaya kamu saling mengenal, bukan supaya saling membenci. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah yang paling bertakwa. Allah Maha Tahu, Maha Mengenal. (QS 49:13).

Ayat ini ditujukan kepada umat manusia seluruhnya, tak hanya kepada kaum Muslimin. Sebagai manusia, ia diturunkan dari sepasang suami-istri. Suku, ras, dan bangsa mereka merupakan nama-nama saja. Dengan itu kita dapat mengenali perbedaan sifat-sifat tertentu. Di hadapan Allah swt mereka semua satu, dan yang paling mulia ialah yang paling bertakwa.

Orang-orang beriman adalah satu komunitas dalam ikatan persaudaraan iman. Persaudaraan iman itu harus dikelola, dipelihara dan dipertahankan melebihi persaudaraan atas dasar lainnya. Ibarat sebuah kapal, sekecil apa pun kelompok mukmin itu, niscaya ada nakhoda yang mengarahkan perjalanannya, dan semua penumpang ikut bertanggung jawab atas lajunya kapal untuk sampai ke pulau idaman. Jika ada penumpang yang melubangi dinding kapal, itu mengencam nyawa semua, dan jika dicegah, maka selamatlah semua (HR Bukhari).

Kemungkaran, sekecil apa pun, bila dibiarkan akan meluas, merepotkan semua orang dan perlahan-lahan menghancurkan. Dampak kemungkaran tidak dirasakan pelaku saja, melainkan juga oleh anggota masyarakat yang lain. Allah swt berfirman,

Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul yang mengajak kamu kepada yang memberi kamu kehidupan; ketahuilah bahwa Allah berada di antara manusia dan hatinya, dan bahwa kepada-Nya kamu akan dihimpun kembali. (QS 8:24).

Jagalah dirimu dari bencana fitnah yang tidak hanya akan menimpa mereka yang jahat saja di antara kamu, dan Allah keras sekali dalam menjatuhkan hukuman (QS 8:25).

Rasulullah saw bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaklah kamu sekalian melakukan amar makruf nahi munkar, atau Allah akan segera menurunkan siksa, kemudian kalian berdoa kepada-Nya tetapi tidak dikabulkan.” (HR Tirmidzi).

Pada kesempatan lain Rasulullah saw bersabda,  “Sesungguhnya jika masyarakat melihat kezaliman dan tidak mencegah dengan tangannya, maka Allah akan segera menimpakan siksa massal kepada mereka.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Rasulullah saw pernah bersabda, “Mukmin yang satu dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan yang saling memperkokoh”; “Mukmin yang satu dengan mukmin yang lain seperti satu tubuh; jika salah satu organ tubuh mengaduh, seluruh tubuh ikut menaggung penderitaannya.”

Suatu komunitas menjadi lebih baik atau semakin buruk, sedikit atau banyak, bergantung pada kualitas pemimpinnya. Tanpa ide cemerlang yang dikelola dan disosialisasikan oleh pemimpin kepada jama’ah, komunitas itu akan berhenti di tempat. Allah swt berfirman,

Bagi setiap manusia ada malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di depan dan di belakangnya; mereka menjaganya dengan perintah Allah. Sungguh, Allah tidak akan mengubah keadaan kaum sebelum mereka mengubah keadaan, sikap mental dan pikiran, yang ada pada mereka sendiri. Jika Allah hendak menjatuhkan hukuman kepada suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, juga tak ada yang dapat melindungi selain Dia. (QS 13:11).

Allah swt tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, umat, bangsa, menjadi lebih baik, selama mereka tidak mengubah sebab-sebab kemunduran mereka. Allah swt pun tidak mencabut nikmat yang telah Dia limpahkan kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada-Nya.

Al-Quran menggunakan kosakata kunci khalifah, imam, dan ulul amri berkenaan dengan kepemimpinan sebagai berikut.

Dialah Yang menjadikan kamu khalifah di muka bumi. Siapa yang ingkar, keingkarannya hanya terhadap diri mereka sendiri, dan keingkaran orang-orang kafir dalam pandangan Tuhan hanya akan menambah kebencian kepada orang yang kafir; kekafiran mereka hanya menambah kerugian mereka sendiri (QS 35:39).

Ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan perintah-perintah tertentu, lalu ia menunaikannya; Allah berfirman: “Akan Kujadikan engkau seorang Imam umat manusia.” Ibrahim bermohon: “Dan juga Imam-iman dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku tak berlaku bagi orang yang zalim.” (QS 2:124).

Dan mereka berdoa, “Tuhan, jadikanlah pasangan-pasangan kami dan keturunan kami cendera mata bagi kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang yang bertakwa. (QS 25:74).

Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulullah, dan mereka yang memegang kepemimpinan di antara kamu. Jika kamu berselisih mengenai sesuatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, kalau kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Itulah yang terbaik dan penyelesaian yang tepat (QS 4:59).

Kepemimpinan adalah tindakan mempengaruhi orang lain dengan mengarahkan dan membimbing menuju perubahan yang dikehendaki dalam rangka kerjasama demi tercapainya tujuan bersama. Pemimpin memobilisasi sumber daya institusional, politis, psikologis dan lain-lain untuk membangkitkan, melibatkan dan mempengaruhi motivasi pengikutnya. Pemimpin memberikan arahan yang berarti menuju usaha bersama yang lebih baik dengan mengartikulasikan visi, mewujudkan nilai, dan menciptakan lingkungan agar setiap anggota mampu dan mau memberikan kotribusi.

Seorang pemimpin yang efektif mampu menggugah pengikutnya untuk melaksanakan tugas dengan hasil yang memuaskan. Pemimpin niscaya memiliki kejujuran terhadap diri sendiri, bertanggung jawab secara tulus, berwawasan luas, dan berani bertindak sesuai dengan keyakinan diri dan kepercayaan orang lain pada dirinya. Seorang pemimpin diharapkan mampu menangani segala beban yang mesti ditanggung pengikutnya.

Kepemimpinan transformatif meniscayakan kemampuan pemimpin untuk mengubah lingkungan, memotivasi dan mengoptimalkan kerja pengikut serta menjunjung tinggi nilai-nilai untuk mencapai tujuan. Pemimpin membangun kesadaran pengikut akan pentingnya nilai kerja dan usaha, serta meningkatkan kebutuhan melampaui minat-minat pribadi untuk kepentingan bersama. Pemimpin dan pengikut saling percaya untuk meningkatkan moralitas diri dan motivasiyang lebih tinggi untuk berprestasi.

Berbagai teori tentang kepemimpinan konstruktif yang dikemukakan para pakar tersebut sungguh ditemukan dalam pribadi Nabi Muhammad saw dan telah diteladankan untuk umatnya. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad.

Baca tulisan-tulisan Muhammad Chirzin lainnya: Kumpulan Tulisan Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals