Musim Dingin yang Panjang di Dunia Mahasiswa

Kita tunggu saja, era baru yang serba daring ini, akankah para mahasiswa senior mempertahankan musim dingin dalam menghadapi mahasiswa baru?


senioritas dalam ospek
Ilustrasi senioritas dalam ospek. (Gambar: kompasiana.com)

Jika selama ini kita sudah mengenal banyak musim di dunia, seperti musim hujan, musim panas, musim dingin, dsb. Maka dunia mahasiswa juga memiliki iklimnya sendiri. Musim yang unik. Bagaimana bisa?

Saya yakin anda pernah mendengar salah satu kutipan dari Soe Hok Gie, “Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.” Kritikan Soe Hok Gie untuk melanjutkan haknya dalam menafaskan demokrasi tersebut ditujukan kepada sesama mahasiswa kala itu yang: “mementingkan golongan, ormas, teman seideologi, dan lain-lain.”

Meskipun sudah beberapa dekade silam saat Soe Hok Gie mengatakan hal tersebut, namun sepertinya iklim mahasiswa saat inipun masih terasa sama dan hampir tak ada bedanya. Inilah kenapa saya sebut musim dingin panjang di dunia kampus.

Bagaimana rasanya menghadapi musim dingin yang panjang? Yang jelas, musim dingin yang terlalu lama juga menandakan adanya suatu ketidakseimbangan−entah rotasi bumi atau kerusakan alam akibat ulah manusia−yang sedang melanda.

Baca juga: Menjaga Eksistensi Gerakan Mahasiswa

Sedangkan kritikan Soe Hok Gie pada mahasiswa dulu adalah ibarat musim dingin yang panjang. Iya, sangat panjang. Karena nyatanya kondisi tersebut masih ada sampai sekarang hingga mengancam keseimbangan demokrasi yang ada di dunia kampus.

Dari tahun ke tahun, banyak mahasiswa baru seperti domba-domba yang “manut” apa saja yang dikatakan oleh sang pengembala. Dalam hal ini, pengembala saya nisbatkan pada mahasiswa senior yang bermental sok kuasa dan obral payung kebesarannya di depan para mahasiswa baru.

Kondisi tersebut salah satunya akan sangat jelas terlihat pada saat Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (ospek) dan penyambutan mahasiswa baru. Beberapa indikator yang sudah lumrah terjadi antara lain:

Pertama, dengan alasan melatih mental mahasiswa baru, beberapa oknum senior dengan seenaknya sendiri membentak bahkan dengan kata-kata kasar yang terkadang terlontar dari lisan mereka. Padahal Kemenristekdikti telah membuat pedoman agar ospek dilakukan sesuai aturan.

Ataukah para senior tersebut menganggap hal semacam itu tidak bertentangan dengan pedoman yang sudah ada? Bukankah salah satu yang tertera dalam pedoman tersebut adalah asas demokratis? Artinya kegiatan ospek yang dilakukan harus berdasarkan kesetaraan, menghormati hak dan kewajiban setiap pihak yang terlibat. Emangnya para mahasiswa baru tersebut mau masuk militer?

Ironis rasanya kenapa masih saja ada senior yang merasa “sok” begitu. Ini bukanlah cerita lama. Buktinya 2019 lalu, masih terjadi perpeloncoan terhadap mahasiswa baru. Dilansir dari Liputan6.com, bahwa 4 mahasiswa senior sebuah universitas di Ternate, Maluku Utara ditetapkan sebagai pelaku karena melanggar kode etik mahasiswa pada saat pelaksanaan ospek dengan perbuatan yang di luar batas kewajaran, yakni memaksakan mahasiswa baru menelan ludah dan berjalan jongkok memasuki kampus. Maksudnya apa coba?

Hal-hal semacam itu tak hanya terjadi pada tahun 2019 lalu. Tahun-tahun sebelumnya, saya yakin pasti terdapat juga perpeloncoan semacam itu yang berbeda cara dan lokasi kampus yang mungkin tak terekspos media.

Karena kejadian-kejadian seperti yang ada di pemberitaan tersebutlah, hingga saat ini, kegiatan ospek menjadi suatu hal yang tak lagi hangat disambut oleh banyak mahasiswa baru. Sebab rasa takut dan ngeri terhadap mahasiswa senior membuat para mahasiswa tak terlalu bersemangat dan kurang antusias.

Baca juga: Mahasiswa Kupu-Kupu Juga Aset Bangsa

Kondisi ini tidak akan pernah berubah sampai Ipin dan Upin menikah. Kapan? Ya, tidak akan pernah, selama masih ada mahasiswa senior yang masih bermental “gali lubang-tutup lubang.” Masih berpikiran bahwasanya adik-adik mahasiswanya harus merasakan seperti yang dirasakannya dahulu, saat menjadi junior. Pola yang seakan-akan statis dan terlihat berat jika harus merubahnya.

Kedua, saat sebelum masuk kampus, para mahasiswa baru selalu memandang organisasi eksternal bagaikan barang mewah. Jika masuk ke dalam lingkaran tersebut, maka bisa dijadikannya wadah eksis dan berteduh di bawah kebesaran organisasinya. Melihat fenomena tersebut, para senior memanfaatkan kegiatan ospek sebagai ajang promosi organisasi-organisasi mereka.

Dengan mengandalkan sejumlah nama-nama tokoh besar yang dulunya sebagai anggota organisasi tersebut, para senior biasanya dengan lanyah menawarkan kepada para mahasiswa baru agar berkenan mengikuti organisasinya. Tak jarang, ada yang sampai menjelek-jelekkan organisasi lain guna meyakinkan bahwa organisasi yang diikutinya adalah yang paling baik.

Secara perlahan, mahasiswa baru mulai kehilangan kedaulatan terhadap dirinya sendiri. Meminjam kutipan dari Jean Jacques Rosseau, “Manusia dilahirkan bebas. Namun, di mana-mana ia terbelenggu.” Seperti itulah realitanya. Banyak mahasiswa baru yang terhasut−karena masih kurang mendalami seluk-beluk arah dan tujuan organisasi−untuk mengikuti organisasi yang terkadang tak sesuai dengan arah dan pola pikirnya.

Sebab, setiap organisasi eksternal mahasiswa pasti memiliki arah dan pola pikir berbeda. Meskipun semua memiliki tujuan yang sama, yakni mewadahi; menjadi sarana bagi jalannya nafas demokrasi dengan kritis, rasional dan emansipatif.

Sejatinya para founding father organisasi-organisasi mahasiswa memiliki tujuan untuk membebaskan mahasiswa dalam berkiprah di bawah jubah demokrasi Indonesia. Tetapi, dengan kurangnya pemahaman mendalam, oraganisasi-oraganisasi ini malah dijadikan sarana untuk politik praktis di kampus.

Dalam hal ini, memang tak bisa kita klaim siapa yang salah dan siapa yang benar. Pada poin kedua ini, perlunya kesadaran dari kedua belah pihak yang merupakan suatu oase yang sungguh menyegarkan.

Pertanyaannya, siapa yang akan memulai? Siapa yang akan mengawali, mengubah, dan menggantikan iklim yang masih kerap−bahkan terus terjadi pada saat ospek mahasiswa baru?

Jika saat pergantian musim, sakit flu, demam dan meriang merupakan penyakit yang sejak purba hingga saat ini masih mengintervensi manusia -yang memang wajar terjadi karena perubahan suhu di luar yang memaksakan tubuh kita untuk beradaptasi.

Maka pergantian iklim pada dunia mahasiswa nampaknya juga segera mendapat angin segar. Pasalnya, bulan-bulan dekat ini adalah masa penerimaan mahasiswa baru. Karena akhir dari Covid-19 hingga detik ini belum mendapati titik terangnya, sudah pasti kegiatan ospek akan dilakukan secara virtual. Pertama kali dalam sejarah kemahasiswaan.

Baca juga: Aktivis Milenial, Corona dan Kampus Abad 21

Ya, begitulah jika akan menghadapi pergantian musim. Perlu penyesuaian yang membuat daya tahan tubuh lemah. Agar tetap kuat, kita juga perlu menjaga imun kita dengan pola hidup teratur.

Dalam konteks dunia mahasiswa, jika pergantian musim ingin benar-benar direalisasikan. Para panitia ospek atau mahasiswa senior harus rela mengubah sedikit tradisi tahunan penyambutan mahasiswa baru. Perlu penyesuaian terhadap teknis dan era baru dalam menyambut mahasiswa baru di tengah masa pandemi yang belum usai.

Kegiatan ospek yang dilaksanakan secara virtual ini nampaknya akan membuat beberapa mahasiswa baru bisa bernafas lega. Setidaknya dalam kegiatan ini tak mungkin ada kekerasan secara fisik dari oknum mahasiswa senior yang bermental penindas tapi merintih jika ditindas. Serta meminimalisir indoktrinasi secara vis a vis terhadap mahasiswa baru yang sebagian masih dangkal dalam memahami organisasi eksternal mahasiswa.

Jadi, apakah kegiatan ospek online ini bisa menjadi penanda berakhirnya musim dingin yang panjang di dunia kampus? Kita tunggu saja, era baru yang serba daring ini, akankah para mahasiswa senior mempertahankan musim dingin dalam menghadapi mahasiswa baru? Meskipun saat ini mereka sedang memutar otak, bagaimana teknis pelaksanaan ospek virtual ini agar berjalan maksimal. [DK]

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! 

Anda juga bismengirimkan naskah Anda tentang topik ini dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
6
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ainu Rizqi

Master

Tim Redaksi Artikula.id | Alumni Pondok Pesantren Darul 'Ulum. Mahasiswa jurusan Akidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals