SJW dan Eksklusifitas Gagasan Feminis

Semakin mudahnya bersebaran informasi, juga mengajarkan tentang pentingnya bahasa komunikasi yang ringan sehingga semua orang dapat menyerap gagasan dengan renyah


Sumber Foto: Pexels.com

Belakangan ini jagat maya dibanjiri orang yang menyatakan diri sebagai seorang feminis. Kelompok ini sering menyerang pengguna media sosial yang membuat postingan berbau seksis. Oleh karena itu warganet sering menyebut gerakan ini dengan SJW (Social Justice Warrior).

Kehadiran SJW ini tentu membuat risi dan geram para netizen sehingga tak jarang kelompok ini menjadi bulan-bulanan di media sosial. Cacian semakin keras tak jarang mengarah ke para SJW ini. Kondisi ini secara tidak langsung memperburuk citra fenimis. Mengingat tidak semua orang paham secara mendalam tentang feminis.

Orang awan akan sulit membedakan antara para feminis yang benar-benar mengerti tentang gerakannya, dengan para SJW yang terkadang tidak mengetahui gagasan feminis secara mendalam. Terlebih kelompok ini dinilai oleh para warganet terlalu sensitif dan merasa berhak mewakili ketersinggungan orang. Kelompok ini juga menjadi seakan memiliki hak untuk menghakimi tindakan seseorang.

Tanpa bermaksud menghakimi, namun di era keterbukaan informasi yang semakin masif membuat kita seharusnya dapat berlaku lebih arif dalam menyikapi informasi yang berseliweran. Contohnya ketika menegur konten yang kurang mendidik dengan membuat narasi tanding berupa edukasi dan menyajikan perspektif akademik untuk memahamkan khalayak. Gaya kritik ini akan lebih bijak dibanding dengan penghukuman sepihak sehingga terkesan hanya tersinggung dan sensitif.

Baca Juga: Menakar Gender dan Feminisme

Melihat narasi yang dibangun oleh kaum feminis “Sungguhan”, mereka cenderung  menarasikan kesetaraan dan bersuara lantang untuk menghajar adanya superioritas. Baik yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan maupun sebaliknya. Sedangkan SJW akan lebih sensitif dan cenderung untuk mewujudkan superioritas perempuan.

Internet telah memberikan fasilitas untuk mengunggah beragam informasi yang dulunya hanya dapat dikonsumsi oleh kalangan tertentu. Kini, semua kalangan baik “siap” maupun “tidak siap” dapat melihat beragam informasi. Karena setiap orang berhak mempertukarkan informasi yang dipunyai. Ini membuat organisasi sosial yang memiliki fokus di bidangnya masing-masing bertanggungjawab memberikan pengetahuan yang tepat sesuai bidangnya. Ini membuat secara perlahan konten yang “negatif” dan kurang tepat, akan dengan sendirinya tergeser.

Hal tersebut adalah langkah yang dapat ditempuh oleh akademisi dan dengan perlawanan yang adil. Selain itu perlu juga didukung dengan peraturan yang tepat. Tidak terlalu membatasi kreativitas namun tetap dapat mengawasi informasi yang berseliweran terutama konten ujaran kebencian dan berita bohong.

Pertarungan bebas yang terjadi di sosial media membuat semua orang yang ingin menyampaikan konten positif harus memiliki strategi yang dikemas melalui gimik seperti memasang thumbnail yang menarik, judul klik bait dan sebagainya. Ini diperlukan setidaknya untuk menarik minat para warganet berkunjung ke konten yang positif.

Baca Juga: Seni Memahami Ala Ibnu Abbas dalam Konteks Bijak Bersosial Media

Kesadaran ini–seperti dijelaskan di atas–penting untuk ditanamkan dalam diri semua orang yang ingin bertarung dalam ring sosial media. Apalagi jika gagasan yang akan dibawa berupa gagasan baru, kalau tidak berhati-hati dalam menyampaikan, bukannya solusi, malahan akan menimbulkan kontroversi.

Semakin mudahnya bersebaran informasi, juga mengajarkan tentang pentingnya bahasa komunikasi yang ringan sehingga semua orang dapat menyerap gagasan dengan renyah. Karena masih kita jumpai beberapa gerakan sosial yang salah satunya termasuk kelompok feminis memiliki bahasa komunikasi yang eksklusif dan ditambah lagi disampaikan dalam forum yang eksklusif juga, sehingga gagasan feminis renyah untuk dinikmati oleh kalangan internal feminis sendiri.

Penggunaan bahasa yang tepat akan membuat wacana kita dapat didengar oleh banyak orang. Selain bahasa, tahapan berpikir yang lebih sederhana juga perlu diperhitungkan agar ketika wacana dinarasikan, masyarakat telah siap.

Melihat dari narasi yang sering dibawa oleh kaum pembela jenis jender keperempuanan ini, narasi yang terlebih dahulu penting dibangun adalah pendidikan seksual. Mengingat, masyarakat Indonesia pada umumnya kurang memahami hal ihwal tentang seksualitas. Bahkan bagi sebagian kalangan seksualitas masih dianggap sebagai wacana yang tabu untuk diperbincangkan. Malah bagi beberapa kalangan seksualitas digunakan sebagai bahan gurauan yang berlebihan.

Pandangan seperti ini perlu diberi masukan, karena semakin masifnya angka penetrasi internet juga bersumbangsih pada percepatan pendewasaan manusia. Tidak ayal ketersediaan konten dewasa di internet perlu diimbangi dengan wawasan seksualitas yang baik termasuk pemahaman tentang pentingnya menjaga kesehatan alat reproduksi.

Mengingat manusia diciptakan dengan seperangkat anggota tubuh yang di dalamnya termasuk alat vital untuk berkembang biak dan mempertahankan kelangsungan kehidupan umat manusia. Untuk itu, edukasi tentang cara menjaga serta pemanfaatan alat vital dengan baik dan benar perlu untuk di ajarkan. Agar potensi yang dimiliki manusia sebagai bagian dari kodrat tidak dipergunakan secara tidak tepat.

Media digital yang di dalamnya termasuk internet, adalah alat yang dapat digunakan untuk mengampanyekan pendidikan seksual. Karena media ini memiliki jangkauan yang luas dan mudah dalam segi mengaksesnya. Setelah masyarakat memahami tentang seluk beluk seksualitas maka akan tumbuh kesadaran tentang pentingnya pendidikan seksualitas serta kesehatan seksual.

Jika pengetahuan serta kesadaran masyarakat sudah sampai tahap ini, maka wacana tentang jender, penghapusan kekerasan seksualitas dan sejenisnya akan mudah dicerna dan dipahami sebagai sebuah kebutuhan bersama. Tidak hanya dianggap sebagai sebuah kecemasan berlebihan dan sebuah ketersinggungan belaka.

Editor: Hadi Wiryawan

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Mufarrih El Mubarok
Tim Redaksi Artikula.id | Kordinator Departemen Jaringan Sekolah dan Pondok Pesantren Pimpinan Anak Cabang IPNU Panceng Gresik.

Comments 2

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. Membaca tulisan di atas mengingatkan saya pada teori ordinary leanguge Ludwig Wittgenstein. Disadari atau tidak, penggunaan bahasa yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari akan lebih mampu dicerna oleh semua kalangan. Bukankah orang yang mampu menyederhanakan persoalan yang sukar dan pelik ke dalam bahasa yang sederhana adalah lebih utama? begitu juga sebaliknya. Mungkin cara penyampaian ide pokok itu akan lebih menarik lagi tatkala dibenturkan dengan pandangan Ludwig atau mungkin dengan hermeneutika ala Paul Ricoeur. Selain itu, penyentilan atas kampaye pendidikan seksual mungkin akan lebih menarik lagi tatkala dikaitkan dengan peran dan fungsi BKKBN. Mohon maaf dan terimakasih.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals