Al-Quran dan Tafsir The Unlimited Ocean Of Love

Peserta lomba menulis esai kebangsaan sempena HUT RI ke-74


Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang plural, hal ini dapat dilihat dari keberagaman suku bangsa, bahasa lokal, agama, adat dan budaya yang ada. Pada masyarakat plural, potensi konflik sangat dimungkinkan terjadi. Ragam konflik bisa bersumber dari berbagai hal seperti, konflik antaragama, antaretnis, antarbudaya, antarsuku ataupun konflik kepentingan antarmasyarakat dari daerah atau provinsi yang berbeda.

Adalah sebuah keniscayaan dalam masyarakat plural bahwa klaim kebenaran (truth claim) dan watak missioner dari setiap agama dapat mendorong terjadinya benturan-benturan dalam kehidupan beragama dan timbulnya salah pengertian antarpenganut agama menjadi terbuka lebar. Hal ini dikarenakan setiap agama menyatakan ajarannya sebagai totalitas sistem makna yang berlaku bagi seluruh kehidupan, baik individual maupun sosial (Hidayat, 1993: 11).

Konflik yang kerap terjadi di masyarakat dapat menggerus etos persatuan dan kesatuan, keutuhan suatu bangsa yang berdampak pada ketidakstabilan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pada tingkat eksternal, ragam konflik bisa terjadi akibat dari hubungan multilateral antarnegara dalam bentuk seperti kaburnya batas-batas wilayah negara, penyelundupan barang dan jasa, pembalakan liar (illegal logging), perdagangan manusia (human trafficking), terorisme dan maraknya kejahatan transnasional (terrorism and transnational crimes), dampak yang timbul dari proses globalisasiserta eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam secara masif dan sporadis.

Konflik antarpengikut agama yang berbeda, biasanya terjadi manakala norma dan nilai-nilai agama  yang dianutnya dicampakkan atau dilecehkan oleh penganut agama lainnya. Konflik akan sangat mungkin terjadi manakala tingkat toleransi antaragama takterpelihara dengan baik. Kesepakatan antarpemuka agama untuk hidup berdampingan secara harmonis dalam menjalankan agamanya masing-masing serta saling menghormati dan memahami satu sama lain merupakan suatu hal yang mendasar untuk menghindari konflik antaragama yang berkepanjangan (Pahrudin dkk, 2009: 148).

Beberapa aspek agama dalam proses pemahaman dan penghayatan pemeluknya pada satu sisi menimbulkan wacana konstruktif tetapi pada sisi yang lain bisa mengakibatkan perdebatan panjang yang cenderung destruktif, maka diperlukan sebuah upaya pemahaman dan penghayatan yang objektif dari misi yang ada pada agama itu sendiri, yang memiliki sudut pandang normatif mengajarkan harmoni, kasih sayang dan kerukunan antara sesama umat beragama secara internal maupun eksternal. Secara internal terwujud dalam kerukunan dan toleransi di antara sesama pemeluknya dan secara eksternal adanya hubungan yang harmonis di antara pemeluk-pemeluk agama lain. Dengan fungsi ini agama dapat mempertahankan integrasi, keutuhan dan keteraturan sosial sehingga konflik, kerusuhan dan kekerasan massa dapat dihindari.

Permasalahan

Agama di tangan para pemeluknya sering tampil dalam bentuk perilaku kekerasan. Dalam beberapa tahun terakhir banyak muncul konflik, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama.

Aksi-aksi kekerasan atas nama agama, tuduhan kesesatan atau bahkan mengkafirkan pihak lain dalam sejarah pemikiran Islam selalu muncul dari kepicikan dan kedangkalan dalam memahami teks-teks agama. Kekerasan atas nama agama selalu lahir dari pemaknaan teks-teks keagamaan secara literal, konservatif dan kaum fanatik buta. Sebagian di antara mereka cenderung radikal. Akibat pemahaman ini, makna teks-teks di luar yang literal (yang lahiriah) menjadi begitu asing dan tak mereka pahami.

Al-Quran seringkali dijadikan pijakan bagi tindak kekerasan dan terorisme atas nama agama dan fenomena fundamentalisme Islam. Hal ini karena memang secara lahiriah dalam al-Quran terdapat ayat-ayat yang provokatif-agitatif bagi perilaku kekerasan dan terorisme berbaju agama.

Solusi Penyelesaian

Toleransi yang merupakan bagian dari visi teologi atau akidah Islam dan masuk dalam kerangka sistem teologi Islam harus dikaji secara lebih mendalam serta diaplikasikan dalam kehidupan beragama, karena ia adalah suatu keniscayaan sosial bagi seluruh umat beragama dan merupakan jalan bagi terciptanya kerukunan antarumat beragama.

Malinowski seperti yang dikutip Karel A. Steenbrink (1988: 23) mengatakan bahwa agama adalah sebagai “wishfull-thinking” walaupun keyakinan kebenaran agama dianggap nihil, namun masih bersifat positif yang mampu menolong rasa frustasi dan masih berpotensi dalam mewujudkan persatuan sosial. Dalam bahasa Durkheim “religion as a societal glue”. Dengan fungsi ini agama dapat mempertahankan integrasi, keutuhan dan keteraturan sosial sehingga konflik, kerusuhan dan kekerasan massa dapat dihindari (Fajar, 1998: 187)

Agama memiliki kapasitas untuk menjadi landasan spiritual, etika bagi kehidupan manusia dalam dunia modern, Daniel Bell seorang sosiolog mengatakan kalau agama dituntut untuk memberikan jawaban secara matematis dan praktis jelas tidak bisa, namun agama mempunyai kemampuan responsif secara moral terhadap persoalan-persoalan modern dewasa ini (Isa, 1980: 59).

Beragama secara intrinsik adalah cara beragama yang menjadikan agama sebagai comprehensive commitment dan driving integrative, yang mengatur seluruh hidup manusia. Glock & Stark (1996) mengatakan dalam agama terkandung beberapa dimensi keberagaman, salah satunya adalah dimensi pengalaman keagamaan (the experience dimension or religious experience). Agama dijadikan faktor pemadu, penyelaras (unifying factor), yang dapat menjalin harmonisasi kehidupan masyarakat beragama, berbangsa dan bernegara serta menjadi spirit bagi perjuangan meretas tali persaudaraan, persatuan dan kesatuan bangsa.

Thomas Merton, dalam bukunya Mysticism in the Nuclear Age berkata, “ Anda tidak dapat mendatangkan kedamaian tanpa disertai amal saleh. Anda tidak dapat memperoleh tatanan sosial tanpa kehadiran kaum mistik, orang-orang suci dan nabi- nabi” (Rakhmat, 2004: 27). Pendapat Merton di atas menunjukkan bahwa dalam beragama dituntut -hadirnya- perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran agamanya. Adalah hal yang mustahil agama hadir tanpa wujud, tanpa adanya moralitas, kesalehan perbuatan, karena agama dan perbuatan bagaikan satu kesatuan yang utuh, saling berkaitan dalam kehidupan beragama manusia. Al-Quran sebagai pedoman hidup sudah selayaknya ditempatkan kembali pada kajian kontekstualisasi yang berkeadaban yang mampu memberikan nuansa harmoni bagi kehidupan manusia.

Jhon L. Esposito, seorang sarjana Barat memberikan argumen secara objektif dalam menilai Islam, dalam bukunya What Everyone Needs To Know About Islam (2002), ia mengatakan bahwa Islam tidak pernah mendukung dan melegitimasi kekerasan. Hampir semua surat dalam al-Quran secara konsisten dimulai dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang juga diperuntukkan untuk memulai segala aktivitas keseharian seorang Muslim. Jika pun ada ayat-ayat tentang perang dalam al-Quran, seperti dalam surat at-Taubah yang merupakan satu-satunya surat yang tidak dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim, harus dibaca dengan pendekatan sosial dan politik ketika ayat itu diturunkan. Atau dengan kata al-Quran sebagai kitab suci harus diberikan makna kontekstual di mana pesan-pesan yang terkandung secara imperatif mengajarkan para pemeluknya menjadi inspirator rahmatan lil aalamiin bagi kehidupan manusia.

 

Daftar Pustaka

 

HidayatKomaruddin. 1988. Tragedi Raja Midas; Moralitas Agama dan Krisis Modernisme. Jakarta: Penerbit Paramadina

Hidayat, Komarudin. 1993. Ilmu Perbandingan Agama: Ketegangan antara Dialog dan Dakwah, Ulumul Qur’an, Jurnal Ilmu dan Kebudayaan, No. I, Vol. IV

Pahrudin, Agus dkk. 2009. Penyerapan Nilai- nilai Budaya Lokal Dalam Kehidupan Beragama di Lampung (Studi Tentang Budaya Lokal di Lampung), dalam Harmonisasi Agama dan Budaya di Indonesia (1), Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

Steenbrink, Karel. A. 1988. Mencari Tuhan dengan Kacamata Barat: Kajian Kritis Mengenai Agama di Indonesia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press

Fajar, Malik. 1998. Visi Pembaruan Pendidikan Islam, Jakarta: LP3NI

Isa, Abdul Jalil. 1980. Ijtihad Rasul SAW, terjemahan M. Masyhur Amin. Bandung: PT. Al- Maarif

Glock & Stark. 1996. Christian Beliefs and Anti-Semitism, New York: Harper and Row

Rakhmat, Jalaluddin. 2004. Psikologi Agama Sebuah Pengantar, Jakarta: Penerbit Mizan

 

Penulis menggunakan istilah “The Unlimited Ocean Of Love” sebagaimana yang digunakan oleh Dr. Komaruddin Hidayat, dalam bukunya Tragedi Raja Midas: Moralitas Agama dan Krisis Modernisme, Penerbit Paramadina, Jakarta tahun 1988. “The Unlimited Ocean Of Love” merupakan proses meretas spiritualitas manusia dengan Yang Maha Kasih yang memunculkan kesadaran imperatif; komunikasi sosial yang bersifat memberi, melimpah kasih, bukan komunikasi yang bersifat dominatif-eksploitatif. Dalam pandangan mistikus, kualitas manusia dan kemanusiaan yang paling primordial adalah bahwa ia merupakan makhluk spiritual puncak ciptaan Tuhan dan oleh karenanya watak dasar manusia adalah bersifat baik, senantiasa merindukan kedamaian, kebahagiaan, hubungan cinta kasih dan selalu ingin berdampingan dengan Yang Maha Kasih. Tatkala seseorang berusaha mencintai sesamanya dan berusaha menciptakan kedamaian bagaikan arus sungai yang mengalir dari lautan kasih dan lautan damai yang takterbatas.

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals