Bendera

Ada perbedaan sifat yang melekat pada kain berwarna merah dan putih pada saat keduanya masih terpisah, yaitu ia bersifat profan.


Sumber foto: astrophysicsblogs.blogspot.com

Apabila ada seseorang yang merobek-robek kain berwarna merah di depan khalayak, mungkin tak seorang pun akan bereakasi, paling hanya akan terheran-heran saja. Demikian juga, apabila yang disobek-sobeknya adalan kain yang berwarna putih, orang-orang pun tidak akan peduli juga.

Cobalah apabila potongan kain berwarna merah dan putih tadi dijahit menjadi satu satuan dengan ukuran tertentu, dan robek-robek lah di depan khalayak, apa kira-kira reaksi mereka? Maka dapat diyakini, siapa pun yang melihat perilaku tersebut, ia akan marah besar dan bahkan akan melaporkan pelakunya ke pihak yang berwajib.

Ada perbedaan sifat yang melekat pada kain berwarna merah dan putih pada saat keduanya masih terpisah, yaitu ia bersifat profan. Kedua lembar kain yang terpisah tersebut sama-sama netral atau biasa-biasa saja. Berbeda dengan dua lembar kain berwarna merah dan putih yang sudah menyatu dalam ukuran tertentu.

Dua lembar kain berwarna merah dan putih dalam satu kesatuan tersebut telah bergeser sifat dan maknanya.  Warna merah putih tersebut kini sudah mengalami perubahan status. Warna merah putih tersebut kini mewakili dan menjadi lambang sebuah negara, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Warna merah putih tersebut kini telah mengalami tranformasi nilai. Dua lembar kain yang semula bersifat  profan, biasa saja, kini mengalami sakralisasi nilai. Warna merah putih tersebut kini bersifat sakral, yaitu ‘suci’. Karena bersifat ‘suci’ maka harus dijaga dari segala bentuk penistaan.

Dalam konteks sosiologi agama, warna merah putih tadi, selain bersifat sakral juga memiki sifat totemik. Dalam bahasa Durklheim, benda-benda tertentu bisa nengalami totemisasi, karena mewakili suatu komunitas. Benda-benda tersebut menjadi pusat dan sumber pemujaan.

Dewasa ini, dapat ditemukan benda-benda tertentu, yang berstatus totemik. Benda-benda tersebut mewakili komunitas yang berbeda-beda. Benda tersebut bisa berupa apa saja, misal berupa hewan, binatang, atau apa saja yang merupakan pilihan komunitas tersebut.

Benda totemik yang paling mudah dilihat adalah berbentuk bendera. Tengoklah sekarang kelompok-kelompok dan kelompok fans dari bidang apa pun. Semua kelompok, baik partai politik, organisasi sosial, lembaga di berbagai bidang,  fans bidang musik, bidang olahraga, dan seterusnya, memiliki bendera.

Sekarang ini yang paling mencolok adalah bendera-bendera negara pada perhelatan sepak bola di Rusia. Bendera-bendera itu merupakan penyemangat. Mereka begitu khusuk ketika menyanyikan lagu kebangsaan sambil sang kapten kesebelasan mendekap sang bendera. Setelah itu penonton pun dengan gegap gempita melambaikan bendera kebanggaannya.

Demikianlah ‘Sang Bendera’ telah menyatukan elemen bangsa yang plural. Sang Bendera telah membangkitan fanatisme kebangsaan. Sang Bendera menuntut loyalitas, dan Sang Bendera menuntut warganya untuk membela dengan sepenuh hati. Kita doakan semoga merah putih dikibar-kibarkan di perhelatan akbar bola dunia. Wallahu a’lam.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
1
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
1
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ajat Sudrajat

Warrior

Prof. Dr. Ajat Sudrajat, M.Ag adalah Guru Besar pada Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta, Dosen pada Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Porgam Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta. Menulis dan menerjemahkan sejumlah buku.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals