Hidayah Tak Beralaskan Ruang dan Waktu

Hidayah memang telah merangkulnya, namun keimanannya kian diuji dengan orang-orang sekelilingnya.


www.kiblat.net

Arumi Ekowati melalui salah satu novel best seller-nya yang berjudul “Tahajud Cinta di Kota New York” telah berhasil menafsirkan bagaimana hidayah Allah swt. itu hadir.

Hidayah Allah swt. sendiri dapat hadir dengan berbagai cara, tak terkecuali dengan berkecamuknya cinta di antara dua insan yang sama-sama sedang berjuang terus memperbaiki diri dan berjuang menegakan kebenaran. Rahman-Nya telah teranugerah akut pada setiap langkah kaki bentuk ikhtiar yang di usahakan.

Dengan meminjam tokoh fiktif utama yang disebut Dara Paramitha, Arumi dengan lihai mencekal rasa penasaran pembaca. Dara digambarkan sebagai mahasiswa jurusan bisnis di Universitas Columbia, New York, Amerika Serikat, yang banyak menyita perhatian.

Orang Indonesia tulen yang merupakan anak salah seorang pengusaha property terkaya di Indoensia. Jadi tidak heran, apabila kuliah di kampus ternama dan berkehidupan glamour.

Namun, alurnya semakin menarik tatkala Dara mengalami metamorphosis spiritualitas keagamaan. Dari tradisi awalnya yang sangat didekte dengan pendefinisian Abangan beralih kepada labelitas Santri yang dikategorikan oleh Clifford Geertz.

Dari berstatus muslimah yang kerap melanggar aturan, berubah drastis menjadi alim dengan penuh kekhusyukan. Utamanya hal ini terjadi setelah ia bertemu Aisyah Liu. Seorang teman satu jurusan yang berkebangsaan China sekaligus sebagai muslimah yang taat.

Dara, bermaksud menasehati cara berpakaian dan mengungkapkan ekspresi keagamaan Aisyah, yang sering dipandang negative khalayak mahasiswa non muslim di kampus, namun justru keteguhan Aisyah dalam beragama adalah jalan kembalinya Dara untuk bertobat.

Bertobat sembari menyesali setiap keping pengabaiannya terhadap perintah dan kerap menciderai statusnya sebagai muslimah. Bahkan dikatakan Dara sangat jauh dari Allah swt. sekaligus lebih suka cara hidup bebas ala Amerika. Meskipun demikian, namun kehormatan dan kesucian diri adalah hal yang terpenting.

Mungkin di masa lalu Dara hanya terpukau sekaligus berpaku dengan pepatah yang mengatakan, “Jika kau berhasil bertahan hidup di New York, maka kau akan bertahan hidup dimana pun”. Sehingga ia harus mengerdilakan statusnya sebagai muslimah dan lebih deterministik menggunakan cara pandangan orang lain. The other.

Namun dengan sangat tiba-tiba, Dara memutuskan berpakaian layaknya muslim, serba tertutup. Meninggalkan minuman alkohol dan status fashionista yang melekat pada dirinya. Menghindari berdua-duaan dengan yang bukan muhrim.

Kian rajin mengikuti pengajian, sharing dengan sesama teman muslim, sering mengikuti kegiatan sosial dan mulai menjalankan semua syari’at agama. Termasuk tidak pernah terlewatkan sholat lima waktu dan mulai berlajar puasa sunnah, supaya kuat menjalani puasa wajib di bulan Ramadhan.

Hidayah memang telah merangkulnya, namun keimanannya kian diuji dengan orang-orang sekelilingnya. Mulai dari sahabat terdekatnya sejak SMP, Keira. Yang memang sama-sama sedang berjuang di negeri paman sam untuk merengguk ilmu sesuai bidang yang ditekuninya masing-masing.

Keira memang sedang asyik kepayang dengan gaya kehidupan bebasnya. Sehingga merasa syok dengan perubahan Dara. Namun sayang, justru perubahan itu dijadikan dalih oleh Keira untuk menyesalkan keyakinan Dara atas perubahannya.

Keira telah lupa dengan statusnya sebagai muslimah, bahkan memandang kewajibannya sebagai ‘ketabuan’ yang diterjemahkan akut oleh Emile Durkhem.

Seolah tak ada habisnya, ujian itu pun muncul silih bergantian. Namun bentuknya kali ini berbeda. Sungguh sangat istimewa. Dimana Dara diuji dengan datangnya dua lelaki yang hampir mendekati sempurna dan sama-sama mencintainya.

Pertama, Richard Wenner, seorang mualaf yang merupakan mahasiswa pascasarjana jurusan aristektur di kampus yang sama. Dia telah bekerja, disiplin, sopan, ulet, berjiwa sosial dan punya selera.

Dara sering diajaknya dalam kegiatan sosial dan pengajian umum di Islamic Cultural Center New York. Dan selama kebersamaan itu pula Dara sering merasa tersipu malu dan mulai memendam rasa padanya.

Sementara lelaki yang kedua, Aaron Brad Smith. Seorang penganut Katolik yang berjiwa islam. Lelaki tampan, baik hati, peduli pada setiap orang, punya pendirian, gigih dan berprinsip dalam menegakkan kebenaran.

Meskipun berbeda agama, Dara sering dibuatnya merasa tertiban purnama rembulan. Sebab kehadirannya selalu membawa keberuntungan. Hampir setiap kecelakaan yang menimpa Dara selalu terselamatkan oleh Brad.

Bak pahlawan yang khusus diciptakan untuk Dara. Bahkan Brad pernah hampir kehilangan nyawa tatkala menolong Dara dari perampok. Sebab rentetan kebaikan itu pula Dara merasa nyaman terhadap Brad. Bahkan memendam rasa.

Kedua lelaki tersebut hampir saling curiga dan berkompetisi sehat untuk mendapatkan Dara. Meskipun mereka tahu bahwa Dara teguh dalam pendiriannya.

Selalu menjaga jarak dengan yang bukan muhrimnya. Keduanya berusaha mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya, namun Dara selalu menolak.

Hingga akhirnya hal itu justru membuat Dara gamang. Menjadi kaku tatkala bertemu. Dan yang pasti justru itu semakin meneguhkan keimanannya.

Keteguhan keimanannya dan ketaatan terhadap syari’at agama, alih-alih malah membuat Dara yang menjadi suri tauladan dalam beragama. Mulanya dua lelaki tersebut semakin mabuk cinta.

Bahkan, sekarang Dara telah menjadi jembatan mulus yang menggetarkan hati Brad Smith yang semakin tertarik dengan islam. Meskipun demikian, Brad merasakan bahwa Islam membawanya pada kedamaian dan ketenangan jiwa. Sehingga Brad masuk islam tulus karena hidayah Allah swt. bukan sebab karena mencintai Dara.

Kemudian, hidayah juga menghampiri Keira yang terdorong oleh inisiatif jurusan desainer yang ditekuninya. Mendesain pakaian muslimah justru menjadi anugerah bagi Keira.

Telah mendongkrak nilai ujiannya sekaligus mengetuk dirinya (hati nurani) untuk mulai menggunakan baju tertutup persis seperti Dara. Meskipun tetap saja, pakaian tertutup Keira lebih modis dan trendi, sebab ia sendiri sebagai desainernya.

Awalnya, Dara merasa tercengang melihat perubahan pada sahabatnya itu. Dara bersyukur atas hidayah Allah swt. yang diberikan kepada Keira. Tidak hanya itu, bahkan Keira mulai rajin mendirikan sholat lima waktu dan menghadiri pengajian rutinan di Mesjid Al- Hikmah. Salah satu mesjid kebanggaan komunitas muslim Indonesia yang ada di New York.

Nilai moral dari novel Arumi menegaskan bahwa hidayah Allah swt. itu dapat turun dan diberikan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Meskipun itu melalui cara-cara yang di luar nalar dan prasangka manusia pada umumnya. Termasuk di kebudayaan manusia yang tidak dimungkinkan sekali pun. Hal ini sebagaimna dijelaskan dalam firman Allah swt. dalam surat al-Baqarah ayat 255;

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. KursiAllah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” .

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals