Rabuk Sikil dan Kearifan Lokal Masyarakat Agraris di Lereng Merapi

Kebiasaan berkunjung ke kebun setiap hari yang dianggap oleh masyarakat agraris sebagai rutinitas belaka, ternyata dalam masyarakat Tegalrejo menjadi berbeda.


Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi Penulis

Momentum Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengantarkan kami untuk bermukim di dusun Tegalrejo selama sebulan, sebuah dusun kecil di lereng merapi dengan bentang alam yang asri dan kultur masyarakatnya ramah. Secara administratif Tegalrejo masuk ke dalam wilayah Padukuhan Rejodadi, Kelurahan Bangunkerto, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selama rentang waktu satu bulan, kami anggota KKN 102 UIN Sunan Kalijaga Kelompok 198 banyak belajar dari kehidupan masyarakat. Sejenak, kami mencoba menggeser ego untuk tidak menerapkan ideal dalam kacamata yang kami anut untuk menilai masyarakat Tegalrejo. Semua berjalan layaknya anak kecil yang manut dengan orang tuanya.

Baca juga: Suami atau Orang tua?

Secara simpel kami mengikuti kultur dan keseharian yang mereka jalani, walaupun terkadang ada pertanyaan iseng yang terlontar untuk mempertanyakan kegelisahan kami seputar kultur dan keseharian mereka itu.

Sebagai bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat, tentu kami tidak hanya belajar dan menyerap nilai-nilai positif yang muncul dari interaksi sosial selama berkegiatan di sana. Akan tetapi, kami juga menjalankan program kerja yang telah didiskusikan serta disetujui oleh tokoh masyarakat dan pemangku kepentingan di wilayah itu.

Proses kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat seperti dijelaskan di atas menggambarkan adanya kesetaraan di antara keduanya dalam proses pelaksanaan pengabdian. Hal itu dikarenakan metode terbaru yang menjadi acuan dalam proses pengabdian harus memposisikan masyarakat sebagai pelaku aktif sekaligus mengantisipasi adanya ketergantungan dengan mahasiswa sebagai fasilitator dalam program pengabdian. Hal ini perlu diantisipasi karena mahasiswa memiliki jangka waktu yang pendek untuk melakukan pendampingan.

Di sisi lain kelanjutan dari setiap program yang telah dirancang berada pada tangan masyarakat untuk dilanjutkan dan dikembangkan. Hal ini juga menjadi salah satu pertimbangan agar masyarakat mengetahui dengan baik setiap program yang dijalankan. Termasuk teknis implementasi program, kendala yang sedang dihadapi, dan potensi pengembangan yang mungkin dilakukan.

Pada tahun ini, tema besar yang diambil adalah tentang Covid-19 dan kondisi sosial keagamaan di era pandemi sehingga kegiatan banyak dilakukan di masjid. Pendampingan yang dilakukan meliputi penyiapan protokol kesehatan di masjid, pelatihan pembuatan masker kain, TPA, dan edukasi pemanfaatan lahan di sekitar rumah untuk menanam sayuran. Program ini adalah sumbangsih yang diberikan oleh mahasiswa kepada masyarakat.

Baca juga: Era Baru Pasca-Pandemi: Mengembalikan Manusia Ruang yang Mulai Usang

Selain menjalankan program kerja, kegiatan KKN juga mendorong mahasiswa agar dapat belajar secara langsung menerapkan pengetahuan yang didapat di kampus untuk diimplementasikan ke masyarakat. Mahasiswa juga didorong untuk belajar dari kehidupan masyarakat, mulai dari cara bersosial, membangun gotong royong, dan menyerap kearifan lokal yang ada di sana.

Sebagai daerah yang dianugerahi tanah subur, Tegalrejo menjadi rumah bagi puluhan petani salak. Di sana kami belajar banyak tentang pengetahuan seputar pertanian dan kearifan lokal kepada para petani. Mengingat kultur bertani sudah menjadi sebagai ruh dalam kehidupan mereka. Selama proses belajar tentang pertanian, kami menemukan keunikan dari para petani di lereng merapi, yaitu adanya spirit–ruh–etos kerja rabuk sikil.

Rabuk Sikil sebuah Kearifan Lokal dan Refleksi

Secara harfiah kata “Rabuk Sikil” memiliki arti pupuk kaki. Sebuah istilah baru yang menggelitik untuk dipertanyakan lebih jauh. Setelah digali melalui perbincangan dengan sesepuh desa, gambaran tentangnya semakin jelas. Beliau menuturkan, bahwa ada wejangan dari nenek moyang terdahulu yang menyatakan semakin rajin menyambangi kebun akan berdampak pada suburnya tanah kebun tersebut.

Tidak ada sumber yang pasti, apakah istilah rabuk sikil ini berkembang di daerah lain atau tidak. Tetapi rasanya kami, mahasiswa KKN baru pertama kali mendengar istilah tersebut, tepatnya ketika berinteraksi dengan masyarakat dusun Tegalrejo.

Menurut penuturan Mbah Tris, sesepuh desa yang rumahnya dijadikan posko KKN. Istilah rabuk sikil ini adalah wejangan yang telah turun-temurun dan menjadi sebuah kepercayaan sekaligus spirit masyarakat. Spirit tersebut mendorong masyarakat untuk lebih giat mengunjungi kebun mereka. Walaupun terkadang hanya sekedar melihat-melihat saja, karena tidak setiap hari ada pekerjaan yang perlu dilakukan di kebun tersebut.

Kebiasaan berkunjung ke kebun setiap hari yang dianggap oleh masyarakat agraris pada umumnya sebagai rutinitas belaka, ternyata bagi masyarakat Tegalrejo dimaknai secara berbeda, karena terdapat alasan normatif berupa keyakinan bahwa kebun akan semakin subur. Pada generasi-generasi setelahnya kepercayaan tersebut kemudian terimplementasi menjadi sebuah spirit etos kerja yang menjadikan berkebun sebagai sebuah kultur. Hal ini kemudian berdampak pada munculnya inovasi untuk mencoba berbagai alternatif guna memaksimalkan lahan miliknya, agar kultur berkebun tetap terjaga.

Berkebun sebagai bagian dari laku kehidupan dan kultur menjadikan pola yang diterapkan masyarakat tidak berpatokan pada hasil dan kuantitas komoditas belaka. Proses perawatan juga menjadi aspek penting yang diperhatikan, agar tidak merusak keseimbangan alam serta menjaga kelangsungan alam sebagai bagian dari kehidupan mereka. Pola seperti ini menjadikan hasil panen dapat dijaga kualitasnya dengan tetap memperhatikan kuantitas.

Rutinitas tersebut juga mendorong petani untuk melakukan kontrol secara teratur terhadap tanaman di kebun mereka, sehingga mengasah petani untuk lebih tepat dalam melakukan perawatan, termasuk penggunaan pupuk yang sesuai takaran serta metode pembasmian hama yang dilakukan secara tradisional dengan meminimalkan penggunaan pestisida. Hal ini dapat terjadi karena kontrol yang intens sehingga penanggulangan hama dapat dilakukan sejak dini.

Kultur berkebun seperti ini juga akan melatih rasa untuk memahami berbagai tanda alam yang berhubungan dengan kelangsungan tanaman. Seperti musim, perkembangan cuaca dan sebagainya. Hal ini membuat petani semakin lihai dalam mengontrol tanaman serta memilih jenis tanaman yang tepat. Termasuk memperhatikan siklus tanam dan proses peremajaan tanah yang baik.

Rabuk sikil sebagai sebuah spirit etos kerja masyarakat membuktikan kedekatan masyarakat Tegalrejo dengan alam yang menjadi tempat tinggal sekaligus sumber mata pencaharian mereka. Hal itu membuat proses kehidupan berjalan secara harmonis dengan saling menjaga satu sama lain.

Spirit seperti ini harus terus dipelihara menjadi sebuah kearifan lokal yang nantinya akan mendorong adanya keseimbangan antara alam sebagai makrokosmos dan manusia sebagai mikrokosmos. Ini penting diperhatikan, agar kebun sebagai bagian penopang sumber pangan dapat terus memenuhi kebutuhan manusia, di samping tetap terjaga kelangsungan alamnya sebagai ekosistem dan tempat tinggal manusia. Artinya, secara tidak langsung semangat inil juga bisa berfungsi sebagai penghalang terjadinya penggarapan lahan secara eksploratif yang akan menjadikan alam tidak seimbang dan menimbulkan bencana yang tentu akan merugikan manusia.

Rasa yang tumbuh dan berkembang dari proses pembacaan terhadap tanda-tanda alam oleh petani lewat pengalamannya secara individu dan nilai-nilai yang diwariskan oleh generasi terdahulu dapat menjadi pendukung munculnya metode yang tepat dalam memperlakukan kebun.

Sayangnya hari ini yang dikejar dalam proses pertanian oleh sebagian besar masyarakat adalah kuantitas hasil panen. Tak jarang hal-hal yang merugikan terhadap kelangsungan alam ditabrak dengan semena-mena sehingga berdampak negatif pada kelangsungan alam serta munculnya berbagai bencana. Untuk itu penting bagi kita agar kembali menerapkan kearifan lokal yang telah diajarkan oleh nenek moyang terdahulu, salah satunya rabuk sikil ini. Agar alam dapat merawat kita dengan menghasilkan sumber makanan, menyediakan tempat tinggal serta ekosistem yang mendukung kelangsungan kehidupan manusia.

Lalu, sampai kapan kita akan terus merusak alam demi sikap egois dan keangkuhan? (SJ)
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Mufarrih El Mubarok
Tim Redaksi Artikula.id | Kordinator Departemen Jaringan Sekolah dan Pondok Pesantren Pimpinan Anak Cabang IPNU Panceng Gresik.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals