Historisitas Alquran di Masa Nabi Saw

Di masa Nabi Saw Alquran dihafal, ditulis, dan variasi bacaan Alquran juga diakui


Sejalan dengan turunnya Q.S. Al-Muddatsir ayat 1 sampai 7, Nabi Saw mulai menebar risalah yang menjadi tanggung jawabnya. Tercatat, orang pertama yang menerima dakwahnya adalah Khadijah yang kemudian disusul Ali bin Abi Thalib. Umurnya baru menginjak sekitar 10 tahun waktu itu. Masuknya Ali ke dalam dakwah Nabi Saw kemudian diikuti oleh Abu Bakar, sahabat karib Muhammad sejak masa kanak-kakak. Disusul Zaid bin Haritsah, bekas budak yang menjadi anak angkat Muhammad, serta Ummu Aiman, pengasuh Nabi Saw sendiri.

Abu Bakar sendiri konon berhasil membujuk Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, dan Thalhah bin Ubaidillah, masuk ke dalam barisan Nabi Saw.  Dalam catatan sejarah, putri Abu Bakar, Aisyah, konon merupakan orang ke 21 yang mempercayai Muhammad sebagai Sang Nabi. Seiring dengan turunnya wahyu Q.S. Al-Hijr ayat 94-95, Nabi Saw mulai melakukan dakwahnya secara terbuka.

Aiysah melaporkan bahwa pendahuluan kenabian Muhammad adalah kesempurnaan impiannya; dalam masa enam bulan ia melihat mimpi begitu akurat menjelma seperti kenyataan, kemudian ketika wahyu pertama turun sewaktu menyendiri di Gua Hira; Malaikat Jibril muncul di depannya dan berkali-kali minta agar membaca, saat melihat sikap dan penjelasan Muhammad bahwa ia seorang buta huruf, Jibril tetap ngotot hingga akhirnya dapat menirukan ayat-ayat pertama dari Surah al-‘Alaq.

Secara berangsur-angsur wahyu turun kepada Nabi Saw dalam jangka waktu kurang lebih 22 tahun. Proses turunnya yang secara berangsur-angsur tersebut oleh sebagai ulama kemudian dikategorikan menjadi Makkiyah dan Madaniyah. Kategorisasi ini juga akhirnya berpengaruh terhadap teori-teori yang berkembang dalam Ilmu Tafsir, seperti misalnya tentang naskh wa mansukh dan pembacaan akan konteks sosio-historis ayat-ayat Alquran bagi para pemikir-pemikir Muslim modern.

Berdasarkan informasi yang sampai kepada kita, setelah proses pewahyuan, Khadijah adalah orang pertama yang menerima bacaan Alquran dari Nabi melalui bahasa lisan. Tradisi lisan yang sangat melekat pada masyarakat Arab saat itu, membuat proses pewahyuan yang pertama tersebut tidak kemudian langsung didokumentasikan dalam bahasa tulisan melainkan terjaga dalam bahasa lisan mereka. Sebagaimana dikatakan Al-Zarqani bahwa salah satu watak ummi adalah mengerahkan segenap kekuatan hafalannya terhadap apa yang dianggapnya penting.

Lebih-lebih bila mereka bila mereka diberi kekuatan hafalan yang lebih, maka akan membuat mereka lebih mudah menghafal. Demikian pula, bangsa Arab sewaktu Alquran turun. Mereka memiliki watak-watak ke-Araban yang khas, yang antara lain cepat menghafal dan keenceran hati, sehingga hati mereka merupakan senjata, akal mereka merupakan lembaran nasab dan sejarah mereka dan hafalan-hafalan mereka merupakan buku-buku syair dan kebanggaan mereka.

Al-Suyuti dalam Al-Burhan sebagaimana Abdu Syabur Syanin mengatakan bahwa sahabat yang hafal Alquran di masa Nabi Muhammad Saw adalah empat orang, semuanya berasal dari kalangan Anshar, mereka adalah Ubai bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid.

Meski tradisi lisan lebih mendominasi, dalam beberapa riwayat mengenai catatan-catatan Alquran yang Nabi Saw diktekan kepada para sahabat juga sampai kepada kita. Orang yang menuliskan Alquran untuk beliau adalah Zubair bin ‘Awwam, Khalid bin Sa’id bin ‘Ash bin Umayyah, Aban bin Sa’id bin ‘Ash bin Umayyah, Hanzhalah bin Rabi’ al-Asadi, Mu’aiqib bin Abi Fatimah, Abdullah bin Rawahah, Ubai bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit.

Al-Zarqani menyebutkan bahwa ‘Tatkala kepada Nabi saw diturunkan sesuatu, maka beliau memanggil salah satu penulis dan memerintahkan kepadanya untuk menulis apa yang diturunkan kepada beliau itu, meski hanya satu kata’. Subhi As-Shalih mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Zaid bin Tsabit mengatakan bahwa di kediaman Nabi Saw mereka (para penulis wahyu) menyusun ayat-ayat Alquran yang tercacat pada riqa.

Menurut Al-Zarkasy, sebagaimana dikatakan Subhi As-Shalih, yang dimaksud menyusun ayat-ayat Alquran dari riqa di dalam hadis Zaid tersebut adalah bahwa mereka menyusun surah-surah dan ayat-ayat menurut petunjuk yang diberikan Nabi Saw. Termasuk di dalamnya adalah ayat-ayat pada masing-masing surah dan pencantuman Basmalah.

Para sahabat di masa itu umumnya menulis Alquran dengan menggunakan sarana seadanya seperti pelepah kurma, kulit binatang, lempengan batu, dan sebagainya, tanpa adanya tanda harakat maupun tanda titik. Abu Ahmad Al-Iskari misalnya mengatakan bahwa faktor yang menyebabkan pemberian tanda harakat pada mushaf sendiri adalah karena seringnya terjadi kesalahan dalam membaca Alquran.

Selama empat puluh tahun lebih kaum Muslimin membaca Mushaf Ustmani yang tidak menggunakan tanda titik sampai masa Abdul Malik bin Marwan. Karena sering timbul kesalahan dalam membaca Alquran, maka Al-Hajjaj merasa khawatir. Ia kemudian menyuruh juru tulisnya untuk memberi tanda titik pada huruf-huruf yang bentuknya sama.

Dikatakan, Nashr bin ‘Ashim adalah orang yang bertindak memberi tanda titik pada huruf-huruf Mushaf saat itu. Dalam berbagai sumber dikatakan bahwa orang yang pertama kali memprakarsainya adalah Abu Al-Aswad Ad-Duali, guru Nashr bin ‘Ashim.

Di masa Nabi Saw segala hiruk-pikuk yang berkaitan dengan Alquran dapat dikonfirmasi langsung kepada Nabi Saw sendiri, termasuk di antaranya tentang variasi bacaan. Salah satu yang juga menjadi kritik orientalis bahwa simpang siur variasi bacaan Alquran dikarenakan pada masa-masa awal penulisan Alquran tidak terdapat tanda-tanda tertentu sehingga kaum Muslim kemudian terbuka untuk membacanya dengan beraneka rupa.

Ibnu Abbas berkata, bahwa Nabi Saw bersabda: “Jibril membacakan (Alquran) kepadaku dengan satu huruf dan aku terus meminta tambahan hingga akhirnya berhenti dengan tujuh huruf”. Umar Bin Khattab pernah mendengar Hisyam Bin Hizam membaca surat Al-Furqan namun dengan bacaan yang belum pernah didengar oleh Umar sehingga dia pun mengingkarinya. Akan tetapi Hisyam beralasan bahwa bacaannya tersebut ia dengar dari Nabi Saw maka Umar bergegas menemui Nabi Saw bersama Hisyam untuk meminta kejelasan bacaan tersebut. Nabi Saw meminta dari mereka berdua untuk membacakan surat Al-Furqan dengan bacaan yang mereka pernah dengar dari Nabi Saw.

Setelah itu beliau bersabda: “Sesungguhnya Alquran ini diturunkan dengan tujuh huruf (dialek bacaan). Maka bacalah dengan bacaan yang mudah bagi kalian”. Selain itu, sebagian besar ulama berpendapat, sebagaimana dikatakan Subhi As-Shalih, bahwa penghimpunan ayat-ayat semasa hidup Nabi Saw telah  dipertimbangkan penulisannya supaya mencakup tujuh huruf yang menjadi landasan turunnya Alquran. Historisitas Alquran di era nabi Saw dengan begitu mencakup setidaknya tiga poin utama yakni pemeliharaan melalui lisan, penulisan, dan adanya variasi bacaan Alquran.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Fuji Nur Iman

Warrior

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Konsentrasi Studi Alquran dan Hadis

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals