Manusia Tanpa Dunia

Desa adalah Bank Alam. Desa memuat kebun dan pemandangan hijau dengan penuh nuansa pantulan sorga.


gegeo.it

Dunia seperti wanita saja. Meski tak semua wanita ingin menjadi sedunia itu. Dunia rajin dandan, saban hari terus “macak”. Di depan cermin merapikan wajahnya, bumi ditimpuk dengan bedak tebal, dipoles-polesi produk kecanggihan komputasional menawan, alisnya dicukur untuk setelahnya dimanipulasi gedung dan perhotelan yang menjulang. Dunia menjadi sangat menipu. Dunia sudah tampak kehilangan wajah aslinya.

Kutelonjori lorong kereta, mesin berdegup, cerobong asap diganti kabel listrik minimalis, di sampingnya impuls-impuls teknologi merayap di gedung-gedung kota, mereka lupa dengan desa, sedang kesunyian desa disandera. Desa dikotakan, kota dimegapolitkan. Start-up difinish-upkan, menjadi Unicorn Raksasa Abad 21. Wayangnya investor-investor.

Penjajahan industri ditabur dari atap langit, jabat tangan di mana-mana, hutan disawahkan, sawah dipabrikan, pabrik-pabrik mencekoki “masyarakat melet-melet” yang selalu lapar dan dahaga tanpa pernah buang tinja. Sedang pabrik sendiri membuang tahi limbah tiada pernah kutemui dia cebok.

Ya Allah ya Rabb, Subhanallah, Alhamdulillah, La quwwata illa billaah, dan juga sekaligus Innalillahi wa inna ilaihi raajiun, serentak aku ucap bersamaan. Ucapan itu bukan bentuk dzikirku. Aku kehilangan sejumlah cuilan-cuilan dari larik “Rathib Al-Hadad”. Ba’dha Asharku bahkan semakin menonjol kulihat kehidupan koprol dan terbalik. Kaki dikepalakan. Kepala dikakikan.

Kucing-kucing Angora, Spinx, dikasih daging ikan pindang, dan rakyat malahan dilempar tulang-tulang. Sebab, aku lihat dan simulasikan kehidupan ke yang jangka panjang, dengan jauh ke depan, super-visioner dan sangat futurologis, disamping fleksibilitas kehidupan yang didapat dan kemudahan ini-itu dalam bentuk yang beraneka macam, bukankah ini yang disebut-sebut ilusi penjajahan rahasia terbesar sepanjang peradaban?

Sementara aku belum bisa move on dengan segala kesederhanaan, dengan segala yang sangat “desawi”, bukan hanya karena aku anak desa, karena memang sejauh kupantau tidak ada yang orisinil di alam ini kecuali desa yang menyimpan orisinalitas kealamian. Desa adalah Bank Alam. Desa memuat kebun dan pemandangan hijau dengan penuh nuansa pantulan sorga.

Tiap pagi hingga sore hari ribuan kegembiraan yang lepas. Sehingga para manusia desa badannya kekar layaknya kawat-besi. Orang-orang kota badannya reyot, tersapu angin hujan langsung mimisan, kami anak-anak desa malah copot kaos sambil berlarian kesana-kemari dan tertawa, di bawah badai dan gelegar guntur-guntur. Bayangkan.

Reboisasi Kota? Metro Ramah Lingkungan? Kota Hijau? Sial, aku bahkan tidak mau dicekoki omong-kosong itu. Aku mengembara ke ribuan jalan Jakarta dan masyarakatnya tidak ada yang “rindang” kondisi hidupnya. Resah situasi batinnya. Betawi diinjak-injak hiruk pikuk pendatang yang jadi “masyarakat melet-melet” di Ibukota. Betawi kehilangan “kotanya”. Kota tidak hanya di mata kita memandang. Kota berada di tengah hati masyarakatnya, merawat perasaan mereka dan kontrak seumur hidup dengan masadepannya.

Aku tenang saja dan go on keep calming. Remaja-remaja sepertiku menjahitkan jasnya di tukang jahit, sebelum mereka tahu jas mahal dan berkelas ternyata tanpa jahitan. Sementara aku menjadi “muhrim”, pakaianku putih dan sesampiran tanpa kancing, semakin menjadi tambah kegembiraanku tanpa diributkan oleh pamor apapun.
Sementara mereka pusing dengan jas yang belum jadi-jadi, aku lebih gagah melihat senyum sederhana petani dan mbok-mbok sewekan di sawah tradisional mereka, petani yang mencangkul selalu tampak lebih gagah daripada jabatan CEO perusahaan apapun yang meniup-niup dollar. Dunia melempar bitingan, ngitis nekeran, lompat tali, krewengan entah terasa lebih murni, lebih otentik, daripada seseorang harus tiap jam menekan tombol-tombol virtual Mobile Legend.

Kupikir sekarang bahkan tidak hanya urbanisasi, transmigrasi antar pulau, dan jalur migrasi-migrasi lain. Hanya menunggu waktu, semua komponen yang hidup akan mengalami migrasi maya besar-besaran yang disebut virtualisasi, dari nyata ke globe internet. Dan semakin sedikit manusia yang memiliki desa, kota dan dunianya.

Arsyad Ibad
Maibit,
8 Juli 2018 20:00

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
3
Sedih
Cakep Cakep
13
Cakep
Kesal Kesal
1
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
12
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
4
Wooow
Keren Keren
11
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
A. Irsyadul Ibad
A. Irsyadul Ibad atau Arsyad Ibad melakukan restorasi humanisme, arketipe ketauhidan dan cara pandang interpretasi.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals