Berhentilah Jadi Guru, Jadilah Pengusaha!

"..Menjadi guru adalah menjadi suluh di tengah gelapnya malam. Pekerjaan yang bertaburan makna dalam setiap gerakannya.."


Entah mengapa saya dulu langsung memilih jurusan keguruan ketika kuliah. Pokoknya mantap saja. Saya juga nggak tahu, bagaimana nasib guru nantinya. Padahal tidak ada satu pun darah keturunan guru dari orang tua. Dan dari 10 bersaudara sayalah satu-satunya yang yang menjadi guru. Sisanya pengusaha.

Katanya, beberapa tahun belakangan fakultas keguruan yang sepi peminat dan menjadi tempat kuliah “mahasiswa sisa” kebanjiran peminat. Salah satu rumor yang beredar adalah kesejahteraan guru mendapat perhatian dari pemerintah dengan program sertifikasi. Guru tidak lagi identik dengan Umar Bakri.

Saya juga nggak tahu apa benar-benar sejahtera, setelah program ini bergulir. Omong-omong tetangga, malah banyak yang kelilit hutang. Pada lanjut sekolah, tapi cuma SK-nya. Yang jelas saya masih menikmati guru bergaji lima koma, setiap tanggal lima sudah koma.

Menjadi guru sesungguhnya pilihan hidup yang mulia. Tidak akan cukup ruang yang yang singkat ini untuk merinci satu demi satu. Jika ikhlas, ada amal yang tak putus-putusnya, surga tempat kembalinya. Apalagi yang lebih menggiurkan dari janji surga? Baca QS. Ar-Rahman dan al-Waqiah untuk lebih meyakinkan.

Problem kemudian muncul karena kita hidup di dunia yang butuh makan dan minum. Bisa menikmati liburan dengan kendaraan roda empat atau plesiran sampai manca negara, minimal bisa naik haji tanpa harus menunggu tua dan penyakitan. Kata istri di rumah, “Hidup harus realistis Bang!”

Lalu bagaimana agar bisa menjadi guru yang sukses dua-duanya? Seperti doa yang tidak pernah lalai kita minta kepada Tuhan. Dunia hasanah, akhirat hasanah. Saya sering berdiskusi dengan istri bahwa bukan pekerjaan yang membuat kita bisa kaya, tapi pilihan  hidup yang diputuskan oleh hati. Mencintai pekerjaan sebagai panggilan jiwa. Kelihatan idealis sih, tapi setidaknya bisa membuat istri tersenyum simpul. “Terserah Abang daaah…”

Kembali ke pertanyaan awal, dan sebelum dijawab kita akan berangkat dari pertanyaan juga, pertanyaan mendasarnya adalah, “Apa motivasi kita menjadi guru?” Ini penting dan jawabannya harus keluar dari hati yang paling dalam. Tanpa basa-basi.

Sepanjang yang saya ketahui, ada dua motivasi yang menggerakkan seseorang untuk berbuat dan melangkah, yaitu extrinsic motivation dan intrinsic motivation. Motivasi yang datang dari dalam dan yang datang dari luar individu. Saya sangat setuju dengan hasil penelitian Daniel H. Pink dalam bukunya yang berjudul, “Drive” yang menyatakan bahwa motivasi dari luar (extrinsic motivation) lebih sering tidak bekerja dalam memotivasi seseorang.

Hal ini dikuatkan oleh penelitian Prof. Gluckberg di Princeton University yang melakukan uji coba yang diberi nama “candle problems” pada dua kelompok yang diberi pendekatan yang berbeda. Mengejutkan bahwa kelompok yang diberi iming-iming uang ternyata performanya tidak lebih baik atau lebih buruk daripada kelompok yang tidak diberi janji uang sama sekali. Meskipun awalnya mereka lebih cepat menyelesaikan, namun saat tantangan ditingkatkan di saat itu mereka dikalahkan.

Dalam buku Understanding Business, Rendy Saputra mengutip pendapat Daniel H. Pink ini yang kemudian membagi motivasi dari dalam (intrinsic motivation) ke dalam tiga hal. Artinya tiga aspek ini yang membangun motivasi dari dalam diri seseorang.

Pertama, autonomy. The desire to direct their own lives. Sebuah hasrat atau motivasi untuk mengatur kehidupannya sendiri. Artinya keputusannya memilih sebuah profesi berangkat dari hati yang paling dalam, istilah kerennya panggilan jiwa, bukan karena ikut-ikutan, coba-coba atau sekadar batu loncatan. Sehingga, pilihan hati ini dibarengi dengan pemahaman bahwa setiap keputusan ada konsekuensi.

Ia benar-benar paham bahwa menjadi guru itu di samping mulia juga berat. Gaji kecil, kerjaan tanpa henti. Banyak tuntutan dan tekanan. Maka ia telan/kunyah semua konsekuensinya. Seperti menikahi seorang gadis, ia harus diterima secara utuh. Sisi cantiknya, tapi jangan lupa sisi cerewetnya. Satu paket. Deal!

Jika motivasi autonomy ini sudah dimiliki oleh guru atau calon guru, maka mengajar dengan segala tuntutannya akan lebih mudah dan ringan. Mau ganti presiden, ganti menteri dan sistem tidak terlalu berpengaruh pada kualitas mengajarnya.

Namun autonomy saja belum cukup. Harus diikuti dengan unsur selanjutnya, yaitu mastery. The desire to do things better and better. Hasrat melakukan sesuatu lebih baik dan lebih baik. Growth atau bertumbuh. Sifat alami manusia menyukai pertumbuhan dan membenci stagnanisme. Apakah keputusan kita bekerja di sebuah profesi membuat kita semakin berilmu dan berkembang atau stagnan? Apakah 10-20 tahun mengajar memberikan perubahan yang signifikan atau tidak? Ilmu biasa-biasa, gaji tetap, mental Istikomah baperan.

Menjadi penting bagi institusi sekolah untuk mendidik guru dan karyawan untuk bertumbuh. Pembinaan, pelatihan demi pelatihan, studi banding atau pun seminar. Spending money untuk investasi leher ke atas. Jika belum bisa menebalkan dompet karyawan, ya minimal iman dan kesabarannya dipertebal.

Pernah suatu hari saya berdialog dengan seorang guru yang sudah lebih 10 tahun mengajar. Tampaknya ia mengeluhkan kondisi keuangan yang semakin tidak mencukupi. Saya kemudian mencoba sharing tentang pandangan hidup. “Saya pribadi tidak pernah berfokus pada gaji atau bayaran. Naiknya lama, pun jika naik tidak seberapa.”

Fokusnya ke mana? Sebaiknya kita fokus pada kapasitas diri. Tingkatkan keilmuan dan kemampuan diri, gaji akan menyusul dan menyesuaikan dengan sendirinya. Rajin-rajinlah mengikuti seminar, workshop atau pelatihan skill/keterampilan. Jangan kikir untuk mengeluarkan uang untuk kualitas diri yang lebih baik.

Awal mengajar, saya belum selesai S1. Salah satu guru yang masih kuliah. Setelah selesai, saya kemudian melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Apakah dapat beasiswa? Tidak. Murni menabung dari sisa-sisa gaji. Diatur dan ternyata meleset dari perkiraan. Terpaksa harus membuat surat meminta keringanan. Saya tidak bisa melanjutkan penelitian tesis bila belum bayar. Di situlah kemudian banyak keajaiban datang. Allah tidak akan memberikan sayap bagi orang yang takut terjun dari ketinggian. Kapan-kapan kita ceritakan pengalaman studi dengan biaya sisa ini.

Dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Saya kemudian menjadi satu-satunya yang bergelar S2 dan masih muda. Cie, bukan sombong. Kata guru saya, sombong itu merendahkan orang lain. Kalau memuji diri itu namanya promosi.

Tidak cukup dengan gelar kesarjanaan, saya kemudian melatih kemampuan menulis. Keinginan yang kuat untuk bisa menulis mengantarkan saya bergabung pada sebuah komunitas yang memaksa untuk menulis. Dengan terpaksa dan terseok-seok saya belajar menulis. Saya juga memaksa diri untuk mengikuti seminar menulis baik berbayar maupun gratisan. Keringat memang tidak pernah mengkhianati hasil. Dalam waktu satu tahun buku pertama saya terbit mayor dan masuk TB Gramedia se-Indonesia.

Enam bulan kemudian buku kedua menyusul. Beberapa buku antologi juga terbit. Ada juga menang lomba menulis yang kemudian diterbitkan mayor. Beberapa saya terbitkan sendiri, promosi sendiri, jual sendiri, untung sendiri dan nangis sendiri. Jika ditotal, Alhamdulillah sekitar 12 buku, akan menyusul dua buku tahun ini, dan insyaallah seterusnya. Cerita menulis ini ada proses berdarah-darah di dalamnya. Ketipu, rugi dan lainnya. Kata teman, belajar ditipu orang pun harus bayar. Karena pendidikan memang mahal. Kapan-kapan kita bahas di ruang yang lebih luas.

Kembali ke laptop. Unsur yang ketiga dari motivasi dari dalam adalah Purpose. The desire to do things because its matter. Ada perusahaan yang tidak membayar gaji karyawannya beberapa bulan dan hebatnya tidak ada yang mengundurkan diri. “Kami bekerja di sini tidak semata-mata cari uang, kami merasa sedang melayani dan memudahkan hidup orang banyak.” Begitu kira-kira argumentasi yang dibangun. Ada kebermaknaan hidup lebih dari sekadar segepok dollar. Meaning before money.

Jika tidak salah, salah satu perusahaan telekomunikasi yang secara lahiriah money oriented bahkan menanamkan prinsip bekerja mencari makna. “Bayangkan betapa mulia pekerjaan kalian, bekerja menghubungkan antara seorang anak yang di rantau dengan ibunya. Merekatkan kehangatan cinta suami dan istri. Mempertemukan jodoh antara jomblowan.” Kalimat-kalimat penuh makna ini terhujam kuat di antara para pekerja.

Maka, tidak perlu bertanya, apa kebermaknaan hidup menjadi guru. Menjadi guru adalah menjadi suluh di tengah gelapnya malam. Pekerjaan yang bertaburan makna dalam setiap gerakannya. Tidak berlebihan jika Nelson Mandela mengatakan, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.”

Di antara wajah-wajah siswa yang terkadang menggemaskan ada puluhan bahkan ratusan tangan yang menengadah ke langit meminta ampunan Tuhan. Ada tangan-tangan yang akan menyeret-nyeret kita masuk surga.

Jika ketiga motivasi intrinsic ini tidak/belum Anda miliki, mungkin Anda salah jalan. Berbaliklahdan jadilah pengusaha! Karena itu lebih menjanjikan kehidupan yang mewah. Guru senior saya berhenti mengajar setelah puluhan tahun menggeluti profesi ini. Ia banting stir menjadi pedagang di pasar. Hari ini, kendaraan mewah dan rumah wah mengelilingi hidupnya.

Tetangga sahabat saya, seorang penjual bakso mampu meraih keuntungan bersih dalam sehari sebesar Rp. 6.000.000 (enam juta rupiah). Seorang tamatan S2 (SD kelas 2) dari Blora berpenghasilan 500 juta dalam sebulan dengan membangun kerajaan bisnis es krim. Ya, namanya Sanawi.

Namun nasihat Rasulullah yang bersumpah dengan nama Allah ini seharusnya tidak membuat Anda berpikir untuk berhenti menjadi guru. “Demi Allah, sungguh, satu orang saja diberi petunjuk oleh Allah melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik daripada unta merah”. (HR Bukhari Muslim).

Imam Nawawi menjelaskan makna unta merah (humrun ni’am) adalah harta yang paling berharga bagi orang Arab. Ini hanya sebagai perumpamaan harta yang tidak ada lagi yang paling berharga di atasnya. Terkadang perumpamaan balasan dunia hanya sebagai gambaran yang bisa dipahami akal kita. Senyatanya apa yang akan didapatkan di akhirat jauh lebih besar.

Di hadis lain beliau bersabda, “Siapa yang menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”(HR Muslim).

Tetaplah menjadi guru, mendidik calon pengusaha yang jujur, calon pimpinan yang amanah. Akan lahir peradaban yang agung dari tangan guru-guru yang ikhlas. “Guru adalah seorang pejuang tulus tanpa tanda jasa mencerdaskan bangsa.” (Ki Hadjar Dewantara).

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
5
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
1
Tidak Suka
Suka Suka
16
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
4
Wooow
Keren Keren
8
Keren
Terkejut Terkejut
3
Terkejut
Syahrul

Warrior

Syahrul, Lahir di La Cinde, Sulawesi Selatan, tanggal 10 Maret 1986. Setelah menyelesaikan pendidikan Madrasah Aliah di Pangkep, penulis melanjutkan kuliah S1 pendidikan di UMY, dan S2 Psikologi Pendidikan Islam di almamater yang sama. Penulis sekarang tinggal di lereng gunung Merapi-Merbabu Magelang sebagai guru honorer. Penulis bisa diajak diskusi di Facebook dengan akun Syahrul. Via email [email protected]

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals