Menjadi Pribadi yang Produktif dan Bermakna

Produktivitas membuat segala sesuatu menjadi lebih hidup, sedangkan spiritualitas membantu kita dalam menemukan makna dan tujuan dalam hidup.


Source Image: Zigverve.com

Hidup ini harus diisi dengan gerakan yang harus menghasilkan hal-hal bermanfaat.

Kata kunci dalam hidup ini sejatinya adalah sebuah perjalanan, dan apapun yang kita lakukan hari ini tidak lain mata rantai perjalanan yang panjang. Jadi siapa yang bisa konsisten maka dia akan sukses dan begitu pula sebaliknya, jika seseorang tidak bisa konsisten maka dia akan terpinggirkan oleh yang lain. 

Oleh karena itu kita harus memahami hukum alam bahwa kehidupan di dunia ini tidak lepas dari yang namanya persaingan atau kompetisi.

Sebagai contoh, banyak mahasiswa yang sama-sama kuliah 4 tahun di kampus, namun begitu lulus hasilnya berbeda. Di satu pihak ada yang kuliah sekadar bermain-main dan di lain pihak ada pula mereka yang sibuk memperkaya ilmu pembelajaran sehingga begitu tamat ia dengan mudah mendapat pekerjaan, beasiswa untuk melanjutkan kuliah, dan sebagainya.

Mengapa demikian? Padahal setiap orang mempunyai modal waktu yang sama, yakni 24 jam dan yang membedakan antara satu dengan yang lainnya hanya tentang bagaimana cara kita mengisi dan memanfaatkan waktu tersebut untuk terus produktif dan menghasilkan segala kemanfaatan.

Coba kita lihat orang-orang Ghana, Kenya, atau Utophia, mereka terbiasa menaiki gunung sambil berlari sehingga otot kakinya sedemikian rupa sudah terlatih. Alhasil, tatkala mereka dibawa ke Amerika untuk mengikuti lomba lari maraton, maka mereka berlari melesat kencang dan menjadi juara pertama. Itu terjadi karena mereka terbiasa menghadapi tanjakan dan rintangan sehingga tatkala mengikuti perlombaan, mereka dengan mudahnya mengalahkan yang lain.

Contoh lainnya, kenapa setiap ada olimpiade Asian Games negara China selalu menyandang gelar juara terbanyak?

Ada banyak hal yang membuat atlet negara China selalu memborong medali emas dan juara umum, yakni di antaranya mereka sudah benar-benar matang dilatih untuk mengikuti perlombaan atau bisa dibilang pembibitan atlet sejak dini bahkan tak jarang juga para perempuannya sudah membiasakan diri menghadapi kesulitan sehingga mereka menjadi perempuan tangguh dan hasilnya banyak perempuan China mendapat medali emas, dan masih banyak alasan lain. (Data berdasarkan Olympic Counsil of Asia pada laman wikipedia)

Di China juga telah lama ada budaya produktivitas yang berlangsung turun temurun. Hal itu dilambangkan dengan angka “996” yang artinya bekerja dari jam 9 pagi sampai 9 malam selama 6 hari. 

Dari situ kita bisa menilai bahwa masyarakat China mempunyai motivasi yang kuat untuk sukses. Terbukti sekarang China selalu menjadi nomor satu setelah Amerika dalam ekonomi, pendidikan, olahraga, sosial politik,  dan lain-lain. 

Dari itu semua dapat kita simpulkan bahwa masyarakat China terlatih mentalnya dan piawai dalam manajemen waktunya. (dikutip dari laman CNBC bahwa China berada pada posisi kedua dalam pereknomian berdasarkan data perhitungan IMF)

Baca Juga: Era baru Pasca-Pandemi: Mengembalikan Manusia Ruang yang Mulai Usang

Waktu itu tidak bisa dibuktikan keberadaannya di mana, karena kehadiran waktu sejatinya kita sendiri yang membuat dan menetapkannya. Sebagai contoh, 1 jam terdiri dari 60 menit, kita bisa saja mengubah 1 jam terdiri dari 100 menit, namun dikarenakan adanya kesepakatan antar seluruh manusia maka waktu 1 jam terdiri dari 60 menit dan ini harus disamakan demi memudahkan manusia.

Namun meskipun demikian, waktu yang hakiki sejatinya adalah waktu yang ada dalam diri kita, sedangkan waktu yang ada di jam dinding itu hanyalah penanda waktu yang bersifat artifisial.

Produktivitas dan Spritualitas

Produktivitas itu sangat penting, akan tetapi yang paling utama adalah bagaimana setiap rutinitas kita menjadi lebih bermakna. Produktivitas yang bermakna adalah aktivitas yang menghasilkan manfaat minimal untuk diri sendiri dan diusahakan bisa membahagiakan orang lain. 

Seperti para juara Asian Games, selain mereka menang mendapatkan hadiah, mereka juga telah mengharumkan nama bangsa dan negaranya.

Hal yang serupa juga dapat kita lihat dalam sejarah Indonesia bahwa negara Indonesia didirikan oleh orang-orang hebat. Mereka adalah petarung dunia secara intelektual yang berani melakukan segala sesuatu demi kepentingan rakyatnya. Berkat jasanya itulah mereka selalu dikenang sepanjang masa.

Beberapa contoh di atas sebenarnya sudah positif, namun meskipun begitu tetap saja masih ada yang kurang. Lantas apa yang kurang? Yakni aspek spiritualitasnya belum benar-benar tergenapi.

Kita boleh saja memiliki tujuan untuk menang, mendapatkan hadiah, dan sebagainya. Akan tetapi perlu dipahami bahwa tanpa aspek spritiualitas, hal-hal yang kita upayakan hanya bersifat materialisme dan pada akhirnya yang terjadi adalah ketimpangan pribadi atau kehilangan keseimbangan mengatur diri.

Spritualitas berfungsi sebagai pencerah, solusi, atau arah petunjuk dalam kehidupan ini.

Baca Juga: Spiritualitas dan Pemikiran Rasionalitas Imam Al-Ghazali

Produktivitas yang diimbangi dengan spiritualitas dapat menghasilkan kesempurnaan dalam harmoni kehidupan. Dengan adanya spiritualitas, seseorang dapat menempatkan posisinya di hadapan Allah dan bisa beradaptasi dalam segala masalah. Kemudian melalui spiritualitas itu pula kita dapat  menyadari tujuan penciptaan seorang hamba, kenapa kita harus bekerja dan untuk siapa kita bekerja.

Katkala kita telah memahami esensi diri sebagai manusia untuk terus produktif dan dilandasi dengan spiritualitas, maka segala hal yang kita lakukan akan terasa lebih bermakna sebab ada alasan yang mendalam tentang itu semua.

Kita bandingkan dengan negara-negara Maju di benua Asia seperti Korea Selatan yang merupakan negara sangat kecil akan tetapi tingkat produktivitasnya tinggi, namun karena kurangnya tingkat spiritual di dalam diri, akhirnya mengakibatkan banyak di antara mereka yang depresi. 

Sebagai akibat fatalnya, tidak heran akalau kebanyakan dari mereka mengakhiri kehidupannya dengan  bunuh diri. (berdasarkan data WHO dan NCBI 2018, angka kematian bunuh diri tertinggi di Asia berada di negara Korea Selatan).

Mereka beranggapan bahwa bunuh diri dapat menyelesaikan masalah, padahal kenyatannya tidaklah demikian, justru itu menambah rentetan masalah bagi orang yang ditinggalkan. Nampaknya harus digarisbawahi dengan tebal, bahwa semua itu terjadi karena kurangnya kesadaran spiritual di dalam diri mereka.

Produktivitas membuat segala sesuatu menjadi lebih hidup, sedangkan spiritualitas membantu kita menemukan makna dan tujuan dalam hidup sekaligus lebih menunjukkan nilai personal. Nilai personal ini merefleksikan hasrat untuk membuat perbedaan dan membantu untuk memahami dunia lebih bermakna.

Maka dari itu, dengan adanya produktivitas yang diiringi spiritualitas setidak dapat membuat kehidupan sehari–hari kita menjadi sangat penting, lebih utuh dan bermakna. [RR]

 _ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Hadi Wiryawan

Master

Tim Redaksi Artikula.id | Orcid ID : https://orcid.org/0000-0002-7620-6246

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Hikmah

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals