Hakikat Istighfar Rasulullah SAW

"...dosa dan kesalahan apa yang dilakukan Rasulullah saw hingga beliau harus ber-istighfar?..."


Dalam sebuah hadis riwayat Imam Al-Bukhori ra bahwa baginda Rasul saw bersabda “Sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah (ber-istighfar) pada tiap harinya tujuh puluh kali”, dalam riwayat lain “seratus kali”. Hadis tersebut menggelitik akal kita untuk bertanya, dosa dan kesalahan apa yang dilakukan Rasulullah saw hingga beliau harus ber-istighfar? Dan jika beliau melakukan dosa berarti beliau tidak ma’shum (terjaga) sebagaimana manusia biasa? Berikut uraiannya.

Hadis terebut memiliki dua sisi makna; makna tarbiyah lil ummah (pendidikan untuk ummat) dan makna hakikat pangkat kenabian (haqiqah darajah an-nubuwwah). Adapun sisi pertama, bahwa Rasulullah saw sejatinya mendidik umatnya sekaligus menjadi contoh prototype hamba yang selalu bertaubat. Jadi hadis tersebut mendidik kita, bukan untuk pribadi Rasul saw, jika seorang habibullah yang telah diampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang saja masih ber-istighfar, apatah lagi kita yang hina-dina berselimut dosa.

Seringkali ayat atau hadis, khususnya yang meriwayatkan pribadi Rasul diukur dengan timbangan manusia biasa.  Seperti Rasul saw itu “dhâllan” (tersesat) dalam surat Ad-Dhuha ayat ke tujuh. Siapapun yang hanya berbekal terjemah, kemudian menimbang dengan ukuran manusia biasa yang pendosa, pelupa, penuh kelalaian maka ia tak akan segan mengatakan baginda Rasul saw yang ma’shum itu pernah sesat, na’udzubillah. Seperti juga ayat “ana basyarun mitslukum” (aku basyar seperti kalian), yang dijadikan klaim bebas bahwa kita dan Rasul itu sama-sama manusia biasa, jelas ini keliru. Maka yang digunakan dalam menimbang nash sejenis adalah kacamata hakikat kenabian.

Kedua, sisi hakikat pangkat kenabian (haqiqah darajah an-nubuwwah). Bahwa secara mutlak Rasul saw itu diberi stempel langsung oleh Allah sebagai “uswah hasanah”, atau “khuluqin adzhim”. Dengan stempel itu, seorang uswah hasanah tidak dituntut menjadi manusia baik (sekedar baik), tetapi manusia terbaik. Misal sederhana, seorang pemain bola kampung cukup disebut pandai bermain bola jika bisa berlari dan menendang. Tapi untuk sekelas timnas, tidak cukup pandai, apalagi sekedar bisa, tapi harus ahli bermain bola. Maka sifat yang dianggap baik bagi manusia secara umum bukanlah level seorang nabi, karena sifat nabi adalah yang terbaik, jika hanya baik, maka itu tidak baik bagi nabi.

Dalam konteks istighfar Rasul saw, bahwa istighfar itu adalah password taubat, dan taubat itu memiliki level. Bagi level awam (manusia kebanyakan)  adalah taubat dari maksiat, dari dosa lahir, seperti zina, mencuri, mabuk-mabukan, berbohong, menipu dan sejenisnya. Maksiat jenis ini mustahil dilakukan seorang nabi. Ini yang tidak dipahami oleh sebagian (yang mengaku) ustadz, mengukur taubat Rasul dan manusia biasa se-level.

Taubat seorang wali Allah, adalah taubat dari bergesernya hati dari fokus kepada Allah.  Seorang wali Allah itu ahli dalam menjalankan perintah Allah, dan meninggalkan larangannya, hanya saja terkadang fokus hatinya bisa berkurang karena sisi basyariah yang kuat, bisa pula ada hal-hal yang hadir selain Allah dalam shalat atau ketika berdzikir, yang demikian adalah ke-alpa-an bagi seorang wali, bahkan seorang salik, dan yang demikian membutuhkan taubat, tapi ini adalah level taubat yang lebih tinggi dari taubat pertama (dari maksiat dzahir)

Adapun taubat seorang nabi, justru karena limpahan cahaya (anwar) yang Allah berikan, yang terkadang menjadi penghalang. Pangkat kenabian memiliki otoritas langsung kepada Allah, maka selain Allah bagi nabi, bahkan keistimewaan-keistimewaan yang diberikan Allah pada nabi tidak boleh menggeser dan menghalagi sedikitpun dzat Allah dari pandangan nabi, keterhalangan yang sangat tersembunyi itulah yang memunculkan istighfar Rasulullah saw. Singkatnya, berbagai limpahan keistimewaan justru sebab istighfarnya Rasulullah saw.

Jika kita memahami prinsip level-level di atas, mungkin kita bisa lebih hati-hati dan selamat dari penafsiran yang merendahkan derajat kenabian, demikian.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Mukhrij Sidqy

Dr. Mukhrij Sidqy, MA. adalah kandidat doktor di bidang Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dosen di STIQ Baitul Qur'an, Kelapa Dua, Depok. Ia menjabat sebagai Ketua Ikatan Da'i Muda Indonesia Depok, Wakil Pengasuh PP. Al-Wutsqo Depok, dan Pembina Tahfidz LPTQ Al-Muhajirin BPI Depok.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals