Memahami Konstruksi Masyarakat Tentang Gender dalam Konteks Rumah Tangga

Dalam konteks rumah tangga, konstruksi masyarakat tentang peran laki-laki dan perempuan sebaiknya dipahami sebagai alternatif yang mencoba membagi peran dalam rumah


kulpulan-materi.blogspot.com

Terkadang dijumpai bahwa gender sering dibenturkan dengan konstruksi masyarakat dalam memandang peran laki-laki dan perempuan. Padahal jika konstruksi tersebut dipahami secara proporsional maka akan ditangkap maksud yang bagus dari penerapan konstruksi tersebut. Sehingga tidak perlu lagi mempermasalahkannya.

Dalam konteks rumah tangga, konstruksi masyarakat tentang peran laki-laki dan perempuan sebaiknya dipahami sebagai alternatif yang mencoba membagi peran dalam rumah tangga.

Hal ini sangat dibutuhkan karena suami dan istri masing-masing memiliki tanggung jawab yang perlu diatur sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam menjalankan tugas rumah tangga.

Seperti contoh dalam urusan mengurusi mencari nafkah, perlu dipahami bahwa mencari nafkah adalah tanggung jawab suami. Dan untuk mengurusi rumah dilimpahkan kepada istri. Hal ini sangat menguntungkan karena tidak ada tumpang tindih antara suami dan istri dalam menjalankan urusan rumah tangga.

Dapat dibayangkan jika suami dan istri sama-sama sibuk mencari nafkah maka urusan seperti bersih-bersih rumah, memasak, atau jika telah memiliki anak, yang mengurusi anak tersebut dan urusan lainya jadi tidak ada yang bertanggung jawab.

Namun kembali lagi ini adalah alternatif yang coba diberikan oleh masyarakat agar kehidupan rumah tangga bisa berjalan dengan baik. Karena hanya sebatas alternatif. Konstruksi ini masih bisa diubah sesuai degan kesepakatan keluarga tersebut.

Dari ulasan singkat di atas, dapat dipahami bahwa tidak ada masalah tentang konstruksi gender yang dibangun oleh masyarakat. Namun hal ini sering menjadi kendala jika konstruksi ini diterapkan untuk membatasi peranan laki-laki maupun perempuan dalam ruang publik.

Sehingga menjadikan hak yang seharusnya dapat diakses oleh masing-masing individu menjadi tidak dapat diakses atas nama perbedaan jenis kelamin. Kendala ini dapat diatasi dengan memberikan wawasan kepada masyarakat bahwa untuk berperan dalam dunia publik tidak dilihat dari jenis kelamin melainkan dari keterampilan dan kompetensi yang dimiliki masing-masing individu.

Sering juga hal ini kemudian dibantah oleh para pemerhati gender yang merasa bahwa konstruksi yang dibangun oleh masyarakat merugikan terutama bagi kalangan perempuan.

Karena terlihat bahwa perempuan dibatasi untuk ikut berperan dalam ruang publik, namun juga perlu diingat terkadang kalangan gender juga terlihat berlebihan dengan menempatkan perempuan dalam posisi sebagai kalangan yang tertindas.

Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar, karena terkadang perempuan sendiri tidak siap untuk berkompetisi merebutkan posisi untuk ikut berperan dalam ruang publik walaupun tidak dipungkiri juga ada beberapa kalangan yang masih memahami perempuan sebagai orang yang tidak seharusnya ikut campur dalam urusan publik.

Namun perlu diingat bahwa seperti dijelaskan di awal. Konstruksi ini merupakan sebuah alternatif untuk pembagian tugas yang lebih fokus untuk mengurusi pembagian antara laki-laki dan perempuan dalam konteks rumah tangga.

Bahkan dapat dimungkinkan ketika pemahaman yang diberikan kepada perempuan bahwa posisinya adalah tertindas maka hal itu menjadikan perempuan terbentuk mindset-nya untuk melawan tiap kali ada pembagian tugas dalam rumah tangga.

Sehingga sulit tercapainya sepakat untuk saling bekerja sama dalam menjalankan tugas-tugas rumah tangga. padahal seharusnya pembagian itu dapat bersifat fleksibel sesuai dengan kesepakatan suami dan istri. Dan tanggung jawab yang dilaksanakan juga tanggung jawab bersama.

Hanya saja agar tanggung jawab tersebut bisa dilaksanakan dengan baik maka harus ada pembagian tugas yang di dalamnya tidak ada yang unggul dan tidak ada yang ditindas.

Pemahaman yang demikian ini menjadikan kehidupan rumah tangga lebih nyaman karena suami dan istri bisa bekerja sama untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab dalam menjalankan kehidupan berkeluarga.

Karena kehidupan rumah tangga adalah kehidupan yang dibangun antara suami dan istri, maka harus ada komunikasi yang seimbang antara keduanya  untuk menjalankan kehidupan rumah tangga.

Dapat dipahami juga Posisi antara suami dan istri dalam rumah tangga sebenarnya setara hanya saja ada perbedaan peranan yang dimainkan baik oleh suami ataupun istri yang menjadikan ada kalanya salah satu di antaranya terlihat dominan dan seakan memiliki kedudukan yang lebih unggul dari pasangannya.

Wallahualam bisawab.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Mufarrih El Mubarok
Ahmad Mufarrih El Mubarok merupakan Kordinator Departemen Jaringan Sekolah dan Pondok Pesantren Pimpinan Anak Cabang IPNU Panceng Gresik.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals