Takwil ala Orde Baru

Orang bilang, Orba amat gandrung memproduksi akronim. Saking ruahnya, orang dibikin pusing, meski mudah diingat. Jangan-jangan itu cara 'beradab' menancapkan kuasa


Orang bilang, Orde Baru amat gandrung memproduksi akronim. Ya, membikin singkatan. Saking ramainya, orang dibikin pusing dan kemudian jadi bingung, kadang juga hendak ketawa sendiri, memikirkan deret bebunyian aneh itu. Tak terkecuali saya.

Saya mengalami masa-masa ketika negeri ini dipimpin Pak Harto. Waktu itu saya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), dan pada saat reformasi bergulir, saya sedang memelototi Lembar Kerja Siswa (disingkat: LKS) di Sekolah Menengah Pertama (SMP, yang tidak lama kemudian beralih nama menjadi SLTP dan lalu balik lagi jadi SMP).

Akronim unik yang sampai sekarang masih membuat saya geli adalah, salah satunya, supersemar (yang kerap diulang-ulang penyebutannya pada Penataran P4). Pertama kali mendengar kata itu, saya membayangkan sosok tambun di dunia pewayangan bernama semar, sesepuh punakawan. Tetapi karena akronim itu menyertakan kata super, saya selanjutnya membayangkan Pak Semar sedang melepas baju regulernya. Di balik itu tenyata sudah ada seragam berwarna dominan biru, lengkap dengan jubah dan celana dalam merah. Supersemar kemudian terbang memberantas kejahatan, membela kebenaran. Buat saya, waktu itu, supersemar tidak lain merupakan gabungan dari imajinasi saya tentang tokoh pewayangan Semar dan bintang komik Superman.

Satu lagi: Gestapu. Ini adalah akronim dari Gerakan September Tiga Puluh, atau yang lebih sering disebut dengan G30S (Gerakan Tiga Puluh September). Konon, Bung Karno (Presiden sebelumnya) tak suka dengan istilah itu. Betapa tidak, operasi militer berdarah-darah yang terjadi pada dini hari tanggal 1 Oktober itu kenapa bisa disebut dengan gerakan 30 September? Bung Karno sendiri lebih suka menyebutnya Gestok (Gerakan Satu Oktober).

Belakangan muncul analisis, akronim Gestapu dipilih karena kemiripannya dengan Gestapo (Geheime Staatspolizei), polisi rahasia rezim NAZI di Jerman yang terkenal kejam. Pemilihan akronim Gestapu dengan demikian dimaksudkan untuk melahirkan horor yang sama dengan ingatan khalayak tentang Gestapo.

Pendek kata, sekali lagi, akronim-akronim semacam itu bertebaran pada masanya. Ada akronim biasa, seperti LKMD, PKK, dan sebagainya (yang barangkali generasi yang datang lebih belakangan tak lagi mengerti maknanya). Ada juga akronim yang kemudian diakronimkan lagi, seperti AMD (ABRI Masuk Desa, dan ABRI sendiri adalah akronim dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Syahdan, akibat saking banyaknya dan barangkali karena khawatir dikelirukan maksudnya, Orba (akronim dari Orde Baru) tak pernah alpa menyisipkan lampiran berisi daftar singkatan berikut kepanjangannya tiap kali merilis naskah-naskah.

Walhasil, sebuah istilah bisa diakronimkan, tetapi tidak setiap istilah mesti disingkat. Umumnya, orang memendekkan sebuah konsep menjadi suatu singkatan untuk kepentingan agar mudah diingat. Tan Malaka, dalam bukunya Madilog, mempraktikkan cara mengingat seperti ini dan menyebutnya dengan sebutan Jembatan Keledai, atau dalam bahasa asingnya, ezelsbruggetje. Ya, cara goblok-goblokkan untuk mengingat sesuatu.

Dalam magnum opus-nya tersebut, Tan Malaka menyebut salah satu contoh jembatan keledai bikinannya, yakni AFIAGUMMI. Itu adalah jawaban dari pertanyaannya sendiri, kalau ada dua negara berperang, mana yang menang? Tan Malaka menjawab, negara yang unggul di AFIAGUMMI itu. “A” mewakili “Armament” alias kekuatan tempur, baik darat, laut, maupun udara. “F” berarti “Finance”, yang dimaknai kekuatan keuangan. Sayangnya, Tan Malaka tidak menjelaskan apa yang ia maksud dengan IAGUMMI.

Tan Malaka barangkali banyak membikin jembatan keledai macam itu. Bahkan judul buku Madilog sendiri sebetulnya hasil jembatan keledai dari Materialisme, Dialektika, dan Logika. Kita juga barangkali sering melakukan ini, terutama pada masa-masa sekolah dulu. Maka kita mengenal sebuah akronim populer untuk nama-nama warna pelangi dalam MEJIKUHIBINIU.

Dulu, guru bahasa Inggris saya juga kerap mengijazahkan jembatan keledai, misalnya, katanya, “Mbak Dewi Ayu gak doyan es”. Maksudnya, kata kerja setelah subyek “They,  We, I, You” tidak bisa ditambah dengan “s”. They eat something, bukan They eats something.

Ini mungkin baik, hanya saja kalau sudah setiap hal dipaksa menjadi akronim, atau bahwa suatu konsep tertentu dianggap pasti sebuah singkatan, itu soal lain yang bukan lagi menyederhanakan konsep, tetapi malah bakal melahirkan anggapan tentang konsep baru yang tak lagi gampang diingat.

Tetapi, di mana saja, untuk kepentingan terbatas, orang sah-sah belaka membuat-buat akronim, atau menafsirkan suatu kata sebagai sebuah akronim. Inilah yang terjadi di sebuah terminal, ketika dulu saya mendengar bawa Jibril adalah  akronim dari –maaf- Jiwa Berandal tapi Ingat Ilahi.

Dalam soal tafsir, spesifik pada kasus basmalah, terdapat pula sekelompok penafsir yang menakwilkannya sebagai akronim. Al-Qurthubi mengutip sebuah riwayat dari Utsman bin Affan. Konon, yang belakangan ini pernah menanyakan makna bismillahir rahmanir rahim itu kepada Nabi Saw. Beliau menjawab,

Ba’ merupakan kependekan dari Bala’ullah (ujian Allah). Siin adalah singkatan dari Sana’ullah (karunia Allah). Mim adalah petikan dari Mulkullah (kekuasaan Allah). Sedang lafaz Allah menunjukkan bahwa tiada Tuhan selain-Nya. Al-Rahman berhubungan dengan kasih Allah, pada makhluk-Nya yang berbuat baik maupun yang berlaku buruk. Al-Rahim juga berkaitan dengan kasih-Nya, tetapi hanya kepada kaum mukmin saja.”

Sementara itu, beberapa penafsir meyakini bahwa setiap huruf dalam kalimat basmalah, tak kurang tak lebih, adalah akronim dari nama-nama Allah. Ba’ menunjukkan nama Bashir (Yang Maha Melihat). Sin adalah petikan Sami’ (Yang Maha Mendengar). Mim adalah permulaan dari Maliik (Yang Maha Menguasai). Alif adalah huruf awal dari Allah. Lam menunjukkan nama Lathif (Yang Maha Halus). Ha’  adalah awal dari Hadi (Yang Maha Menunjukkan). Ra’ mengindikasikan nama Razzaq (Yang Maha Memberi Rizki). Ha’ mewakili Halim (Yang Maha Penyantun). Dan Nun adalah kependekan dari Nur (Yang Maha Bercahaya).

Demikianlah, ternyata ada juga takwil al-Quran ala Orde Baru –kalau boleh disebut demikian. Setiap huruf dianggap penting sehingga ia seolah mewakili kata dan atau konsep tertentu. Maka jadilah akronim. Kelak, terutama pada konteks fawatihus suwar (ayat-ayat di permulaan surat yang terdiri dari rangkaian huruf seperti alif lam mim, ha mim, dan seterusnya), logika takwil macam ini tidak bisa untuk tidak diacuhkan.

Barangkali memang ada problem, seperti apakah diperkenankan memberi takwil pada ayat-ayat mutasyabihat, laiknya alif lam mim dan kawan-kawan? Juga apakah diperbolehkan memosisikan ayat yang terang-terang muhkamat sebagai bagian dari mutasyabihat, misalnya menakwil basmalah –yang sebetulnya sudah amat jelas maknanya- sebagai akronim dari beberapa kata lain?

Dus, sepertinya kita membutuhkan kajian yang lebih serius, yang bakal sulit ditemukan dalam tulisan bertujuan lain layaknya tulisan ini.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Lukman Hakim Husnan
Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran (STIQ) Al-Lathifiyyah Palembang. Pernah nyantri di Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, dan menamatkan studi di IAIN (Sekarang UIN) Raden Fatah Palembang. Pemimpin Redaksi Masjid Agung Palembang Televisi (MAPTV), Kepala Divisi Penerbitan Masjid Agung Palembang, dan Anggota Badan Fatwa Masjid Agung Palembang. Dapat dihubungi di [email protected] atau [email protected]

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals